Pulanglah

Sekiranya kamu mengetahui,
bahwa hati ini berderu gemuruhnya,
membadai terombang ambing,
sudah pasti engkau akan memegang tanganku erat
dan mengencangkan pijakanku.
Eh, tapi saya sungkan merepotkan orang lain,
biarkan saja.
Aku hanya ingin pulang ke rumah yang damai,
tempat di mana aku tidak perlu merindukan siapapun,
karena di sanalah tujuan rinduku selama ini.
Aku ingin bertemu dengan yang ku cinta, di sana, tanpa rasa bersalah,
tempat yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…

Saya (lagi ketularan bikin puisi)

Suatu hari saya berjalan, ringan saja.

Saya amati geraknya dari balik rak-rak buku yang tak berdebu itu.

Rak itu tak lagi berdebu.

Saya bisa melihat ransel kumalnya sekelebatan,

kemudian ia berbalik dan bertanya, “Hei ada apa?”

Aku terkesiap, cuma geleng-geleng kepala.

Pernah kau merasakan begitu penuh hatimu,

walau hanya melihatnya dari belakang, atau menyusuri siluetnya dari balik rak buku?

Dan kalimat yang keluar dari mulutku lirih, “Ia pasti akan mati! pasti!”

Seketika cinta merona di hati gugur. Dan kau tahu,

cinta manusia tiada abadi.

Hanya cinta-Nya saja.

6 Oktober 2010