Umra’s Tips and Tricks

Ini sekedar sharing pengalaman ketika umrah, karena sebelum pergi juga saya tanya sana-sini ke orang yang sudah pernah melakukan perjalanan ini.

Pertama, persiapan ruh. Ini berkaitan dengan niat dan tekad. Jika ada rizki dan terbesit ingin berangkat umrah maupun haji, maka harus segera dipertimbangkan untuk disegerakan. Perlu diingat bahwa baik haji maupun umrah adalah ibadah bagi yang ‘mampu’ (fisik maupun finansial), jadi bertawakkallah pada Allah dalam berikhtiar.

Kedua, umrah di Indonesia pada umumnya banyak dijalankan oleh travel agent-travel agent. Nah, jika ingin pergi melalui travel agent, pilihlah agent yang banyak direkomendasikan. Mungkin teman, tetangga, atau saudara kamu yang pernah menggunakan agent tersebut, tanyakan ongkos, fasilitas, waktu, dan pengalamannya bersama agent tersebut. Kalau punya bandingan dengan travel agent lain mungkin lebih baik. Pertimbangan biasanya ada pada biaya, lama perjalanan, program selama perjalanan. Kebetulan travel agent yang kami pilih kemarin programnya 11 hari dan 2x jumat, jadi bisa dapet jumatan 1x di Madinah, dan 1x di Makah. Beberapa jamaah dari daerah lain yang kebetulan saya ajak ngobrol di sana, ada yang ikut program 9 hari, dan malah 17 hari. Travel agent biasanya menerima pendaftaran terakhir maksimal tiga sampai dua minggu sebelum keberangkatan, dikarenakan dalam waktu tersebut digunakan mereka untuk pengurusan visa, ticketing, booking hotel, dll. Jadi putuskan yang matang, dan siapkan segala dokumen yang dibutuhkan.

Ketiga, persiapan fisik. Usahakan minimal 1 minggu sebelum perjalanan kamu rajin berolah raga rutin setiap hari. Ini akan sangat bermanfaat. Umumnya, kita tidak mengenal kondisi geografis di sana. Bisa saja dapat hotel yang dekat, atau hotel yang jauh. Selain itu, halaman masjid sangat luas, jika ingin mencapai shaf shalat di dalam masjid maka cuma jalan kaki yang bisa ditempuh, atau kursi roda bagi yang sakit (tetep aja yang sehat harus mendorong)

Keempat, persiapan bawaan. Melalui travel agent, biasanya akan diberi satu travel bag dan satu tas selempang. Travel bag yang diberi umumnya kapasitas 15 liter. Iya, kecil sih apalagi untuk perjalanan 11 hari. Saya suka bawa satu lagi travel bag jinjing yang lebih kecil atau ransel yang lumayan besar untuk baju tambahan dan makanan kecil dan dibawa ke atas kabin pesawat (tidak masuk bagasi). Karena saya perempuan, maka untuk perempuan saya sarankan bawalah :

