Saya (lagi ketularan bikin puisi)

Suatu hari saya berjalan, ringan saja.

Saya amati geraknya dari balik rak-rak buku yang tak berdebu itu.

Rak itu tak lagi berdebu.

Saya bisa melihat ransel kumalnya sekelebatan,

kemudian ia berbalik dan bertanya, “Hei ada apa?”

Aku terkesiap, cuma geleng-geleng kepala.

Pernah kau merasakan begitu penuh hatimu,

walau hanya melihatnya dari belakang, atau menyusuri siluetnya dari balik rak buku?

Dan kalimat yang keluar dari mulutku lirih, “Ia pasti akan mati! pasti!”

Seketika cinta merona di hati gugur. Dan kau tahu,

cinta manusia tiada abadi.

Hanya cinta-Nya saja.

6 Oktober 2010

Advertisements

Biarkan Pena Mengalun1

Ada aroma hujan,

menapak bumi basah.

Ada suara-suara di ujung sana, tak pernah berhenti berdenging di muara telinga

diam-diam mulai merembes ke hati

padahal nyala api tak sekalipun di sulut.

Ada merpati menghampiri dahan rindang siang hari,

membawa sejumput rumput untuk sangkar.

Aku mencintai langit itu,

dia tak pernah sekalipun membelai kepalaku,

namun kasihnya di siang hari, meneduhi hari yang terik.

Aku mencintai rembulan itu,

mempesona saat langit bersih, menjadi inspirasi tiada tepi.

Aku mencintai laut itu,

saat berombak membawa gemuruh, tak akan ada yang berani berkontempelasi.

Kata-kata hati menjadi sulut api itu, padahal ada riak angkuh tak terganti.

Izinkan percik api ini menjadi satu pelita pengisi,

tidak akan menjadi obor, ataupun unggun,

hanya akan begitu, begitu, dan begitu seterusnya, hingga takdir akhir sesungguhnya

24 Desember 2008

Pijakan

sumber gambar

Masih ingatkah bulan di ujung horizon?

munculnya petang dan benderang di langit malam,

saat itulah terpana mata memandang…

bicara dengan Tuhan adalah momen yang tepat untuk berterus terang

dan aku menjadi diriku sendiri

berkata-kata sebagai sesungguhnya manusia

Tuhan, aku membutuhkan amanah itu untuk penguat jalin cintaku padaMu

namun pundak ini hanya punya sepasang scapula

padanya tak mampu ditumpuki beban berat

Tuhan, tak mungkin aku mampu berdiri tanpa kekuatan dariMu

resah dan gundah di hatiku hanya Engkau yang tahu

Bimbinglah aku senantiasa, arahi kaki dan tanganku,

jagai lisanku, dan cemerlangkanlah pikiranku..

Aku serahkan segala pasrah dan do’aku ini…hanya untukMu

Cinta Tanpa Definisi

Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.

Inilah obrolan manusia sepanjang masa. Inilah legenda yang tak pernah selesai. Maka abadilah Rabiah Al-Adawiyah, Rumi, Iqbal, Tagore atau Gibran karena puisi atau prosa cinta mereka. Abadilah legenda Romeo dan Juliet, Laela Majunun, Siti Nurbaya, atau Cinderella. Abadilah Taj Mahal karena kisah cinta di balik kemegahannya…

Barangkali kita memang tidak perlu definisi. Toh kita juga tidak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik matahari. Kita hanya perlu tahu cara kerjanya. Cara kerjanya itulah definisinya: karena -kemudian- semua keajaiban terjawab di sana…

Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta

dicopas dari sini