Jodoh dari Surga

Judul : Jodoh dari Surga
Penulis : Iva Afianty
Penerbit : Qultum media
136 halaman

Berawal dari seorang teman yang menitipkan dua kardus buku-buku dari kosnya, maka wajib hukumnya untuk memanfaatkan waktu dengan membaca buku-buku tersebut, terlebih lagi buku-buku itu girly banget hehehe *dipentung. Ketemulah sebuah buku yang dari dulu banget terbit pengen dibeli, tapi belum kesampaian.

Ya, Jodoh dari Surga karangan Iva Afianty ini berupa novel, padahal sebelumnya ku kira ini buku semacam chicken soup, or something like buku-buku pengayaan jiwa. Ternyata novel, jelas kok di kiri atasnya tertulis, doh!

Berceritalah seorang Nia, mantan pramugari yang sekarang jilbaban, muda, enerjik, ceria, manja, sekaligus sensitif. Dijodohkan oleh ortunya dengan pemuda bertampang Michael Bubble bernama Rissetyo, yang cerdas, kaya, eksekutif muda, dan menyimpan banyak rahasia dalam diamnya. Mereka menikah, Ris berusaha dengan senang mencintai dan berkomunikasi aktif dengan Nia, tapi Nia berontak. Hingga suatu hari Nia menyadari kalau dia telah jatuh cintaall out dengan Ris. Masalah tidak selesai sampai di situ. Masing-masing mereka mempunyai kehidupan masa lalu yang rumit tentang cinta. Pernikahan mereka penuh gonjang ganjing dan orang ketiga. Namun perjalanan cinta ini adalah pelajaran berharga. Saling ikhlas dan menerima orang yang dicintai adalah hal penting. Dan menjaga jarak dengan masa lalu untuk masa depan lebih indah adalah hal yang patut diperjuangkan dalam rumah tangga.

Novel ini membuat saya tersenyum, tertawa, dan tersentuh. Betapa Tuhan tidak pernah salah mendatangkan jodoh. Tidak ada yang salah, dan tidak pernah terlambat. Semua sangat seimbang. Tinggal lagi kita yang menjalaninya dengan keikhlasan dan kesyukuran.

NB: Buat kak Anton yang minta diresensikan, dan yuk Rahmi calon pendamping hidupnya, semoga Allah melimpahkan barokah dan kebahagiaan atas kalian

Emang Jakarte Punye Siape?

Judul : Emang Jakarte Punye Siape? Behind The Scene Pilkadasiana
Penulis : Dedi Supriadi, dkk.
Penerbit : Enno Media

Buku EJPS (yang saya pinjam dari seorang sahabat) ini adalah buku keroyokan yang ditulis oleh kader PKS wilayah DKI Jakarta yang isinya mengisahkan tentang suka duka pengalaman selama masa Pilkada di DKI Jakarta. Masih inget (mungkin), Pilkada yang dengan dua kubu calon yang saat kampanye maupun itung-itungan suaranya sangat bersaing alot. Saking alotnya, berbagai usaha jor-joran dilakukan, penyebaran isu, fitnah, menggelembungkan DPT (Daftar Pemilih Tetap), dan lain-lain. Kadang, ketua KPPS tempat pemilihan yang sudah dilirik-lirik timses, atau bahkan mereka para pejabat setempat yang sudah dipesankan duluan, bersikap tidak adil saat berlangsungnya pemilihan. Ada juga yang ketua KPPSnya (maaf) bodoh, yang mungkin bisa saja dipilih secara acakadul agar suara-suara di daerahnya dianggap tidak sah. Nah, diantaranya buku ini menceritakan beberapa pengalaman kader yang terlibat langsung, mulai dari yang lucu sampai yang tegang, yang membahagiakan sampai yang mengelap air mata. Berikut saya tuliskan salah satu kisahnya.

Continue reading

Review Novel Bumi Cinta

Judul : Bumi Cinta

Penulis : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit : Author Publishing, 2010

Harga : Rp 46.500,- (ini harga pameran, rata-rata Rp 50.000,-)

Di sela-sela repotnya menelaan beberapa jurnal untuk pendukung skripsi, saya sempatkan setiap hari membaca beberapa bab novel Kang Abik *edeww*. Sejak dibelinya buku ini di KG-Fair (29 April 2010), baru hari ini bisa kelar, hehehe.

