Rumah Allah

at Baitullah, Makkatul Mukarramah

Alhamdulillah mendapat kesempatan bersujud di dua tanah haram (perjalanan 5-15 Mei 2011). Shalat langsung menghadap ka’bah, kiblat umat islam sedunia di Baitullah, bersujud dan menghambur doa di tanah raudhah, tanah yang turun dari surga di antara mimbar dan makam Rasul. Tidak ada kata yang pantas terucap selain syukur yang sebesar-besarnya.

Big thanks God!

Mencintai Sejantan ‘Ali

Mencintai Sejantan ‘Ali

-Salim A. Fillah-

kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
-M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!


Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!


‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.


”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.


Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.


Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.

’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.


Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.


”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.

Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita.

kupipes dari Blognya Salim

Hijabnya Lelaki

Tulisan asli ini saya copas dari blog Agung

(sebenernya pengen judulnya Jilbab lelaki, Tapi ta pa lah)

Bila perempuan memiliki jilbab sebagai hijabnya untuk menghindari fitnah, maka hijabnya lelaki adalah…
Matanya ketika ia ghadhal bashar, menundukkan pandangan.
Lisannya, ketika ia berkata seperlunya pada lawan jenis tanpa basa-basi, tanpa tebar pesona.
Hijab pada hati dan pikirannya, ketika cintanya hanya pada Allah, rasul, dan orang tua, bukan gema nama mahluk perempuan dalam hatinya dan panjang angan pada pikirannya.

Hijab lelaki adalah hapenya, ketika isi sms nya hanya untuk yang perlu, bukan menanyakan kabar, sudah makan apa belum, sudah sholat apa belum, apalagi berlagak membangunkan QL (qiyamulail, sholat malam) padahal setelah itu tidur lagi.
hijab lelaki adalah yahoo messenger nya, ketika tanpa merasa telah ber-khalwat (berduaan) dengan selain-Nya. Pembicaraan pribadi yang tanpa jelas ujungnya, mempermainkan hati dan pikiran, terutama iman.

Jilbabnya lelaki tidak perlu panjang, lebar atau berbentuk kaos atau jain, atau yang terbelah bagian pingirnya. jilbab lelaki cukuplah matanya berpaling dari yang bukan haknya, lisannya yang tak berucap sia-sia, hati dan pikirannya yang selalu berkhidmat pada Allah.
Uniknya, jilbab ini dapat juga dipakai oleh kaum hawa, jadi jangan takut untuk mencobanya.

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sunggguh, Allah maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”
-QS. An-Nur:30-

Ya Allah jangan kau sesatkan aku setelah Engkau tunjukkan cahaya iman padaku..
Ya Allah jangan kau sesatkan aku setelah engkau hamparkan jalan hidayah padaku..
Jagalah imanku, karena ialah benteng bagi dunia dan timbangan bagi akhiratku..
Permudahlah urusan dunia dan akhiratku, karena hanya engkau yang tahu siapa yang layak berada di jannah-Mu..
Kumohon semoga itu aku.
Allahuma amin!

-wahai fitnah, hare gene engkau makin gencar aja-

Hikmah Kemenangan yang Tertunda

ehm… Bismillahirrohmanirrohim..

Lama sudah tidak meng-update blog di wp ini, seringnya sih di multiply. Iseng-iseng aja blog walking ke blognya bikpici alias punyanya yuk nitz, ternyata eh ternyata kita sama-sama datang ya ke taujih ahad kemarin, dasar aja ga ketemuan, saking bejibunnya ikhwah di sana.

Dapet tempat duduk VIP hehe paling depan sebelum barisan ikhwan yang lesehan, membuat mata yang mengantuk jadi segar, badan yang capek jadi semangat, dan hilang semua susah-payah hari itu. Dialah yang pertama memberi pengantar, ust. Yuswar, membakar semangat semua hadirin dengan takbir. Kemudian dilanjutkan taujih dari ust. Bukhori Yusuf dan ust. Mustafa Kamal. Mereka yang notabene akan diusung dalam daftar pilih nomer satu pada pemilihan wakil rakyat di DPR 2009 mendatang, insya Allah aminn.

Berikut 8 hikmah kemenangan yang tertunda, ringkasan taujih ust. Bukhori Yusuf yang tidak sempat saya catat, malah copas dari blognya bikpici hehe, insya Allah bermanfaat untuk membangkitkan kembali ruh kita menyongsong pilgub September 2008 dan pesta demokrasi pemilu 2009.

8 Point Hikmah dari Kemenangan yang Tertunda :

1. Kemengangan yang tertunda itu ternyata dapat membangun umatnya menjadi lebih dewasa dan matang.

2. Agar kita dipinta untuk lebih maksimal berkorban. berkorban yang hakiki adalah pengorbanan dalam berdakwah, sampai benar-benar tidak ada lagi yang bisa diusahakan dari diri kita dan sekeliling)

3. Agar memiliki pengalaman yang cukup dalam menghadapi perjalanan hidup

4. Boleh jadi lingkungan yang belum mendukung, hikmahnya? ) lingkungan terdekat adalah target utama, keluarga dan tetangga ) sudahkah mereka merasakan dakwah yang kalian usung begitu manis??

5. Agar meningkatnya hubungan dengan Allah

6. Bisa jadi Kurang Murni dalam berjuang. intinya kudu ikhlas (ikhlas = memberi tanpa balasan, baik dalam kondisi menyenangkan maupun tidak menyenangkan)

7. Allah ingin memberangus kemaksiatan

8. Diberikan kesempatan luas untuk terus memberikan kiat-kita memberangus kemaksiatan agar tetap bersih, peduli dan profesional )

CAMKAN!!! janji Allah itu Pasti.. *buka QS Muhammad…

ingatkah, pada saat perang uhud, dimana perang yang tenar dengan sebutan masa kekalahan pasukan Muslim. Kholid bin walid berhasil mengepung dan melengahkan pasukan muslim, peristiwa diantara antara jabal uhud dan jabal rumat (jabal ainain). tapi kata “kalah” itu tak pernah tersemat dalam di hati para pengikut Rosul saat itu. karena dakwah yang dikibarkan oleh Rosulullah di Madinah telah membentuk peradaban Islam yang mengakar, jadi kekalahan di perang uhud itu bukanlah fase dimana perjuangan terhenti, tapi peristiwa kekalahan yang bersejarah itu menjadi pelajaran besar bagi setiap pengusung dakwah. dari situ kita dpt banyak pelajaran, bahwasanya musuh membidik kita dari segala arah, satu langkah saja kita lengah, bisa fatal akibatnya. paling tidak ada lima proses pilkada yang mempunyai celah besar untuk dicurangi. (pemilih? (DPT) , saat memilih, pengawalan suara, pemutusan, final keputusan KPU)

yang jelas, Allah ingin kita lebih dekat, dan terus melakukan konsolidasi ruhiyah. karena Allah tau mana yang terbaik buat umatnya, bisa jadi, kemenangan tertunda ini sesungguhnya dibalik itu Allah sedang menyiapkan kemenangan yang lebih besar lagi. amiinn.. )

Maka Kaum Lain Juga Mengalami Kesedihan dan keterpurukan Lebih Dari Ini, karena Mereka Tidak Memiliki Sandaran Yang Kokoh, Sedangkan kita punya Allah

Harapan itu selalu ada dan yang pasti cita-cita besar itu akan tetap terpatri..