  • Pakaian ihram untuk umrah yang praktis dan menutup aurat lengkap (untuk perempuan). Pakaian ihram untuk perempuan syaratnya adalah menutup aurat dan bersih, tidak harus putih, walau kita umumnya lebih nyaman memakai warna putih. Sedangkan laki-laki adalah dua helai kain putih
  • Pakaian sehari-hari yang menutup aurat, yang nyaman dan praktis. Misalnya, saya lebih suka memakai gamis dari pada pakaian dua potong (atasan dan bawahan), mengingat kapasitas travel bag yang terbatas. Bawalah 4-5 potong pakaian termasuk pakaian tidur. Nah, di sana nanti cuci aja sendiri. Jangan lupa bawa sabun cuci dan hanger. Kalu perlu tali plastik rafia untuk tambahan tali jemuran di toilet kamar hotel (wekekekeke). Kalau enggan mencuci, di sana juga ada yang menawarlaaundry tapi gila mahal euy.
  • Empat sampai lima potong jilbab, ciput, dan kaos kaki. Sama saja posisinya dengan pakaian. Bawa yang praktis saja seperti jilbab langsungan. Kemarin saya bawa jilbab langsungan atau jilbab bergo katun bordir padang yang berkaret di kepala dan panjang sampai pergelangan tangan (simpenan punya mama sih, jadi modelnya emak-emak banget hee). Jadi di sana saya tidak memakai mukena tambahan karena jilbab sudah panjang, dan tinggal ditambah manset untuk lengan bawah. Tapi jika memang lebih khusyuk pakai mukena, ya silahakan dibawa mukena atau rukuh yang ringan dan nyaman.
  • Peralatan mandi secukupnya. Krim atau lotion pelembab kulit, dan lip balm/lip gloss pelembab bibir. Ini juga dua benda yang penting, mengingat di sana panas sekali, bibir cepat kering, dan tumit kaki juga suka pecah-pecah.
  • Obat-obatan. Perlu diperhitungkan juga tanggal haid mu, jika kelihatannya dekat dengan tanggal haid dan khawatir kena pada saat di perjalanan, mungkin kamu bisa berkonsultasi dengan dokter kandungan agar diberi obat anti perdarahan dengan dosis tertentu. Karena sangat disayangkan jika sampai terkena haid selama disana, mengingat pendeknya waktu yang kita punya yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk beribadah di masjid. Karena, barang siapa yang shalat di masjid Nabawi maka pahalanya 1000 kali lipat, dan barang siapa yang shalat di masjidil haram maka pahalanya 100.000x lipat.
  • Untuk tas selempang kecil, bawalah Quran dan buku-buku doa, atau buku petunjuk umrah, agar bisa dibaca sepangjang perjalanan di pesawat misalnya.
  • Jika perlu, bawalah kaca mata hitam dan masker kain.

Kelima, persiapan ilmu. Seperti halnya shalat maupun haji, umrah juga punya syarat sah, rukun, dan hal-hal yang membatalkan. Maka sebelum berangkat perlu juga dipelajari apa saja tertib pelaksanaan ibadah umrah. Baca-baca juga mengenai sejarah Madinah dan Makah, serta tempat-tempat mana saja yang mustajab untuk berdoa. Selain itu, sempatkan untuk mencari tahu lokasi masjid dan hotel via google map misalnya. Ini akan membantu mapping selama di sana. Lokasi masjid yang sangat luas dan pintu yang serupa kadang membuat kita bingung. Intinya menghafal jalan masuk. Misal, di masjid Nabawi kami kemarin masuk dari pintu 25, maka hafalkan tulisan dan nama pintunya, sekalian angka arabnya juga. Nah, di masjidil haram agak lebih repot lagi, dikarenakan pintu masuk masjid yang melingkar mengitari masjid, serta pintu masuk laki-laki dan perempuan juga sama, tidak setertib di Nabawi. Kebetulan hotel kami kemarin tepat di belakang hotel Hilton yang menjulang, dan disampingnya terdapat hotel baru (lupa namanya) yang lebih tinggi dan di puncaknya terdapat jam yang sangat besar yang terlihat dari segala penjuru Makah. Jadi jam tersebut menjadi patokan kami jika tersasar.

Perlu diketahui:

  • Di pintu masuk perempuan masjid Nabawi selalu ada pemeriksaan dan penggeledahan oleh asykar, mulai dari tas, kantong kresek yang dibawa, sampai badan. Yang dilarang dibawa: kamera, hp berkamera, botol air minum 1 liter yang lebih dari 1, dan senjata. Oleh karena itu bawalah hp biasa yang tidak berkamera. Tapi bila kondisinya terdesak, misalnya saya gak punya hp lain dan harus stand by ditelpon Abah kalau terjadi sesuatu, maka inisiatifnya adalah menyembunyikan hp tersebut *iiihhhaayyy dipentung asykar*. Triknya, simpan di tempat yang gak bakal atau jarang digeledahnya. Asykar perempuan suka menggeledah pinggang hingga tungkai, jadi simpan di selipan kaos kaki, atau selipkan di dalam ciput dibawah gelung rambut. Ah, mudah-mudahan gak berdosa ngasih intrik macam ini hihihi
  • Bawalah selalu kantong kresek untuk menyimpan alas kaki agar bisa disimpan di dalam tas atau bisa dibawa masuk. Sebaiknya tidak menitipkan sendal pada rak yang sudah ada, karena kalau lagi nasibnya bisa hilang hee… Di beberapa pintu masuk masjidil haram disediakan kantong plastik seperti kantong plastik jika kita membeli buah di super market.
    plastik kresek untuk bungkus alas kaki
  • Bawalah selalu botol kecil ukuran 350-600 ml untuk air minum. Isilah botol dengan air zamzam yang disediakan di galon-galon dekat pintu masuk. Sering-seringlah minum air, karena di kedua kota ini sangat panas. Jemuran saja bisa kering dalam enam jam, apalagi tubuh kita yang isinya 80% air. Kalau agak pusing-pusing sedikit, coba perbanyak minum zamzam, karena sebab pusing bisa jadi dikarenakan dehidrasi yang tidak disadari. Karena udara yang panas, menurut saya lebih enak minum air zamzam yang netral atau tulisan di galonnya not cold, karena perbedaan suhu yang ekstrim untuk penduduk tropis seperti kita bisa membuat runyam tenggorokan jika minum yang dingin. Dikarenakan zamzam dingin dari galon atau keran betul-betul dingin seperti keluar dari kulkas.
    galon air zamzam
  • galon air zamzam
  • Jangan khawatir kepanasan di masjid. Di masjid Nabawi, AC-nya ON terus, malah kadang-kadang membuat kita gampang kentut, pipis, atau ngantuk karena kedinginan hehe. Saran saya pilihlah shaf yang ada ambal/permadaninya jika tidak membawa sajadah, dan tidak duduk dekat tiang (karena sumber AC di bawah tiang). Di masjidil haram juga ada AC-nya, tapi gak semua tempat terasa sedingin di Nabawi, dikarenakan tempatnya yang lebih terbuka, sehingga lebih banyak kipas angin. Oiya, lantai keramik di depan ka’bah juga tidak panas jika siang. Kalau tidak salah terbuat dari marmer atau batu pualam asli yang tidak menyerap panas, sehingga jangan khawatir kaki kepanasan jika mau thawaf di siang hari.
    tuh, orang-orang nyaman aja duduk duduk di depan ka’bah, lantainya gak panas

Subhanallah segala kemudahan-kemudahan sudah Allah berikan melalui berkembangnya teknologi. Kebayang gak kalau jaman dahulu mau sa’i, sudah panas, bukit bebatuan pula. Kalau sekarang, lantainya aja dingin dan berlapis marmer, ruangan ber AC, banyak keran air zamzam di tengah jalur sa’i. Subhanallah, mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang pandai bersyukur. Mudah-mudahan yang baca tulisan ini juga bisa menapakkan kaki ke dua tanah haram, amiiin.

wallahu’alam bishshowab.

Advertisements

Pengalaman Unik Perjalanan Umrah

Balasan yang Allah berikan atas tindak-tanduk manusia itu bisa terlihat cepat maupun lambat. Tapi apa yang terjadi ditanah haram ini bisa dikatakan cepat sekali melihat implikasi yang diberikan Allah. Oleh karena itu sangat penting sekali menjaga tingkah laku, terutama ucapan.

Suatu kali di ruang makan, seorang nenek dalam rombongan menceritakan perihal kehilangan hp dan dompetnya saat sedang shalat. Kala itu tas selempangnya ia lepaskan dan diletakkan di dekat kaki agak belakang. Selesai shalat, ia tidak melihat tasnya berada di posisi awal, tapi berada di dua shaf belakang. Dan ketika dilihat, dompet dan hpnya sudah lenyap. Sang cucu menimpali, “Nah, tu nenek kemarin itu kan ngomong, ‘buat apa aku dibekali hp oleh anakku, memakainya saja aku ndak ngerti’, makanya jadi ilang”, si nenek yang mendengar ucapan cucunya itu cuma termenung sambil tersenyum.

Kalau mulut bisa ditahan, selanjutnya yang harus ditahan adalah hati. Mulut tidak berucap, tapi hati yang berkomentar. Itu sering sekali terjadi pada saya, susah payah untuk tidak banyak bicara, si hati ini berisik sekali ngomentari orang. Setiap terbesit ngomongin orang, segera saja istighfar dan mengalihkan perhatian pada hal lain. it works!

