Satu Memori yang Membuatku Diam Seribu Bahasa

Mohon Tuhan, beri aku kekuatan.

12 Juni 2010.

Akhirnya kemarin kakak memutuskan untuk pulang sementara ke Bandung, lantaran telah izin dari pekerjaan selama seminggu. Maksudnya hari senin nanti masuk, lalu segera mengurus cuti panjang untuk bisa pulang ke Palembang lagi. Tiket pesawat sudah dipesan, take off jam 11 bersama istri dan anaknya, sedangkan satu kakak ipar lagi pulang ke Jogja beserta satu anaknya, take off jam 11.15.

Pagi itu haru biru. Pukul 08.00 kakak sudah datang ke rumah sakit, sudah membawa semua koper, akan pamit ke Mama. Nampak wajahnya berat meninggalkan Mama. Kata orang-orang dulu waktu masih kecil, kakak saya itu anaknya bandel dan suka merajuk. Kakak, istri dan anaknya masuk ke ICU, ruangan yang berisi lima ranjang untuk orang ‘sekarat’ khusus jantung. Kondisinya melemah, hari jumat pagi kemarin dipasang selang untuk memasukkan cairan makanan, karena dua hari tidak sadar dan tidak makan. Sungkup selang oksigen, selang makanan, dan peralatan deteksi jantung, nafas, oksigenisasi, tertempel di tubuh lemahnya.

Saya menciumi pipi dan punggung tangan pemuda berusia kepala tiga itu dengan syahdu dan terpaksa merelakannya pulang, serasa ingin berkata, “Jangan pulang dulu, Mama mungkin tak lama lagi.. jangan biarkan aku sendiri”. Kalimat itu hanya sebatas hati, dan air mataku meleleh. “Hati-hati ya, segera pulang lagi!”, pesanku. Mata kami memerah dan pipi basah, perawat yang ada di sana melihat kami, sudah pasti tahu betul bagaimana perkembangan kondisi Mama.

Tinggal aku dan Abah. Aku duduk di sampingnya dan membaca ayat favorit untuk memotivasi kekuatanku, surah Al Mulk. Ayat (1) yang artinya, “Maha Suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Ayat (2), “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.”. dst..

Kira-kira jam 9 lewat kami kedatangan Bibi dari sebelah Abah, beserta suaminya. Beliau bilang, “Semalam aku mimpi Mamamu, jadi hari ini harus bisa menengok walau kakiku sakit,” kisahnya. Aku terharu. Dokter Rizky dating ke ruangan. Kak Eki panggilan akrab kami pada beliau. Ceritanya dulu, waktu SMP Kak Eki ini juga sering main dan menginap di rumah, karena beliau ini teman kakak pertamaku. Senin lalu kak Eki cerita kalau semalamnya ia bermimpi juga ketemu Mama dalam kondisi segar dan sehat sambil menepuk keras bahu kak Eki dan berkata, “Ey Ki, makasih  ye!” dan tersenyum. Lalu kak Eki terbangun tengah malam itu. Segera ia telpon perawat yang jaga, untuk melihatkan kondisi Mama. Senin itu adalah hari terakhir kami komunikasi dua arah yang masih saling ngobrol lancar.

Tekanan darah masih dalam batas normal, tapi sesekali indikator saturasi oksigen berbunyi, menandakan saturasi oksigen dalam darah menurun dengan kadar di bawah normal, angkanya bisa terlihat di monitor.

Pukul 09.15 Kak Eki datang, dan memeriksa kondisi Mama, sambil diam dan menatap lekat beliau. Lalu Kak Eki bilang, “Jangan tinggalin Mama sendirian lagi di sini, terus aja ngaji di sini, sambil zikir. Kau liat kan itu angka saturasi oksigennya (sambil menunjuk monitor), kalau angkanya terus menurun ke angka 70, kamu di sini saja, langsunglah bimbing Mama buat syahadat dan baca kalimat tauhid.” Aku mengangguk pasrah, dan sekujur badanku dingin.

