Si Ikal di Palembang

Ini kali pertamanya saya ketemu Andrea Hirata, penulis novel best seller Laskar Pelangi. Seperti yang saya lihat di cover belakang novelnya, sosok Andrea Hirata memang tidak tinggi jangkung, rambutnya jelas keriting, dan logat melayu-Bangka Belitungnya yang khas. Itulah kesan pertama saya saat bertemu.

Di Gramedia Palembang Square siang itu, sabtu 26 Maret 2011, sekitar jam 2 siang, acara dimulai dengan penampilan dancer. Hmm.. ini kali pertamanya acara Meet and Greet yang saya hadiri pake perform dancer segala hahaha. Bukan hanya saya saja yang kaget, tapi ketiga teman rombongan WongKito yang lain juga sudah tentu kaget, tentu sambil cengengesan aja.

Kata-kata Andrea yang mengalun merdu itu memang mampu menyihirku, menerbangkan sebagian memoriku pada seseorang. Misalnya saja saya kutip, “Cinta pertama itu memang jarang survive, tapi cinta pertama itu tak terlupakan”. Buseet… kata-kata ringan sarat makna. Andrea menceritakan bahwa novel Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas merupakan Novel yang paling lama risetnya. Dia mengatakan bahwa dalam menulis novel, Andrea menggunakan95% waktu untuk riset dan 5 % waktu untuk menuliskannya. Karena menurutnya, tulisan dari hasil riset sebenarnya akan membuat tulisan itu menjadi hidup. Ketika riset selesai dilaksanakan, pola atau disain tulisan, disain cerita juga sudah jelas tergambar dalam otak, sehingga menulis kemudian mengalir tanpa henti hingga akhir. Meet and greet yang mengesankan.

Next photo session with WongKitonet and also GoodReads…

Agus - Nike - Andrea Hirata - SUzan - Indah - Ira

 

Andrea Hirata - Ira - Indah

 

Dan hari senin masuk di halaman depan koran Sriwijaya Post (28/3) hehehe

Masuk koran!

Advertisements

Jalan-Jalan

Awal Januari 2011 lalu adalah kali pertamanya saya ke Pagaralam, Sumatera Selatan, yang terletak di kaki Gunung Dempo. Letak kotanya pun sudah berada di dataran tinggi, masuk daerah perbukitan bukit barisan. Waktu itu saya ketemu mbak Cici untuk pertama kalinya, seorang blogger asal Pagaralam dan sempat merantau ke Jogja dan Jakarta. Dia juga sharing tentang jadwal pernikahannya yang akan berlangsung 26 Februari 2011 dan saya wajib datang.

Namun semua yang terjadi tak sesuai rencana. Oleh karena sesuatu hal, di tanggal yang sama kakak saya juga akan berangkat, sehingga hukumnya wajib bagi saya berada di rumah (apasyeeehh). Jadi keberangkatan saya ke Pagaralam dimajukan. Hari Senin 21 Februari 2011 saya bertolak dari rumah. Palembang-Pagaralam bisa ditempuh kira-kira 8 jam. Dari Palembang saya menggunakan jasa travel Telaga Biru, ongkosnya Rp.80.000,- saja. Dan saya pulang hari kamis pagi dari Pagaralam.

Selama empat hari PP tersebut saya manfaatkan untuk istirahat mengenal kebiasaan-kebiasaan warga setempat pada acara pernikahan. Dari logat bahasa mereka sepintas terdengar seperti logat orang Minang. Kekeluargaan dan tolong menolong di sini masih sangat kental. Saudara-saudara yang berada di dusun lain jauh-jauh hari sudah datang untuk membantu persiapan. Mulai dari membuat kue, menyiangi ikan, merebus ayam, dll. Terus terang saja, kebiasaan seperti ini saat saya masih SD juga sangat kental di keluarga Mama. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkurangnya waktu luang keluarga dan kerabat dikarenakan kesibukan kerja dsb, maka kebiasaan-kebiasaan itu mulai berkurang. Misalnya, masak makanan untuk hidangan tamu dulu dikerjakan sendiri oleh keluarga, sekarang sudah tinggal pesan saja di catering; kue yang biasa dibuat sendiri, sekarang sebagian sudah bisa dipesan dengan pembuat kue khusus. Tetapi, sejauh ini tidak mengurangi nilai-nilai kekeluargaan.