Hal unik lainnya adalah baik di Madinah maupun Makah, orang-orang Turki suka membagi-bagi makanan, baik permen, coklat, kurma. Suatu magrib sebelum kami melaksanakan umrah, rombongan kami berkumpul di satu titik di luar masjid. Ketika kami berkumpul, kami ditawari roti isi telur omlet. Beberapa dari kami dengan senang hati mengambilnya. Ya, ini biasanya cara orang setempat untuk bersedekah. Dan alhamdulillah sangat berguna, karena jam makan malam kami setelah isya, sementara kami masih harus berumrah paling tidak sampai pukul 9.30 malam. Lumayan buat ganjal perut. Biasanya pada bulan haji akan lebih banyak lagi orang-orang yang membagi makanan. Namun tidak hanya makanan, kami juga bertemu orang yang kebetulan membagikan atau bewakaf Quran. Kebetulan saya dapat Quran tafsir juz 28,29,30. Dan terjemahan Indonesia. Menyenangkan ya! Jadi memberi hadiah itu sebetulnya menyenangkan orang lain dan diri sendiri. Oiya, di sini juga ada pengemis, tapi mungkin gak sebanyak di sini. Beberapa orang menyarankan jika ingin bersedekah lebih baik bersedekah ke cleaning service yang bekerja di masjid.


anak orang arab

Baik di Jedah-Madinah-Makah, kami bertemu jamaah dari negara lain yang membawa serta bayinya. Dan mereka lucu-lucuuuuuu banget! menggemaskan! Pipi putih yang bersemu, chubby, bibir merah, rambutnya ikal hitam sampai pirang, hidung mancung, dan matanya yang bulat bening, subhanallah…. bikin gemas! Di shaf wanita di masjid Nabawi, ada dua tempat yang dipisah dengan pembatas dari kayu seperti kerangkeng (gak tau apa istilahnya). Di pembatas tertulis: tidak boleh membawa anak-anak. Jadi bagi jamaah yang membawa anak-anak diletakkan di shaf belakang pembatas. Ketika shalat dimulai, suara-suara orang mulai redam, yang terdengar adalah suara imam via speaker, dan suara tangis anak-anak di shaaf belakang hehehe.

Suatu hari di Madinah, saat sedang menunggu azan zuhur, saya ditegur oleh seorang ibu-ibu di masjid, “Excuse me, can you speak English?”. Dan refleks saya menjawab, “Yes, of course. What can i help?”, sambil ngetok-ngetok kepala : halooo emang bahasa londomu lancar??? hahaha, gak nyadar! Berbekal bahasa Inggris dasar dan bahasa tarzan, saya bisa memahami kesulitan yang ibu itu alami. Ternyata dia kehilangan hp saat di raudhah, mungkin tercecer saat berdesak-desakan. Dia meminta tolong agar saya mengecek hp-nya dengan menelpon. Hpnya masih bernada sambung, tapi tidak diangkat. Lalu ia minta tolong ditelponkan ke suaminya untuk memberi tahu kalau hpnya hilang. Ya saya pikir, selama di dalam masjid, dan ibu itu juga duduk di samping saya, serta dia terlihat sopan dan cerdas, saya tidak merasa curiga. Dia bilang kalau sedari tadi dia mencari orang yang bisa diajak berbahasa inggris (duh, kesian banget pikirku, padahal inggrisku aja ngepas hehee). Dia tanya asal saya, dan dia bilang orang Indonesia memang sangat friendly di antara yang lain, sambil ngusap-usap punggungku (rasanya gimanaaa gitu). Dia berasal dari Britania, berangkat berdua dengan suaminya. Katanya, kalau saya ke Britania, maka saya harus menginap di rumahnya. Dalam hatiku, Britania dimana sih??! wakakakakak

Journey to Haram Land

Kenapa sih dibilang tanah haram? apakah tanahnya gak boleh dipegang? hee.. maksudnya ‘haram’ adalah tempat di kota ini banyak terdapat larangan-larangan, diantaranya dilarang membunuh, orang yang bukan muslim dilarang masuk, dilarang menampakkan aurat di tempat umum, dll.