Beberapa hari yang lalu, saya pernah searching tentang bagaimana sakratul maut itu. Banyak berbagai versi, saya lupa mengutip hadisnya. Namun yang paling saya ingat bahwa sakratul maut itu ada beberapa bagian, entah dicabut ruhnya secara perlahan atau cepat. Mula-mula malaikat mencabut ruh dari kaki hingga lutut, kemudian dari lutut hingga pinggang, lalu dari pinggang hingga dada, kemudian dari dada sampai kepala hingga habis seluruhnya dicabut. Subhanallah, tidak pernah terbayang sekalipun alangkah sakit dan ngilunya sakratul maut itu.

Tidak lama kemudian, Kak Eki meninggalkan ruangan karena akan memeriksa pasien lainnya. Dan kemudian, apa yang dideskripsikan kak Eki tadi betul-betul terjadi. Saturasi oksigennya mulai menurun. Ku panggil-panggil Mama di telinganya, aku bisikkan agar tetap menyebut laa ilaahaillallah, dan aku bacakan di telinganya. Baru sekali saja ku baca tenggorokanku tercekat oleh air mata. Ku coba kuasai diri, dan terus membacakan kalimat tauhid itu. Perawat yang datang menyuntikkan sesuatu di selang infus. Saturasi oksigen terus menurun ke angka 60. Perawat segera mengganti sungkup oksigen mama dengan sungkup pompa, dan segera melakukan resusitasi jantung dan paru/ RJP (force pada dada dan mengalirkan oksigen lewat saluran pernapasan, kira-kira seperti pertolongan pertama pada orang yang tenggelam yang sering terlihat sehari-hari). Lalu seorang ibu dokter residen datang dan berdiri di sebelah saya, sambil terus memantau hasi RJP itu. Sementara aku di sebelah telinga mama, makin lama suaraku makin kuat. Sampai akhirnya indikator oksigen turun sampai angka nol, dan suara tiiiiittt panjang bunyi dari layar monitor. Innalillahi wa innailaihi roji’un… Ku ciumi pipi Mama, tak kuasa air mataku buyar, aku dipeluk dokter residen, aku bingung harus memeluk siapa. Ku lihat Abah yang masih berdiri terdiam di dekat ujung ranjang. Lalu ku peluk tubuh tuanya dan bilang, “Mama sudah meninggal”, dan ku dudukkan beliau di kursi agar bisa tenang. Ku biarkan saja perawat-perawat yang kebetulan teman saya itu mengurus Mama, melepas segala macam peralatan yang menempel di tubuhnya, menggantikan kain, mencabut infus dan selang makanan, sementara ku raih handphone dan mulai menelpon ke rumah, menelpon ayuk ipar, menelpon bibi, dan baru teringat untuk menelpon kakak yang sedang di perjalanan ke bandara. Tiket sudah dicheck in, tapi kebetulan belum masuk ke ruang tunggu, masih duduk-duduk di luar, segera saja mengambil bagasi dan balik ke rumah sakit lagi. Sedangkan Cek Da (adik Mama paling bungsu) juga ku telpon, beliau sentak menangis, sedang berada di perjalanan hendak menjenguk ke RS. Sesampainya di RS, Cek Da memelukku sambil menangis-nangis, beliau bilang, “Dulu, waktu Cek Da masih kecil, Mamamu inilah yang ngasuh Cek Da, sekarang Mamamu sakit Cek Da dak sempat ngasuhnya, Mamamu meninggal Cek Da dak sempat pulo nemuinyo“. Aku cuma bisa menepuk-nepuk pundaknya yang besar.

Begitu banyak orang, adik, sanak, tetangga, yang mimpi bertemu dengan Mama sebelum Mama meninggal. Kak Iwan misalnya, keponakan Mama yang tinggal di Pangkalpinang, seminggu sebelumnya bermimpi ketemu Mama. Esok harinya ia berbicara kepada ibunya (Cek Ma, adik Mama) yang akan menemani istrinya melahirkan. Katanya begini, “Bu, habis Rina melahirkan besok, aku belikan ibu tiket pulang ke Palembang, semalam aku bermimpi tentang Wak Cak (Mamaku), ibu pulanglah gakpapa”. Dan hari Selasa Cek Ma langsung pulang ke Palembang. Hari Selasa siang itu Mama akan dihemodialisa plus transfusi darah, setelah itu kesadarannya perlahan kelihatan menurun.