Rencana untuk hunting foto selama di Pagaralam juga tidak bisa dilakukan, karena pengantin wanita harus direm untuk berkendara hehehe. Beberapa foto saya ambil di sekitar TKP dan di perjalanan.

Travel dan tempat istirahat di Cambai, Prabumulih

Jalan di depan rumah mbak Cici

Sore senja di depan mata

Salah satu sudut kota Pagaralam

Anyway, barokallah untuk Elsi Santi aka. Cicisilent dan Iman Sulaiman atas pernikahannya, semoga barokah dan dikaruniai banyak anak dan banyak rizki… amiiin… hehehe

Bodoh!

Pernah merasa bodoh setelah berbuat baik? atau, pernah merasa bodoh setelah begitu carenya memperhatikan seseorang? mungkin, Pernah merasa bodoh setelah melewati fase pengorbanan malah jadi makan hati?

ya, mungkin kamu kurang ikhlas…

Kembali, saya menulis karena bahasa verbal saya yang kurang baik, tidak lebih baik dari sepatu balet warna krem punya saya yang dekil dipakai tiap hari.

Suatu hari seorang sahabat saya sedang tertimpa masalah. Masalahnya agak rumit dan complicated. Tidak bisa dijelaskan sehebat tambalan single veneer composite satu kali kunjungan (apasiyh??!!). Ya, kira-kira permasalahannya dia dengan seseorang yang berasal dari daerah Jawa Barat dan sekitarnya (Bogor-Jkt). Masalah dengan orang ini sudah berulang kali. Hingga saat klimaks penyelesaian masalah saya genggam tangannya dan berkata mendesak, “Tolong berjanjilah pada saya, tolong berjanjilah jangan keluar Palembang sebelum dirimu menikah!”, ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Alhamdulillah… perasaanku lega, kawan!

Dan hari ini, sekarang ini, dia sudah menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Hmm.. iya sih, untuk kuliah, menuntut ilmu, mungkin sambil ngajar juga seperti pekerjaan dia sebelumnya. Pergi tanpa pamit! Tanpa kabar! Dan ingkar janji! (menurut saya). Maka dari itu saya agak kesal, marah, sampai rasanya bising mendengar namanya. Lalu, sekonyong-konyong perasaan ‘bodoh’ itu menyergap!

Siapa sih kamu?! Sudah berbuat apa kamu ini?! Sudah berkorban apa?! Sudah se-care apa?! Sudah sesayang apa sama sahabat?! Seperti apa bantuan yang kamu berikan?! Kamu itu sudah kenal betul belum dengannya?!

Pertanyaan itu terlemparkan bertubi-tubi ke diriku… Membuat sadar, perasaan merasa penting ini terbanting, mental, terhempas, pecah!

iya, ternyata aku bukan siapa-siapa. Ternyata gak ada yang ku perbuat. Ternyata aku gak berkorban apapun. Ternyata aku masih belum bisa care. Ternyata aku gak bisa sayang dengannya dalam kondisi apapun. Ternyata aku belum memberikan sedikit bantuan apapun. Ternyata aku belum kenal betul dengan dirimu kecuali hanya namamu dan alamat rumahmu.

Dan aku benar-benar bodoh sudah sedikit banyak mengatakannya “sang merpati ingkar janji“. Sementara aku tak berbuat apapun. Maafkan aku kawan…

Dan aku merasa bodoh jika harus menambah sahabat lagi, sementara kawan yang ada pun, belum mampu ku berikan persahabatan terikhlas, terbaik.

Aku Bodoh!

 

I’m Sorry to Say

Hari kamis kemarin, seorang petugas implementator saya diberangkatkan ke Bangka. Kabarnya, tim di Bangka kerjanya amburadul dan di luar target (enak kalo nyampe target). Alhasil tim lama sudah dipecat, dan diganti tim baru. Sayangnya, harus dimulai dari awal. Sebetulnya bukan tanggung jawab tim Sumsel untuk ngurus kerjaan di Bangka, tapi karena diminta, ya hayuk deh kan ada insentif harian juga buat petugas. Awalnya saya yang direkomendasikan untuk ke sana (hati sudah riang gembira tapi..) tapi karena ketua tim cinta mati sama saya jadilah beliau gak rela gadis bungsu yang manis ini tugas ke pulau antah berantah itu hehehe (ditimpuk iPad).

