Makan-Makan

Kali ini jalan ke Coto Makassar Daeng di Jalan Basuki Rahmat, dekat simpang lampu merah angkatan 66.
Coto yang isinya satu macam (daging saja, hati saja, atau jeroan saja) harga Rp.12.000,-  kalau isinya campur RP.10.000,-  dan es pisang hijau Rp.5000,-
ah, lumayan murahlah, ditambah lagi ada ketupat kecil-kecil yang tidak dihitung (sudah include harga coto), jadi bisa nambah sampai nampol kenyangnya hehehehe. Tempatnya yang nampak seperti warung biasa dan kursi-meja yang tak telalu banyak membuat suasana kurang cozy. Kalau sekedar mengenyangkan perut yang lapar, tempat tersebut gak akan jadi masalah. Untuk rasa, recomend buat dicoba. Silahkan…

Coto Makassar Daeng

Es Pisang Ijo

January

January is a wonderful month.

Bulan Januari buat saya sangat berarti. Paling utama adalah karena di bulan ini saya dilahirkan (hyiiiiihaaaaa), merupakan permulaan awal tahun, dan beberapa orang yang saya taksiri (dulu) juga kebanyakan lahir di bulan Januari hihihihi (ditimpuk barbel).

Anyway, saya mau cerita sedikit. Bulan lalu saat ngejob bareng, dan suatu hari bareng seorang driver sekitar jam 3 an sore, kami mampir ke warung yang dulu sangat saya gandrungi tekwannya. Harganya yang lumayan murah, tempat yang strategis (tempat mahasiswa diturunkan akhir dari bis Indralaya), begitu turun bis langsung disambut uap tekwan, model, mie celor, dan es campur. Tempatnya ada di samping BBC (toko buku Anggrek, dulu). Jadi karena kenangan saya akan tempat tersebut, saya mengajak seorang petugas dan driver mampir makan ke sana. Ternyata tekwan habis, yang ada tinggal mie celor dan model. Saya pesan model, sedangkan driver ini gak suka makanan sebangsa tekwan, model, pempek. Lalu saya tawari untuk memesan mie celor. Mie celor di sini agak sedikit aneh, menurut dia (si driver) rasanya nggak enak, dan dia cuma memakan setengah porsi. Masa sih gak enak? batinku. Awalnya, saya mampir ke warung ini untuk menekan pengeluaran di samping saya gak bawa cash lagi untuk konsumsi kami bertiga (karena kaget siang tadi saya harus membayar makanan kami bertiga seratus lima puluh ribu!), saya pikir saya yang pegang uang, saya gak mau ditentir driver karena sebelumnya makan siang kami, beliaulah yang menunjuk tempat makan. Tapi ternyata, lain lidah lain selera. Driver ini ternyata sama sekali belum pernah mencicipi makanan yang namanya Mie Celor!! (baru pindah ke palembang 3 tahun).

Alhasil, dibeberapa kali kesempatan berikutnya saat ada pengawas dari pusat, saya menawarkan untuk makan mie celor di tempat favorit saya di simpang 26 Ilir rumah susun (Mie Celor HM.Syafei Z 26 Ilir), driver selalu menawari alternatif lain. Saya bilang, kalau mie celor yang di sini beda sama yang di warung tempo hari. Tapi tetap kebaca lagak beliau (driver) yang gak mau kesana.

Dan ketika kemarin saya sendiri yang menjemput pengawas pusat, dan pengawas pusat sendiri yang bilang kalau pengen nyobain mie celor itu. Berceritalah saya tentang mie celor yang kuahnya pake udang dan agak kental dll, dan tempat ini juga jadi langganan gubernur sebelumnya. Dan yang wonderful nya buat saya, bahwa saya melihat piring si ibu ini (pengawas pusat) bersih, tinggal bersisa sedikit saja kuah. Hehehe, berarti mie celor ini sesuai dengan seleranya, dan sudah seharusnya juga mathuk dengan lidah driver kami sebelumnya. Sayang sekali ya beliau belum sempat mencicipinya.

Kesalahan saya di sini adalah, menciptakan kesan pertama yang tidak baik pada driver terhadap mie celor warung yang memang jelas kualitasnya beda dengan mie celor 26 ilir. Jadi benang merahnya adalah penting mengenai kesan yang baik in first sight untuk orang yang sama sekali belum pernah mencoba.

Mari makan mie celor!!

Mie Celor

gambar hasil gugling aja..