Ternyata beliau meninggalkan kesan yang sangat membekas di hati adik, keponakan, sanak, tetangga, dan teman sejawatnya. Banyak teman-teman pengajian Mama yang hadir takziah hari itu memenuhi rumah dan halaman. Kata Cek Nur tetanggaku yang seperjuangan dengan Mama, teman-temannya yang sangat dikenal semuanya datang. Apakah aku bisa melakukan hal yang sama seperti Mama, meninggalkan kesan yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang, dan apakah ketika hari kematianku nanti juga akan banyak pelayat yang datang dan mendokan seperti halnya Mama?

Satu memori yang membuatku diam seribu bahasa, mengingat saat-saat perpisahan dengan Mama, dan membayangkan bagimana jika nyawaku yang dicabut kelak.

Kullu nafsin dzaa iqatul maut…. –Setiap yang bernyawa akan merasakan mati….-” (QS. Ali Imran [3]: 185)

Wallahu’alam bishshowab.

Selamat jalan Mama,

semoga Allah mempertemukan kita di akhirat kelak dalam keadaan penuh suka cita.

Sabtu, 12 Juni 2010; 29 Jumadilakhir 1431 H

Kisah yang baru sanggup aku bagi sekarang, untuk pengingat bagi yang hidup

—–

Advertisements

Satu Memori yang Membuatku Diam Seribu Bahasa

Mohon Tuhan, beri aku kekuatan.

12 Juni 2010.

Akhirnya kemarin kakak memutuskan untuk pulang sementara ke Bandung, lantaran telah izin dari pekerjaan selama seminggu. Maksudnya hari senin nanti masuk, lalu segera mengurus cuti panjang untuk bisa pulang ke Palembang lagi. Tiket pesawat sudah dipesan, take off jam 11 bersama istri dan anaknya, sedangkan satu kakak ipar lagi pulang ke Jogja beserta satu anaknya, take off jam 11.15.

Pagi itu haru biru. Pukul 08.00 kakak sudah datang ke rumah sakit, sudah membawa semua koper, akan pamit ke Mama. Nampak wajahnya berat meninggalkan Mama. Kata orang-orang dulu waktu masih kecil, kakak saya itu anaknya bandel dan suka merajuk. Kakak, istri dan anaknya masuk ke ICU, ruangan yang berisi lima ranjang untuk orang ‘sekarat’ khusus jantung. Kondisinya melemah, hari jumat pagi kemarin dipasang selang untuk memasukkan cairan makanan, karena dua hari tidak sadar dan tidak makan. Sungkup selang oksigen, selang makanan, dan peralatan deteksi jantung, nafas, oksigenisasi, tertempel di tubuh lemahnya.

Saya menciumi pipi dan punggung tangan pemuda berusia kepala tiga itu dengan syahdu dan terpaksa merelakannya pulang, serasa ingin berkata, “Jangan pulang dulu, Mama mungkin tak lama lagi.. jangan biarkan aku sendiri”. Kalimat itu hanya sebatas hati, dan air mataku meleleh. “Hati-hati ya, segera pulang lagi!”, pesanku. Mata kami memerah dan pipi basah, perawat yang ada di sana melihat kami, sudah pasti tahu betul bagaimana perkembangan kondisi Mama.

Tinggal aku dan Abah. Aku duduk di sampingnya dan membaca ayat favorit untuk memotivasi kekuatanku, surah Al Mulk. Ayat (1) yang artinya, “Maha Suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Ayat (2), “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.”. dst..

Kira-kira jam 9 lewat kami kedatangan Bibi dari sebelah Abah, beserta suaminya. Beliau bilang, “Semalam aku mimpi Mamamu, jadi hari ini harus bisa menengok walau kakiku sakit,” kisahnya. Aku terharu. Dokter Rizky datang ke ruangan. Kak Eki panggilan akrab kami pada beliau. Ceritanya dulu, waktu SMP Kak Eki ini juga sering main dan menginap di rumah, karena beliau ini teman kakak pertamaku. Senin lalu kak Eki cerita kalau semalamnya ia bermimpi juga ketemu Mama dalam kondisi segar dan sehat sambil menepuk keras bahu kak Eki dan berkata, “Ey Ki, makasih  ye!” dan tersenyum. Lalu kak Eki terbangun tengah malam itu. Segera ia telpon perawat yang jaga, untuk melihatkan kondisi Mama. Senin itu adalah hari terakhir kami komunikasi dua arah yang masih saling ngobrol lancar.