Berkisah seorang Muhammad Ayyas, mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di India, dan mempunyai tugas riset S2 di Rusia. Jadi novel kali ini mengambil setting di Moskwa, Rusia. Bukan di Mesir atau daerah Timur Tengah lainnya. Kalau tahun lalu saya membaca novel Negeri Van Oranje yang menggambarkan detil Negeri Belanda, nah di novel ini menceritakan keindahan Rusia di musim dingin. Seorang Ayyas yang pernah berkuliah S1 di Madinah, selama ini hidup di negara yang sangat kondusif untuk suasana keimanannya, namun kali ini ia akan dibenturkan dengan kenyataan negara tempat ia melakukan riset merupakan negeri yang paling menjunjung tinggi seks bebas dan pornografi. Di sana, ia tinggal bersama dua orang nonik Rusia yang jelita, Linor seorang zionis yahudi yang menyamar menjadi wartawan, dan Yelena yang atheis berprofesi sebagai pelacur. Godaan ternyata tidak hanya datang dari dua wanita di apartemennya, tapi juga dari dosen pembimbing pengganti yang bernama Anastasia seorang doktor muda berparas cantik dan cerdas serta penganut ortodoks yang taat.

Kisah nabi Yusuf juga seolah meliputi diri Ayyas. Saat digoda oleh Linor untuk melakukan zina. Ayyas marah dengan kelancangan Linor yang menelusup masuk ke kamarnya, dan segera ia kendalikan kondisi. Ayyas menangis sejadi-jadinya dalam ringkuh doa taubat di atas sajadah, air matanya tak pernah kering selama ia di Rusia. Dengan doa sepanjang malam itulah ia bangun kekuatan iman dan ruhnya. Yelena dan Anastasia juga nyaris menceburkannya dalam dosa. Saat kesempatan datang, Ayyas segera angkat kaki dari apartemen tersebut, dan pindah ke apartemen salah seorang guru yang mengajar di sekolah KBRI. Tidak hanya cobaan wanita yang menghantam Ayyas. Nyaris saja Ayyas dituduh sebagai teroris yang membom Metropole Hotel.

Dari perjalanan Ayyas yang rumit di Rusia, riwayat hidup Linor dan Yelena pun diceritakan panjang lebar. Usai pemboman Metropole Hotel tersebut banyak yang berubah dari diri Linor, dan Yelena, juga Devid teman SMP Ayyas yang menjemputnya pertama kali di Bandara Sheremetyevo.

Kang Abik menceritakan Ayyas secara sempurna layaknya Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta, rasanya agak rikuh bila melihat ada lelaki sesempurna itu, impossible mungkin, walaupun sosok seperti itu sebetulnya bisa jadi ada, bukan sekedar ‘tokoh’ sempurna yang diciptakan dari tangan Kang Abik. kalau ada juga mungkin bukan jodoh saya, *kriuk!*

Ada hal-hal menarik dalam novel ini, antara lain novel ini mengingatkan kita akan pentingnya shalat tepat waktu, memperbanyak zikir, wirid, membaca hadist, dan membaca karya-karya orang sholeh yang penuh hikmah. Lalu di novel ini juga mengingatkan betapa penting arti sebuah niat ketika kita hendak melakukan hal apapun. Saya kutip kalimat ini, “Jika pagi datang, orang yang lalai akan berpikir apa yang harus dikerjakannya. Sedangkan orang yang berakal akan berpikir apa yang akan dilakukan Allah padanya” (Ibnu Athaillah). Kutipan ini menunjukkan betapa pentingnya merangcang program harian, bulanan, bahkan tahunan. Namun lebih dari itu, sangatlah penting memohon kekuatan dan keberkahan atas apa yang akan dikerjakan.

Di sin juga diceritakan banyak sejarah-sejarah Rusia, dan yang menariknya adalah sejarah Linor yang dikaitkan dengan sejaran pembantaian Sabra dan Shatila 1982. Pengkondisian karakter yang pas, menurutku. Jadi seperti based on true story tapi memang gak juga sih. Yang pasti, sejarah-sejarah yang dikisahkan berdasarkan riset sebenarnya. Selain sejarah, ada scene yang mengisahkan Ayyas pada seminar dan talkshow di tv, membahas tentang konsep ketuhanan, bahasannya cukup lengkap dan padat makna.

Berikut visualisasi keindahan Moskwa yang dideskripsikan di dalam novel.

Ini adalah Bandara Sheremetyevo, kali pertama Ayyas tiba di Rusia

Apartemen Kwartina, tempat tinggal Ayyas bersama Yelena dan Linor

MGU, Universitas kebanggaan masyarakat Moskow

KBRI di Moskow

Stasiun Metro Smoleskaya, lihat kemegahannya

Stasiun Metro Kievskaya, sebuah keanggunan yang berkelas

Stasiun Metro Komsomolskaya

Blue Mosque, satu dari 5 buah masjid di Moskow

Gereja St. Basil di Red Square (lapangan merah)

