a little moodbooster

Ini adalah hari yang berat yang harus kami, terutama saya, lalui dengan penuh kepenatan dan air mata. Aku menghabiskan separuh hariku di tempat penenang jiwa.
Dukunganmu yang sedikit itu sangat berarti. Lebih dari itu aku butuh tissue, pundak, pelukan, tepukan bahu, dan penopang agar aku mampu bangkit kembali. Namun tak semua yang kubutuhkan hadir. Nyawaku diujung tanduk, semangatku telah buyar, dan tak mampu lagi ku retas hari. Aku limbung, hancur.

Published with Blogger-droid v1.7.4
Advertisements

Aku Ingin

Aku ingin memiliki lengan yang kuat, agar mampu mengemban kepalamu saat kau ku dekap.
Aku ingin memiliki pundak yang kokoh, agar siap menampung segala beban dan air mata yang kau curahkan
Aku ingin memiliiki telapak tangan yang lebar, agar mampu memegang tanganmu saat kau terseret arus.
Aku ingin memiliki kaki yang kuat, agar mampu juga menopang berat tubuhmu saat kau tak sanggup berdiri di atas dunia.

Ramadhan Sebentar Lagi

Telah datang kepada kalian, bulan agung penuh keberkahan. Bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Marhaban yaa Ramadhan…

 
Temans, guna kelancaran ibadah Ramadhan, saya, dari lubuk hati yang sangat dalam memohon maaf sebesar-besarnya atas segala salah dan khilaf terhadap perkataan, perbuatan, dan prilaku yang menyinggung ataupun tidak disuka. Semoga amal ibadah Ramadhan kita tahun ini mengalami kenaikan yang signifikan. Semoga barokah!

Well, ahad lalu saya menyempatkan diri berziarah (nyekar) ke makam mama dan nyai (nenek). Tak terasa, ini sudah menginjak Ramadhan kedua tanpa beliau. Bila diingat, maka saya masih akan menitikkan air mata mengingat kepergian beliau yang begitu cepat satu tahun yang lalu, dua bulan menjelang Ramadhan. Dan kesedihan beruntun ketika belum genap satu tahun kepergian mama, disusul oleh kepergian sang nenek. Tahun ini berlalu begitu sepi, tidak ada gairah hidup, dan menjadi pangkal segala masalah yang ku hadapi. Begitu aku merindukan mama, doa-doanya, dan amarahnya yang tidak pernah keluar dari mulutnya… aku rindu.. sungguh…

SGM!

Alhamdulillah akhirnya setelah pertimbangan akhir yang matang, dan cukup puas browsing sana sini, beralihlah gadget saya. Samsung Galaxy Mini S-5570 jadi pilihan. Yang mini gini aja dianggap android kelas lowend karena harganya yang dibawah 2 juta, harga tepatnya pekan lalu saya beli 1,450 jt, sudah turun seratus ribu dari bulan lalu. Biarpun dibilang lowend, hp mini ini lumayan mantab. Spek-nya bisa di lihat di sini.

Untuk diketahui, saat membeli samsung galmin ini, fitur dan aplikasinya masih sangat standar. Oleh karena itu perlu “belanja-belanja” dulu di market-android. Belanjanya ada yang gratis ada yang bayar. Tapi karena tampang saya tampang pas-pasan dan gratisan, maka saya hanya perlu berlangganan internet yang unlimited data untuk download-downloaad aplikasi gratisan. Aplikasi gratisan ini jumlahnya sangat banyak, jadi jangan khawatir keluar uang untuk beli aplikasi. Karena android ini cukup menguras benwit, pastikan kamu berlangganan yang unlimited data agar puas meng-upgrade aplikasinya.

Sejauh ini sudah ada enam belas aplikasi yang saya pakai, sebelumnya ada yang sudah saya instal tapi karena gak sreg maka langsung uninstall. Antara lain:
– Facebook for android
– Yahoo Messenger
– Tweetdeck
– Anti Mosquito
– Anti virus
– Foursquare
– iQuran
– Opera mini (untuk browsing)
– Translate (kamus)
– Qibla compass
– Sky Frontier 3D (game)
– Vignette (edit foto)
– Basic player (player musik)
– Labyrinth Lite (game)
– EarthRot (live wallpaper)
– Fireflies (live wallpaper)

Dan galmin-nya belum di-root lhoh, tapi gak lemot. Saya belum paham benar apa kegunaan peng-root-an memori. Tapi katanya forum android Indonesia yang saya jelajahi, salah satu kegunaannya adalah untuk pembagian ram agar aplikasi tetap berjalan lancar dan tidak lemot.

Kekurangan dari galmin ini menurut saya ada pada baterainya yang sangat boros. Dalam sehari saya bisa men-charge dua sampai tiga kali. Padahal kecerahan layar sudah saya turunkan sampai 15 persen. Ada juga yang menyarankan untuk mendownload suatu aplikasi yang bisa mengontrol penggunaan batre, tapi belum saya lakukan.

Sehari di Trans Musi

Bersama tiga konco karibku, kak Anton, mbak Reni, dan mbak Didit, kami mengadakan tour de Palembang menyusurinya dengan naik bis Trans Musi. Ini adalah kali pertamanya saya naik bis Trans Musi, sebelumnya pernah juga tapi bis Trans Jogja beberapa tahun silam. Ekspektasi yang saya siapkan sebelum naik bis ini tidak terlalu muluk-muluk, mungkin di bawah standar bis Trans Jogja yang dulu saya pernah naiki. Tapi ini adalah pengalaman tersendiri yang tentunya berbeda.