Tekanan darah masih dalam batas normal, tapi sesekali indikator saturasi oksigen berbunyi, menandakan saturasi oksigen dalam darah menurun dengan kadar di bawah normal, angkanya bisa terlihat di monitor.

Pukul 09.15 Kak Eki datang, dan memeriksa kondisi Mama, sambil diam dan menatap lekat beliau. Lalu Kak Eki bilang, “Jangan tinggalin Mama sendirian lagi di sini, terus aja ngaji di sini, sambil zikir. Kau liat kan itu angka saturasi oksigennya (sambil menunjuk monitor), kalau angkanya terus menurun ke angka 70, kamu di sini saja, langsunglah bimbing Mama buat syahadat dan baca kalimat tauhid.” Aku mengangguk pasrah, dan sekujur badanku dingin.

Beberapa hari yang lalu, saya pernah searching tentang bagaimana sakratul maut itu. Banyak berbagai versi, saya lupa mengutip hadisnya. Namun yang paling saya ingat bahwa sakratul maut itu ada beberapa bagian, entah dicabut ruhnya secara perlahan atau cepat. Mula-mula malaikat mencabut ruh dari kaki hingga lutut, kemudian dari lutut hingga pinggang, lalu dari pinggang hingga dada, kemudian dari dada sampai kepala hingga habis seluruhnya dicabut. Subhanallah, tidak pernah terbayang sekalipun alangkah sakit dan ngilunya sakratul maut itu.

Tidak lama kemudian, Kak Eki meninggalkan ruangan karena akan memeriksa pasien lainnya. Dan kemudian, apa yang dideskripsikan kak Eki tadi betul-betul terjadi. Saturasi oksigennya mulai menurun. Ku panggil-panggil Mama di telinganya, aku bisikkan agar tetap menyebut laa ilaahaillallah, dan aku bacakan di telinganya. Baru sekali saja ku baca tenggorokanku tercekat oleh air mata. Ku coba kuasai diri, dan terus membacakan kalimat tauhid itu. Perawat yang datang menyuntikkan sesuatu di selang infus. Saturasi oksigen terus menurun ke angka 60. Perawat segera mengganti sungkup oksigen mama dengan sungkup pompa, dan segera melakukan resusitasi jantung dan paru/ RJP (force pada dada dan mengalirkan oksigen lewat saluran pernapasan, kira-kira seperti pertolongan pertama pada orang yang tenggelam yang sering terlihat sehari-hari). Lalu seorang ibu dokter residen datang dan berdiri di sebelah saya, sambil terus memantau hasi RJP itu. Sementara aku di sebelah telinga mama, makin lama suaraku makin kuat. Sampai akhirnya indikator oksigen turun sampai angka nol, dan suara tiiiiittt panjang bunyi dari layar monitor. Innalillahi wa innailaihi roji’un… Ku ciumi pipi Mama, tak kuasa air mataku buyar, aku dipeluk dokter residen, aku bingung harus memeluk siapa. Ku lihat Abah yang masih berdiri terdiam di dekat ujung ranjang. Lalu ku peluk tubuh tuanya dan bilang, “Mama sudah meninggal”, dan ku dudukkan beliau di kursi agar bisa tenang. Ku biarkan saja perawat-perawat yang kebetulan teman saya itu mengurus Mama, melepas segala macam peralatan yang menempel di tubuhnya, menggantikan kain, mencabut infus dan selang makanan, sementara ku raih handphone dan mulai menelpon ke rumah, menelpon ayuk ipar, menelpon bibi, dan baru teringat untuk menelpon kakak yang sedang di perjalanan ke bandara. Tiket sudah dicheck in, tapi kebetulan belum masuk ke ruang tunggu, masih duduk-duduk di luar, segera saja mengambil bagasi dan balik ke rumah sakit lagi. Sedangkan Cek Da (adik Mama paling bungsu) juga ku telpon, beliau sentak menangis, sedang berada di perjalanan hendak menjenguk ke RS. Sesampainya di RS, Cek Da memelukku sambil menangis-nangis, beliau bilang, “Dulu, waktu Cek Da masih kecil, Mamamu inilah yang ngasuh Cek Da, sekarang Mamamu sakit Cek Da dak sempat ngasuhnya, Mamamu meninggal Cek Da dak sempat pulo nemuinyo“. Aku cuma bisa menepuk-nepuk pundaknya yang besar.