Hotel Metropole yang menjadi sasaran pemboman dalam novel ini

semua gambar saya kopi dari blog ini

Finding Mino

Berkisah tentang kehidupan Mino Sadewo, suku Jawa asli Solo, tamatan Fakultas Ilmu Komunikasi salah satu perguruan tinggi di Bandung. Mengawali kehidupan sebagai penulis freelance di salah satu surat kabar, dan kemudian diangkat menjadi pegawai tetap di sana. Kalau kamu pernah membaca novel karya Kang Abik, Ayat-Ayat Cinta, maka novel yang ada di samping leptop saya saat ini berkisah mirip. Mino yang sederhana, pandai berkomunikasi, alim (boleh dibilang ‘ikhwan’ banget), gaul dan luwes, serta mempunyai kemampuan menyusun kata-kata yang apik dan menarik (maka itu dia berprofesi sebagai wartawan), and cukup handsome hee.. Dalam novel ini, berkisah empat wanita yang ‘kecantol‘ dengan sosok Mino. Sebutlah pertama Nora, siswa kelas 3 SMA yang unik, rada norak, sugih, dan juga cerdas, yang pada akhirnya tampil anggun dengan balutan jilbab; bertemu dengan Mino di sekolahnya saat hendak mencari data untuk membuat tulisan tentang pendidikan. Kedua Novi, seorang gadis yang ketika pertama bertemu mengenakan jilbab berwarna biru dan rapi (dua paduan yang pas untuk karakter ‘wanita’-nya Mino); kenal pertama kali karena ingin menolong permasalahan salah satu sahabat mereka. Ketiga Novi, teman sekantor yang supel, cerdas, dan centil, yang awalnya tidak berjilbab, hingga akhirnya berjilbab dikarenakan hidayahNya. Keempat Yanti, tetangga di samping rumah kontrakannya yang menjadi secret admirer dan kemudian berterus terang blak-blakan tentang perasaannya. So far, saya tidak akan membahas bagaimana tipe-tipe keempat perempuan tersebut. Menurutku itu tidak substansial dibanding kita membahas Aisyah, Noura, atau Maria pada novel Ayat-Ayat Cinta *ditimpuk*.

Sederhana sekali sebetulnya sosok Mino ini, pria yang tidak berani mengkhayalkan bidadari dunianya. Di novel ini diceritakan Mino yang menganggap hubungannya dengan Nora seperti adik-kakak, hingga akhirnya mungkin Nora mempunyai ‘perasaan’ akan sikap empati dan simpati dari seorang Mino yang lembut hatinya. Terus terang saja, sosok Mino ini sekali-dua kali pernah saya temui di seliweran kehidupan kampus maupun di luar kampus. Buat pria yang merasa cukup ganteng, alim, sholeh, berpenghasilan, supel, maka segeralah menikah untuk mengibaskan segala fitnah hehehehe (malah jadi ketawa ketawa sendiri)

Didi Wahyudi (sang penulis), seorang teman jauh saya dari FKG Unpad dan sedang menempuh Program Magister Hukum Kesehatan (S-2) ini cukup berhasil mengisahkan keluh kesah mahasiswa kedokteran, kedokteran gigi, keperawatan, bahkan kesehatan masyarakat. Betapa pelik dan riweuhnya kondisi di dalam klinik, poli, maupun UGD. Juga penggalan-penggalan artikel yang menuliskan tentang kesejajaran mitra antara dokter, dokter gigi, scientist, perawat, dan manajemen yang merangkul semua. Bahasa yang dipakai sangat renyah dan ringan, membaca novel ini seperti mendengarkan kak Didi sedang memberi taujih, eh maksudnya bercerita (hweheheh).

Saya gak tau apakah novel ini dijual bebas atau tidak, sebab novel ini dibagikan sebagai sovenir di pernikahan beliau, sayangnya saya juga berhalangan hadir sehingga novel ini saya pinjem dari rak seorang sahabat. Jadi kepikiran juga ingin bikin novel yang dilaunching pas hari pernikahan, so sweet…. *hyyiiihaaaa!

NB: buat kak Didi jika baca postingan ini, kalau novelnya ada lebih, saya mau dikasih hehehe 😀

Ketika Cinta Bertasbih 2

Resensi Ketika Cinta Bertasbih 2
Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan
Title : Ketika Cinta Bertasbih 2 (dwilogi)

Author : Habiburrahman El Shirazy

20-Nov-2007, 21:26:18 WIB – [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia – Bermula dengan penuturan tentang keindahan suasana dini hari di Pesantren Darul Qur’an, Kang Abik berhasil mengajak pembacanya untuk seakan memasuki satu demi satu alur cerita di bagian kedua dari karya dwilogi Pembangun Jiwa-nya “Ketika cinta Bertasbih” ini.

Kehadiran seorang gadis jelita dengan kekhusyuan ibadahnya di sepertiga malam terakhir itu, telah memperkuat karakternya, seorang mahasiswi terbaik di Al Azhar University, ialah Anna Althafunnisaa. Seorang putri dari Kiai Lutfi pemilik pondok pesantren Daarul Qur’an.