Continue reading

January

January is a wonderful month.

Bulan Januari buat saya sangat berarti. Paling utama adalah karena di bulan ini saya dilahirkan (hyiiiiihaaaaa), merupakan permulaan awal tahun, dan beberapa orang yang saya taksiri (dulu) juga kebanyakan lahir di bulan Januari hihihihi (ditimpuk barbel).

Anyway, saya mau cerita sedikit. Bulan lalu saat ngejob bareng, dan suatu hari bareng seorang driver sekitar jam 3 an sore, kami mampir ke warung yang dulu sangat saya gandrungi tekwannya. Harganya yang lumayan murah, tempat yang strategis (tempat mahasiswa diturunkan akhir dari bis Indralaya), begitu turun bis langsung disambut uap tekwan, model, mie celor, dan es campur. Tempatnya ada di samping BBC (toko buku Anggrek, dulu). Jadi karena kenangan saya akan tempat tersebut, saya mengajak seorang petugas dan driver mampir makan ke sana. Ternyata tekwan habis, yang ada tinggal mie celor dan model. Saya pesan model, sedangkan driver ini gak suka makanan sebangsa tekwan, model, pempek. Lalu saya tawari untuk memesan mie celor. Mie celor di sini agak sedikit aneh, menurut dia (si driver) rasanya nggak enak, dan dia cuma memakan setengah porsi. Masa sih gak enak? batinku. Awalnya, saya mampir ke warung ini untuk menekan pengeluaran di samping saya gak bawa cash lagi untuk konsumsi kami bertiga (karena kaget siang tadi saya harus membayar makanan kami bertiga seratus lima puluh ribu!), saya pikir saya yang pegang uang, saya gak mau ditentir driver karena sebelumnya makan siang kami, beliaulah yang menunjuk tempat makan. Tapi ternyata, lain lidah lain selera. Driver ini ternyata sama sekali belum pernah mencicipi makanan yang namanya Mie Celor!! (baru pindah ke palembang 3 tahun).

Alhasil, dibeberapa kali kesempatan berikutnya saat ada pengawas dari pusat, saya menawarkan untuk makan mie celor di tempat favorit saya di simpang 26 Ilir rumah susun (Mie Celor HM.Syafei Z 26 Ilir), driver selalu menawari alternatif lain. Saya bilang, kalau mie celor yang di sini beda sama yang di warung tempo hari. Tapi tetap kebaca lagak beliau (driver) yang gak mau kesana.

Dan ketika kemarin saya sendiri yang menjemput pengawas pusat, dan pengawas pusat sendiri yang bilang kalau pengen nyobain mie celor itu. Berceritalah saya tentang mie celor yang kuahnya pake udang dan agak kental dll, dan tempat ini juga jadi langganan gubernur sebelumnya. Dan yang wonderful nya buat saya, bahwa saya melihat piring si ibu ini (pengawas pusat) bersih, tinggal bersisa sedikit saja kuah. Hehehe, berarti mie celor ini sesuai dengan seleranya, dan sudah seharusnya juga mathuk dengan lidah driver kami sebelumnya. Sayang sekali ya beliau belum sempat mencicipinya.

Kesalahan saya di sini adalah, menciptakan kesan pertama yang tidak baik pada driver terhadap mie celor warung yang memang jelas kualitasnya beda dengan mie celor 26 ilir. Jadi benang merahnya adalah penting mengenai kesan yang baik in first sight untuk orang yang sama sekali belum pernah mencoba.

Mari makan mie celor!!

Mie Celor

gambar hasil gugling aja..

Dua Kali

Hadoooohhh… ini wordpress kenapa yak?? Sudah dua kali ini kejadian, tulisan di postinganku gak ada, kosong, judulnya doang yang ada. Padahal sudah ngetik panjang lebar….. HADOOOOOOOHH, memang ide gak bisa direply! Nyesel ngetik di dashboard langsung, mestinya ngetik di office dulu.. oh no..! *menyesal*