Begitu banyak orang, adik, sanak, tetangga, yang mimpi bertemu dengan Mama sebelum Mama meninggal. Kak Iwan misalnya, keponakan Mama yang tinggal di Pangkalpinang, seminggu sebelumnya bermimpi ketemu Mama. Esok harinya ia berbicara kepada ibunya (Cek Ma, adik Mama) yang akan menemani istrinya melahirkan. Katanya begini, “Bu, habis Rina melahirkan besok, aku belikan ibu tiket pulang ke Palembang, semalam aku bermimpi tentang Wak Cak (Mamaku), ibu pulanglah gakpapa”. Dan hari Selasa Cek Ma langsung pulang ke Palembang. Hari Selasa siang itu Mama akan dihemodialisa plus transfusi darah, setelah itu kesadarannya perlahan kelihatan menurun.

Ternyata beliau meninggalkan kesan yang sangat membekas di hati adik, keponakan, sanak, tetangga, dan teman sejawatnya. Banyak teman-teman pengajian Mama yang hadir takziah hari itu memenuhi rumah dan halaman. Kata Cek Nur tetanggaku yang seperjuangan dengan Mama, teman-temannya yang sangat dikenal semuanya datang. Apakah aku bisa melakukan hal yang sama seperti Mama, meninggalkan kesan yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang, dan apakah ketika hari kematianku nanti juga akan banyak pelayat yang datang dan mendokan seperti halnya Mama?

Satu memori yang membuatku diam seribu bahasa, mengingat saat-saat perpisahan dengan Mama, dan membayangkan bagimana jika nyawaku yang dicabut kelak.

Kullu nafsin dzaa iqatul maut…. –Setiap yang bernyawa akan merasakan mati….-” (QS. Ali Imran [3]: 185)

Wallahu’alam bishshowab.

Selamat jalan Mama,

semoga Allah mempertemukan kita di akhirat kelak dalam keadaan penuh suka cita.

Sabtu, 12 Juni 2010; 29 Jumadilakhir 1431 H

Kisah yang baru sanggup aku bagi sekarang, untuk pengingat bagi yang hidup

—–

Lihatlah, Mereka Menua Lalu Renta

Saya update tulisan ini dimulai pukul 1.32 am di tengah ruang tunggu ICU/VIP Jantung RSMH, gantian jaga mama bersama dua orang kakak saya. Ya, mama terpaksa dirawat di sini. Terakhir istirahat di rumah sakit itu tahun 2008. Kira-kira sudah sepuluh tahun mama mengidap diabetes mellitus atau juga dikenal dengan kencing manis. Mama sudah melalui banyak fase dalam hidupnya selama berdamai dengan DM. Penyakit DM ini cenderung mengguncang emosi, dan sudah pasti menggerogoti kesehatan perlahan-lahan. Dan mama melampauinya dengan cukup sukses menurutku. Kadar gula darah mama pernah menyentuh angka 500, dan ini angka yang sangat besar bahkan bisa membuat orang koma saat itu juga. Tapi mama mampu melampauinya tanpa pernah menginjak kamar ICU. Akhirnya DM beradaptasi secara perlahan dalam tubuh mama, kadar gula darah 200an pun tidak membuat mama lesu lunglai setelahnya karena proses adaptasi tadi. Namun, serajin, setekun apapun usaha mama dalam mengkonsumsi obat-obatan tentu akan menimbulkan banyak kompensasi bagi organ tubuh lain. Misalnya ginjal dan hati akan bekerja lebih keras saat ada konsumsi obat-obatan, beriringan pula kerja keras jantung untuk memompa darah keseluruh tubuh. Begitulah DM dianggap buah simalakama.