Hal pertama yang harus kamu ketahui bahwa kamu itu tinggal di Palembang, bukan di Jepang atau di Belanda yang moda transportasinya baik (menurut novel-novel yang pernah saya baca). Ya, Palembang, yang sebagian warganya masih berproses dalam kesadaran disiplin, baik disiplin dalam antrian, pembayaran, kepatuhan, keindahan, atau kebersihan. Bersabar dan lapang dada adalah jalan utama untuk bahagia di perjalanan dalam bis hasyaaaahh

Tiket bis Trans Musi saat ini Rp.3000,- kemana saja selama tidak keluar halte. Ya samalah kira-kira seperti halnya yang berlaku di bis trans lainnya. Bisnya ber-AC, adeeemm. Kami memulai perjalanan kira-kira pukul 10 pagi dari halte Monpera. Bisnya masih lengang dan kami dapat duduk di kursi dengan bahagia (apasyih). Tujuan kami adalah terminal Alang-alang lebar. Saya cengar-cengir aja pertama kalinya naik bis trans ini, ya, seru dan bahagia (norak!). Beberapa foto saya ambil selama perjalanan.

ini di halte depan PTC mall
Suasana bis Trans Musi di jam lengang
di jam lengang, kondektur pun masih sempat sms-an
difoto dari atas jembatan penyebrangan PTC mall

Monpera ke Alang-Alang Lebar jauhnya kira-kira 12 km. Sesampainya di terminal, kami berganti bus ke arah PS, dan balik kanan karena Alang-Alang lebar adalah perhentian terakhir. Kami melanjutkan perjalanan melalui jalan yang sama seperti ketika pergi, tapi kemudian kami transit di halte Pahlawan dan berganti bis arah Sako, lalu berhenti di halte PTC mall. Di PTC kami ishoma, cuci mata, dan foto-foto. Foto di depan mall akan menyusul diupload.

Dari PTC mall kami bermaksud menuju Palembang Square mall (PS mall). Ini sih hijrah dari mall ke mall namanya hehe. Dari PTC kami naik bis ke arah Plaju, tapi transit di halte Pasar Gubah, menyebrang jalan dan melanjutkan bis ke PS mall sampai di halte depannya. Lalu jalan-jalan, main, shalat ashar, dan mengambil beberapa foto penting. Sebelum jam 5 kami langsung menuju halte lagi agar tidak kehabisan bis. Dari halte PS kami naik bis arah Jakabaring. Saya sendiri transit di halte Masjid Agung lalu menyambung dengan bis KM.12, tapi cuku stop sampai halte IP. Dari sana saya naik jembatan penyebrangan, jalan sedikit lalu naik becak sampai rumah.

Jalan raya besar yang paling dekat dengan rumah saya adalah Jalan Veteran. Sayangnya, jalan ini tidak dilalui oleh bis trans, entah mengapa. Banyak hal unik selama di perjalanan ini. Antara lain kami sepakat bahwa naik bis trans sejauh sampai terminal Alang-Alang Lebar kami tidak merasa lelah, padahal perjalanan yang ditempuh cukup panjang, dibanding dengan naik bis biasa. Menunggu di halte untuk bis yang dituju atau transit tidak terlalu lama, berkisar 15 menit. Ya kalau nunggu sambil melirik ke jam tiap detik tentu terasa lama. Saya juga sepakat, bahwa bis trans seperti ini adalah cikal bakal moda transportasi yang dapat menertibkan angkutan umum lainnya yang kurang mengenal disiplin.

Jujur saja, untuk saat ini saya masih senang naik motor sendiri kalau pergi kemana-kemana, karena keuntungannya yang sangat penting adalah hemat waktu dan masih lebih hemat biaya. Tapi bagaimanapun saya juga bermimpi, seandainya suatu hari nanti harga bahan bakar minyak untuk motor saya secara matematis akan lebih mahal daripada naik transportasi umum, dan atau moda transportasi yang ada di kemudian hari sudah jauh lebih baik, tentu akan ada saatnya saya beralih penuh.

Bagaimana menurutmu?

Cerita Pagi Buta

Pagi ini kasur saya kebakar!
Kira-kira jam 3an dini hari, saya terbangun ketika gak sengaja menggeserkan kaki ke sisi kanan dan berasa panas. Memang seperti biasanya saya menyalakan obat nyamuk listrik mat dan colokan kabelnya kebetulan lebih dekat di ujung kaki. Sesekali gak sengaja berasa panas adalah hal biasa kalau gak sengaja nyerempet ke alat mat-nya itu. Tapi kali ini rasa panasnya lebih luas, dan saya langsung terbangun duduk. Dalam gelap saya berusaha melebarkan pupil sebesar-besarnya, dan terlihatlah warna hitam yang melingkar di bawah bantal. Rupanya obat nyamuk itu tertindih bantal hingga panasnya membuat lumer alat dan membakar sedikit kasur dan bantal saya.

Langsung deh nyabut colokannya, lalu mengambil lampu emergency (karena lampu kamar saya putus), dan segera mengambil air segayung. Yang tertinggal cuma asap. Tapi masak asapnya makin banyak?? ternyata kasur kapuk di bagian dalam sudah ada bara api, kecil sih tapi kan menghanguskan hehehe. Perasaan saya bara sudah padam, saya baring beberapa menit, sambil kadang-kadang menoleh herang ke arah ujung kasur itu koq masih ada asapnya. Ada asap pasti ada api, atau ada api dalam sekam. Nah, pepatah itu masuk akal! Setelah dikorek-korek lagi ternyata memang masih ada bara-bara kecil.

Alhamdulillah gak ada asap lagi. Saya mengikhlaskan bantal kapuk saya yang empuk untuk dilalap bara api hehee, udah di siram air terus jadi lepek banget. Seandainya saya gak kebangun, mungkin bara apinya sudah tembus sampai papan triplek di bawah kasur. Alhamdulillah…