Rabu 4 Mei 2011

Dijadwalkan penerbangan ke Jakarta pukul 16 sore ternyata delayed sampai jam 21.30, anyeeeeesssss…. capek nunggu. Sampai di Jakarta kita menginap di Hotel Permata Bandara dikarenakan pesawat menuju Jeddah berangkat pukul 8 pagi. Karena urusan check in dan imigrasi memakan waktu maka kami harus tiba di bandara dua jam sebelum berangkat.

Kamis 5 Mei 2011

Pukul 01.00 dini hari setelah selesai mandi, semua travel bag harus dalam kondisi ready di depan kamar hotel karena akan diangkut duluan ke bandara jam 4 pagi. Tidur dengan baju yang akan dipakai besok (dan kemarin hehe). Bangun sebelum subuh, shalat, kemudian sarapan, setelah itu langsung kumpul di lobi hotel. Jam 5.30 kami sudah chao ke bandara. Ternyata cukup 15 menit saja jaraknya. Namanya juga hotel bandara. Saya membawa satu tas selempang kecil dan satu tas koper jinjing, isinya baju dan camilan. Penerbangan dengan Batavia Air take off jam 9. Penerbangan memakan waktu 9 jam 30 menit. Sesampainya di Jeddah pukul 14.30 siang, masih siang rupanya, tapi badan sudah lelah, belum lagi jet lag yang ampooon!

Kami diturunkan di bandara terminal haji. Terminal haji yang renovasinya terhitung baru, nampak cukup apik. Setelah urusan imigrasi selesai, kami berbondong-bondong menuju WC. Saya yang enggan pipis di pesawat menahan kencing 9 jam lebih hihihi. Ternyata penjaga WC bandara ini adalah orang Indonesia. Dia sambil menawarkan penjualan kartu perdana. Tawarannya satu kartu perdana 70 SR atau 200ribu rupiah. Sebetulnya aku tertarik, tapi ku pikir wuiiih mahal amit, nanti ajalah. Terus terang memakai kartu perdana lokal untuk menelpon ke PSTN di Indonesia sangat-sangat murah, tarifnya 1 SR/menit.

Lalu perjalanan di lanjutkan dengan rute Jeddah-Madinah kira-kira 5 jam. Sebelum sepenuhnya keluar Jedah, kami dipertemukan dengan muthawwif atau guide lokal orang Indonesia yang telah menetap di sana.

Alhamdulillah kami tiba di hotel kira-kira pukul 23.00 malam. Belum hilang jet lag yang disambung dengan goncangan bis, masih ketemu pula dengan lift. Goyangan-goyangan di kepala saya belum sirna… hehehe

Jumat 6 Mei 2011

Baik di Madinah maupun Mekah, azan subuh dikumandangkan 2 kali. Azan pertama adalah membangunkan orang dari tidur, yaitu tepat satu jam sebelum azan subuh sebenarnya. Dan ini adalah subuh pertama kami saat tiba di Madinah. Subhanallah… amazing! Dikarenakan hari jumat pula, maka masjid sangat ramai pengunjung. Di Saudi hari liburnya hari Jumat, maka kebanyakan mereka membawa serta keluarga untuk berlibur ke masjid Nabawi maupun Baitullah.


Halaman Masjid Nabawi waktu subuh


di halaman Masjid Nabawi, siang-sore akan terbentang payung-payung yang lebar sehingga tidak kepanasan, dan malam hari akan menguncup lagi