Jumat malam lalu (4/6) konsul ke dokter dengan keluhan sesak nafas dan nyeri dada hingga punggung. Dua hari sebelumnya juga konsul ke dokter dan semua pemeriksaan menunjukkan tanda vital yang baik pada jantung, hati, ginjal, walau di jantung ada pembesaran yang sudah terlihat di beberapa kunjungan sebelumnya. Namun kali ini berbeda, pembesaran lebih dari kadar toleransi. Lalu kami dirujuk ke RS agar dirawat, dan selama dua hari pertama dievaluasi ternyata tidak ada perbaikan, bahkan makin menurun, mulai dari catatan hasil ECG, dan kadar cairan urin yang keluar. Sabtu malam, dari kamar biasa, dokter jantung yang dirujuk menyarankan untuk dirawat di ruang intermediate khusus jantung karena di sana alat-alat untuk memonitor cukup lengkap, dan kami pun manut. Esoknya kami bertemu dengan dokter penyakit dalam yang menjadi dokter utama menerangkan segala hasil pemeriksaan dari awal sampai akhir serta progressnya. Dan yang saya tangkap, prognosenya buruk. Perlu pertimbangan yang pas untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di rongga jantung dan paru, serta di daerah gastro atau perut. Akhirnya dokter utama memutuskan setelah konsultasi ke dokter ahli jantung, ahli ginjal, dan ahli darah,agar mama dicuci darah (hemodialise) pada hari selasa dan langsung ditransfusi agar Hb darah naik. Saya dan kakak tahu betul bahwa banyak resiko yang mengiringi, khawatir jantung mama tidak mampu menerima beban tambahan transfusi dan kondisi saat hemodialise itu, namun setelah mendengar penjelasan dokter utama (karena masih teman kakak sedari SMA), maka bismillah kami manut.

Hari selasa pun tiba, jantung kami rasanya seperti berdegup kencang lebih dari biasa, doa-doa kami panjatkan tiada henti, alunan murottal al quran dari mulut kami maupun dari mp3 tidak pernah berhenti agar memberikan ketenangan fisik maupun psikis untuk mama. Rasanya saya tidak sanggup saat mama dihemodialise, kondisi sesak nafas beliau membuat tubuh tidak berhenti bergerak untuk mendapatkan posisi yang nyaman, padahal selama proses sama sekali tidak boleh bergerak, terutama di bagian tubuh yang dipasang jarum selang darah. Beberapa kali mama menggerang karena kami tahan tangan dan kakinya. Kelu banget rasanya, saya sampai kepikiran, ya Allah kami ini menyiksa mama kami… astaghfirullah.. tak terasa air mata saya meleleh. Penderitaan mama gak sampai di ruang HD. Setelah proses HD selesai dan mengeluarkan kira-kira lebih dari 1 kg cairan, kami bersiap menghadapi kemungkinan ada tanda vital yang bisa drop: heart rate, tekanan darah, saturasi oksigen, pernafasan. Dan betul, setelah kembali dipasangkan alat unt memonitor, heart rate mama cukup tinggi dari sebelum di HD, saturasi oksigen berada diambang kadar baik, tekanan darah sempat turun, glukosa darah sempat hipoglikemik (turun/kurang dari normal) dan mama mengalami rasa gelisah serta delirium (dikarenakan proses adaptasi perubahan kadar ureum darah yang menurun drastis setelah diHD) yang membuat kami cukup panik dan gelisah. Kami lewati malam kritis itu dengan mata awas. Alhamdulillah lewat tengah malam kondisi cukup stabil dan mama bisa tidur.

Kami masih perlu melewati beberapa hari lagi di ruang intensif ini, mama harus betul-betul stabil agar bisa dipindah di ruang perawatan biasa. Rencananya hari ini (10/6) mama akan dihemodialisa lagi, karena HD kemarin memang sempat dikurangi waktunya dari waktu HD umumnya dikarenakan melihat kondisi mama yang sesak nafas.

Temans, mohon doanya yang terbaik, agar semua proses ikhtiar (usaha) kami dalam upaya mencari kesembuhan mama dapat bernilai dan berarti di hadapan Allah, dan tentu kesembuhan menjadi harapan kami.

I Love u Mom..