Kisah berlanjut dengan pemaparan suasana kegundahan hati seorang master lulusan terbaik pula dari Universitas tertua di dunia itu. Furqan. Tentunya kita masih ingat ketika di saat-saat kebahagiaannya akan keberhasilannya meraih gelar master, ia juga harus rela menyandang predikat sebagai pengidap HIV di Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1.

Kegundahan hati itu terus berlanjut walaupun sampai ketika Anna menerima pinangannya dari Furqan. Ia bagai berada di ujung sebuah tebing kebimbangan, antara meneruskan ke jenjang pernikahan atau membatalkan semuanya.

Sampai akhirnya, pil pahit harus ditelan oleh banyak dari para pria yang selama ini menaruh hati pada Anna Althafunnisaa. Tak terkecuali Khairul Azzam, seorang mahasiswa Al Azhar yang baru dapat menyelesaikan kuliahnya setelah hampir 9 tahun lamanya ia berada di negeri para nabi itu. Pada bagian kedua karya dwilogi ini diceritakan tentang kepulangan Azzam yang disambut bahagia oleh keluarganya. Banyak perubahan yang terjadi pada kehidupan keluarga Azzam jika dibandingkan dengan kehidupan 9 tahun yang lalu sebelum ia berangkat menunaikan cita-cita. Salah seorang adiknya yaitu Ayatul Husna kini telah menjadi seorang cerpenis remaja yang mendapatkan penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional Indonesia.

Keberadaan tokoh-tokoh sebelumnya di KCB 1, serta hadirnya tokoh-tokoh baru di KCB 2 semakin membuat karya ini terasa begitu wah. Bahkan menurut saya pribadi jika dibandingkan dengan KCB 1, KCB 2 ini jauh lebih bagus dalam segi penuturan kisahnya.

Ada beberapa cerita yang telah usai di KCB 1 dan tidak sedikitpun tertulis kembali di KCB 2, seperti halnya kisah kekecewaan Fadhil ketika seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, yang ia pernah harapkan dapat menjadi belahan jiwanya ternyata menikah dengan sahabatnya sendiri.

Konflik tajam terjadi pada beberapa bagian dari novel ini, di antaranya pada subuh hari ketika terjadi keributan di rumah Azzam, di sana diceritakan tentang seorang paman yang akan menembak dan membunuh keponakannya sendiri. Kemudian klimaks cerita ini terjadi ketika terjadi kecelakaan di mana yang menjadi korbannya adalah Azzam dan Ibunya, mereka terpelanting jatuh dari atas sepeda motor karena tertabrak bus yang ugal-ugalan, sampai akhirnya Azzam harus rela berbaring di rumah sakit menderita patah tulang, sementara ibunya berpulang menghadap ke hadirat Allah SWT.

Ada raut kesedihan di sana, padahal saat musibah itu terjadi adalah hanya berselang 4 hari sebelum pesta pernikahan Azzam dengan seorang dokter dari Kudus.

Ada banyak kisah yang terjadi secara tiba-tiba di luar dugaan para pembaca. Namun secara keseluruhan, kesinambungan cerita dari satu tokoh yang ditampilkan dengan tokoh lain di bagian lainnya, masih tetap menjadi satu ciri khas dari karya-karya Kang Abik, yang mampu membuat decak kagum para pembacanya.

Selain dari kuatnya alur serta penokohan dalam KCB 2 ini, Kang Abik juga masih terlalu lihai menceritakan keseharian dalam kehidupan pesantren, tentunya ini mungkin karena sesuai dengan latar dari kehidupan Kang Abik itu sendiri. Kemudian, satu persatu keilmuan tentang fiqih, aqidah, dan lain sebagainya tetap menjadi suguhan utama yang Beliau munculkan dalam bagian cerita ini, tanpa sedikit pun membuat para pembaca merasa digurui.

Bukan hanya kisah cinta, nilai-nilai semangat wirausaha atau jiwa “entrepreneurship” yang dimiliki Azzam, masih berlanjut di KCB 2. Bahkan nilai inovatif serta kerja kerasnya telah mengantarkan ia menjadi salah satu pengusaha muda dari kota Solo.

Jika dibandingkan dengan bagian sebelumnya, KCB 2 ini memang jauh lebih diperuntukkan bagi kalangan dewasa. Keromantisan sebuah pasangan suami istri dimunculkan melebihi apa yang pernah muncul di Ayat-ayat Cinta.

Namun Alhamdulillah, akhirnya semua berlalu dan berakhir pada satu hal yang justru jauh tidak terbayangkan sebelumnya. Satu kisah cinta Khairul Azzam dengan Anna Althafunnisaa menutup akhir cerita ini dengan manis.

Semoga kisah ini kembali menjadi satu jalan kebangkitan ummat untuk kembali mengenal kemuliaan Islam. Aamiin yaa Robbal’alamiin …

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com/