Agenda pagi ini adalah ziarah ke makam Rasul dan Raudhah. Raudhah adalah area antara mimbar dan kamar (sekarang) makam Rasul, rasulullah menyebutnya sebagai tanah yang turun dari surga, salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa, barang siapa berdoa di raudhah maka Allah akan mengabulkan doanya. Karena area raudhah sangat sempit (lebarnya sekitar 6 meter), sedangkan yang ingin masuk ke sana adalah semua orang, maka dari shaf wanita Raudhah hanya dibuka pada jam-jam tertentu, ba’da isya dan ba’da shubuh. Terus harus mengantri pula. Umumnya jamaah dari malaysia dan indonesia digiring oleh petugas (asykar) terakhir sekali. Sebab, jamaah yang berasal dari Turki, Iran, Bangkadesh, India, umumnya kalau berdesak-desakan dan dorong-mendorong sangat kasar, dan jamaah asia tenggara sering terhimpit. Maka sejak 2006 diberlakukan bergiliran. Sebelum pintu menuju raudhah dibuka, asykar akan berkeliling dengan membawa papan nama besar bertuliskan nama negara dengan maksud agar orang-orang negara yang dimaksud bisa berkumpul menjadi satu kelompok-satu kelompok. Tapi beberapa orang masih saja bandel, entah dari negara mana, begitu pintu dibuka langsung berhamburan. Tapi orang Melayu umumnya sabar, dan menunggu setelah diberi penjelasan oleh asykar (yang diterjemahkan oleh cleaning service orang Indonesia), bahwa lebih baik mendahulukan orang-orang Iran, India, Turki dll karena sangat berbahaya berdesakan dengan mereka. Alhamdulillah kami bisa menapakkan kaki ke raudhah dengan selamat walau tetap rebut-rebutan tempat sujud.

Sore harinya mengunjungi Baqi, yaitu pemakaman para sahabat rasul dan orang-orang lain di samping masjid Nabawi. Wanita dilarang naik ke pintu masuk Baqi. Sepulang dari Baqi, tengah malamnya jantung Abah kumat, ini kali kedua kumat setelah yang pertama di bis dari Jedah ke Madinah. Dari sana barulah saya membeli kartu perdana dari ustaz muthawif kami agar kalau Abah perlu sesuatu bisa cepat dihubungi, seharga 100rb per kartu. Nah, bener kan feeling saya kalau kartu perdana di bandara kemarin itu kemahalan..

Sabtu 7 mei 2011

Hari ini ada city tour. Pertama kami ke masjid Quba. Kalau tidak salah sejarahnya masjid ini adalah masjid yang pertama didirikan Nabi setelah sampai hijrah di Madinah. Barang siapa yang shalat dua raka’at di dalamnya maka sama dengan pahala umrah baginya. Tempat kedua yaitu Jabal Uhud. Sembari jalan, muthawwif menceritakan sejarah perang uhud ini, dan saya nyaris nangis! karena ceritanya mirip dengan kejadian yang dialami kader kebanyakan sekarang (langsung pake kaca mata item). Setelah itu lanjut ke kebun kurma. Sebetulnya bukan datang ujug-ujug ke kebunnya beneran, tapi ke toko penjualan kurma yang ada persis di samping kebun kurma. Di sana dijual beragam kurma dan panganan oleh-oleh lainnya. Yang paling penting, kami membeli kurma ajwa atau kurma rasul. Dalam hadisnya, barang siapa memakan tujuh butir kurma setiap pagi maka ia akan terbebas dari sihir dan racun. Destinasi selanjutnya adalah jabal magnit, yaitu melintasi perbukitan dan pegunungan yang terdapat energi magnetnya. Di kanan-kiri jalan terdapat bukit-bukit yang konon dulunya tanah tersebut pernah terendam air lautan sehingga sisa bukit tersebut seperti palung-palung di laut dalam. Betul sekali, ketika kami pergi, mesin bis terasa berat, namun ketika pulang sang sopir tidak menyalakan mesin, cukup giginya dinetralkan dan bis berjalan sangat ngebut. Setelah dari sana kami melanjutkan perjalanan ke percetakan Quran, ini adalah percetakan Quran terbaik di dunia, dengan kualitas kertas dan tinta terbaik. Keluar dari sana kami dihadiahi satu buah Quran, dan di sini wanita juga di larang masuk.


Pasar Kurma

difoto dari bis, di antara jabal magnit

Sabtu malam ini saya berniat kembali lagi ngantri di Raudhah bersama teman saya Lia. Tapi malam ini ternyata agak kacau. Mungkin asykarnya ada kesalahan teknis. Seharusnya barisan melayu di urutan terakhir malah dibawa ke urutan depan, alhasil kami digencet sana-sini. Masya Allah, malam ini bener-bener perjuangan. Dan karena kegencet alhasil barisan kami pecah berhamburan. Mau gak mau ngikut arus atau kelindes. Setelah masuk di antrian bagian dalam, depan-belakang saya dan Lia dihimpit orang-orang berkulit hitam dan berbadan besar. Saya pasrah deh malem itu. Saya berdoa, ya Allah keluarkan kami dari himpitan ini dalam keadaan selamat, jika Engkau izinkan kami bersujud di tanah raudhah maka lapangkanlah jalan kami. Saya dan Lia pasrah karena sesak, kami yang kecil dan orang di depan dan belakang besar-besar. Perlahan-lahan kami maju ke antrian yang sesak. Entah bagaimana, antrian di depan langsung berhamburan dan tempat di depan kami lengang. Ku lihat orang di depan kami tadi sekarang sudah takbir dan sujud. Saya agak bingung sesaat dan kemudian memutar pandangan dari kiri hingga belakang, dan yang ku lihat adalah lengang. Allahu akbar! segera shalat dua rakaat, dan sangat bersyukur bahwa Allah mengabulkan doaku, langsung! Setelah keluar dari raudhah, saya dan Lia berpelukan dan menangis seoalah tidak percaya apa yang terjadi tadi. Malam yang luar biasa!!

Ahad, 8 Mei 2011

ini adalah hari penuh terakhir kami di Madinah. Setelah sarapan pagi dan sedikit pengarahan, saya berniat kembali lagi ke Raudhah. Alhamdulillah pagi ini lumayan teratur. Saya kembali lagi mengulang doa-doa seperti yang kemarin kami lakukan.

Ahad malam saya keluar flek, saya terlambat dua jam memakan obat anti perdarahan. Istighfar terus dan memohon-mohon supaya flek ini bisa berhenti. Dosis saya naikkan jadi dua kali, tapi tetap ada sampai keesokan harinya. Jadi agak bete’ dan stres!

Senin, 9 Mei 2011

Ba’da zuhur siang ini kami direncanakan akan segera berangkat menuju Mekah dan langsung berumrah. Saya yang dalam keadaan tidak suci ini harus tetap ikut mendampingi abah, karena di Madinah saja jantungnya hampir setiap hari sakit. Saya hanya khawatir beliau kelelahan. Kira-kira bus melaju pukul 2 siang dari hotel menuju miqat kami di masjid Bir Ali sekitar 20 menit, shalat dua rakaat di sana dan kemudian melafazkan niat, lalu menuju Makah dengan perjalanan sekitar 5 jam. Dan kami tiba pukul 8 malam kurang. Begitu sampai di hotel di Makah, kami langsung makan malam, lalu membersihkan diri (ke toilet, dll), dan tepat pukul 8.20 azan isya berkumandang. Setelah isya langsung menuju tengah baitullah untuk bertawaf, lalu sa’i di antara bukit shafa dan marwah. Pada putaran ke dua sa’i, jantung abah kumat lagi, lalu diberi obat dan saya minta kepada ustaznya agar menyewakan kursi roda sekaligus pendorongnya. Alhamdulillah umrah abah hari itu bisa selesai.

Selasa, 10 Mei 2011

Pagi ini tidak ada agenda khusus selain dhuha di masjid, dan saya masih tidak dapat melakukan ibadah. Kepada Abah saya juga menyarankan untuk istirahat dulu. Jadwal sore ini adalah ziarah ke daerah sekitar masjidil haram. Di samping masjid terdapat Jabal Qubis, dimana gunung ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga di atasnya terdapat penginapan berkelas hotel yang sangat mewah. Di sanalah tempat tinggal para imam masjid, dan tempat menginap raja, keluarga dan tamu khusus kerajaan. Lalu kami ke tempat lahir Nabi yang sekarang tempatnya dibangun sebuah perpustakaan atau maktab. Di tempat ini tidak ada keutamaan apapun untuk melakukna ibadah apapun, sehingga orang yang berdoa di depan pintu atau meraba-raba pintu sering dimarahi oleh asykar yang lewat. Selanjutnya kami melewati tempat sa’i yang sudah diperlebar dan dibangun dua tingkat. Lalu melihat renovasi perluasan masjid yang sedang dibangun, yang pastinya akan lebih canggih.


Tempat sa’i, sisa bukit Shafa yang dipagari pembatas kaca. Difoto dari lantai dua

tempat sa’i dari bagian luar


Kiri: Jabal Qubis, kanan: Masjidil Haram. Bersama beberapa rombongan

Tempat Nabi dilahirkan, sekarang dibangunkan perpustakaan

Rabu 11 Mei 2011

City tour hari ini dimulai pukul 14.30 siang. Setelah paginya saya berdiskusi dengan dokter dan temannya ia sms, maka flek saya dinyatakan istihadhah. Dan saya segera bersiap membersihkan diri untuk sore ini agar bisa ikut mengambil miqat untuk umrah. Perjalanan sore ini kami mulai ke Hudaibiyah, terdapat peternakan onta di sana. Tak ada bedanya dengan peternakan sapi, yang pasti di sini bau juga heee.. Setelah itu menuju masjid Hudaibiyah untuk menunaikan shalat ashar dan mengambil miqat untuk umrah berikutnya bagi yang kuat. Selanjutnya mengunjungi museum ka’bah, yang didalamnya terdapat barang-barang lama ka’bah yang direnovasi, prototipe pintu ka’bah, sumur zam-zam, foto-foto dll. Lalu kembali ke hotel sebelum magrib, magrib berjama’ah di baitullah, dan melaksanakan umrah.

Kamis 12 Mei 2011

Pagi ini berziarah lagi di sekitar Makah mengunjungi Jabal Tsur, Jabal Nur, Jabal Rahmah, Arafah, Mina, Muzdalifah, dan terakhir ke Masjid Ji’ronah untuk mengambil miqat bagi yang akan berumrah lagi. Dan hari ini saya tidak mengambil miqat lagi.

Jumat 13 Mei 2011

Hari ini tidak ada agenda khusus, jadi fokus untuk ibadah masing-masing. Pagi ini saya dan abah jalan-jalan menyusuri baitullah dari lantai 2. Siang hari setelah jumatan, abah kehilangan tas kecilnya di WC, ada pencuri! tepatnya hilang saat mengambil air wudhu karena tas diletakkan di tempat semacam dashboard di atas pipa air. Di dalamnya terdapat buku-buku doa dan wirid, sejumlah uang, dan obat sakit jantungnya kalau kumat. Yang terakhir ini buat aku agak cemas. Lalu segera ke apotik, tapi tidak ada yang bentuknya tablet untuk dihisap. Segera sms kakak agar dikonsultasikan baiknya gimana. Untungnya obat makan sehari-hari ku letakkan di tas jinjing.

Sabtu 14 Mei 2011

Ba’da subuh pagi ini kami melakukan tawaf wada’, dikarenakan pagi setelah sarapan pukul 7 akann langsung bertolak ke Jeddah. Perjalanan Makah Jedah sekitar 3 jam-an. Lalu kami singgah di Balad Cornish, semacam pasar oleh-oleh. Kebanyakan yang dibeli di sini adalah makanan, seperti kurma muda, coklat, kurma coklat, dll.


Balad Corniche

Pukul 11 siang kami menuju tepi laut merah di dekat Masjid Fatimah atau masjid terapung. Masjid ini dibangun oleh seorang janda bernama Fatimah yang sangat kaya raya, dan sekarang beliau sudah meninggal. Kami makan siang di tepi pantai itu dengan angin yang cukup kencang hehehe. Seetelah itu langsung menuju ke bandara terminal haji lagi untuk segera check in. Di Jedah, penerbangan internasional mensyaratkan untuk check in dan mengurus imigrasi 4 jam sebelum keberangkatan.

Pesawat take off pukul 4 sore, dan tiba di Jakarta pukul 5.30 pagi. Setelah selesai mengurus imigrasi dan bagasi, serta check in lagi untuk berangkat ke Palembang, kemudian kami beristirahat di ruang tunggu hingga take off lagi jam 11.25.

Alhamdulillah…. semua sampai selamat!

Rumah Allah

Alhamdulillah mendapat kesempatan bersujud di dua tanah haram (perjalanan 5-15 Mei 2011). Shalat langsung menghadap ka’bah, kiblat umat islam sedunia di Baitullah, bersujud dan menghambur doa di tanah raudhah, tanah yang turun dari surga di antara mimbar dan makam Rasul. Tidak ada kata yang pantas terucap selain syukur yang sebesar-besarnya.

Very big thanks God!