Mulut Gigi Rumahku

Sejak empat hari yang lalu saya nongkrong di Poli Gigi dan Mulut untuk ngambil sampel keperluan tugas akhir. Bermacam polah gigi yang ditemui. Tiba-tiba rasionalitasnya untuk jadi the agent of preventive  change jadi membara hahaha. Ada pasien yang mengatakan bahwa giginya sudah gak ada (tanggal), ternyata pas dicek untuk buat status, yang ada adalah sisa akar. Kemungkinan gigi karies sudah lama hingga mahkota gigi hilang. Ada pasien yang ingin cabut sisa akar gigi dan kebetulan ditemukan ada sedikit pembengkakan dan rasa sakit, tapi gak mau dikasih resep obat premedikasi sebelum dicabut. Ada pasien yang mau cabut sisa akar juga tapi takutnya bukan main sama jarum suntik. Ada yang karang giginya banyak, ada juga yang sedikit. Ada yang giginya gampang dicabut, ada juga sulit.

Masih banyak tugas kita, masih panjang jalan kita. Mulai dari mana? Let’s make preventive clue..

Advertisements

Curhat Gigi (part two)

Aduh Ndah… gusi mbak kalo lagi bengkak-bengkak sakitnya minta ampun… bisa-bisa Mas Afin mbak marahin terus“. Nah yang ini lain lagi ceritanya. Kasusnya seorang mbak yang curhat (teman saya juga), sedang hamil muda anak pertama, mengalami gusi bengkak-bengkak dan nyeri ketika memasuki usia kandungan sekitar tiga bulan, dan sekarang sudah enam bulanan. Gusinya masih bengkak. Doh! kesian banget deh. Jadi nyesel, kenapa pas kuliah periodonsi gak saya tanyakan kepada dosenku yang cantik itu, gimana rasa gusi beliau ketika hamil dan diapakan *weheheheheeh, ngayal! Oke deh, gakpapa, saya masih bisa belajar dari literatur lain dan pengalaman sejawat saat hamil.

Intinya, ketika hamil memang terjadi eksodus hormon besar-besaran *halaaahh bahasa kuh! Maksudnya terjadi perubahan hormonal yang cukup signifikan. Morning sickness atau mual-muntah pada pagi hari itu juga salah satu penyebabnya dari perubahan hormonal. Jadi ya kalau mau punya anak harus bersabar *uhuk*. Saya gak akan nganar ngebahas si morning sickness. Fokus saya pada masalah pembengkakan gusi, atau istilah ngingrisnya pregnancy gingivitis. Istilah gingivitis kehamilan dibuat untuk menggambarkan keadaan klinis peradangan gingiva yang terjadi pada kebanyakan wanita hamil (Lynch,.l984) *cuii lengkap uy*. Ada bermacam hal yang bisa dilakukan untuk perawatan gingivitis ini. Namun initnya adalah sang ibu hamil menjaga kondisi rongga mulut agar senantiasa bersih, bila perlu bisa menggunakan obat kumur yang banyak dijual dipasaran atau yang tradisional macam daun sirih pun boleh.
Ada baiknya sebelum merencanakan kehamilan, sang ibu juga memperhatikan kesehatan rongga mulut maupun gigi sedini mungkin. Bila ada gigi fokal infeksi (penyebab infeksi) yang mungkin perlu dicabut, scalling atau pembersihan karang gigi, penambalan gigi, sampai masalah identifikasi ada atau tidaknya penyakit kronis, ataupun kanker. Jadi bisa dicegah dan diobati lebih awal sebelum terjadi kehamilan
Saya jadi berpikir, mungkin kita pernah mengikuti kursus atau seminar pranikah, atau perawatan kecantikan pranikah, nah bila nanti saatnya saya akan membuat paket perawatan gigi dan mulut lengkap pranikah hihihihi *curcol*
NB : Kalau rajin, bisa baca-baca sumber unggahan tulisan saya dari sini
Pesan sponsor : Jaga kesehatan gigimu, cegah gigi berlubang dengan menyikat gigi minimal dua kali sehari, dan sebelum tidur!

Curhat Gigi (part one)

Sudah lama gak update tulisan. Lagi gak mutu nih! Saya bagi-bagi cerita saja tentang hal-hal yang masih teringat di liang otak saya tentang beberapa moment yang melintas dan memendam di memori terdalam *sigh*

Tepat tadi siang, saya kebetulan shalat ashar di Masjid Agung dan bertemu Mbak Yeyen (temanlah). Dia tanya sebelumnya tadi siang darimana, ku jawab saja tadi dari bimbingan. Kemudian beliau melihat berkas pengesahan judul, lalu bertanya, “Eh, ekstraksi apan sih?”. “Cabut gigi mbak”, jawabku seadanya. Kemudian pertanyaan berkembang, mulai dari gimana sih gigi itu boleh dicabut? Lantas saya bercerita apa tujuan-tujuan perawatan gigi geligi itu, antara lain yang paling penting adalah mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rongga mulut. Sisa akar sekalipun bila sesuai indikasi bisa direstorasi sedemikian rupa tanpa perlu dicabut. Tentunya dalam pemeriksaan harus memperhatikan gigi dan yang empunya gigi secara menyeluruh, sampai dibuat keputusan untuk dicabut.

Saya contohkan satu kasus dari dosen saya yang kebetulan bertugas di puskesmas salah satu kecamatan yang banyak premannya (ehm… gak perlu disebut yah, nanti ada yang nimpuk saya pake sajam hehe). Ceritanya datanglah seorang preman bertato dan berbadan besar ke dokter gigi di puskesmas tersebut. Dia mengeluh sakit gigi dan tidak bisa tidur, sehingga mati-matian meminta agar giginya dicabut, tapi dokter gigi yang bertugas enggan mencabutnya karena gigi si preman sedang sakit dan bengkak, maksudnya agar diberi obat-obatan sampai nyeri dan bengkaknya reda baru kemudian dicabut. Sang preman tidak mau tahu, sang dokter gigi pun diancam!! Karena merasa diancam, akhirnya sang dokter gigi mengeluarkan kartu excel eh.. kartu AS-nya. “Begini saja, kalau bapak tetap mau dicabut, silahkan Bapak tanda tangani surat pernyataan ini, bahwa apabila Bapak meninggal setelah saya cabut giginya, maka saya tidak bertanggung jawab sama sekali atas kematian bapak”. Si preman bengong dan bergidik. “Idih, masa’ iya dok nyabut gigi bisa meninggal?”. Penjelasan di awal tadi ternyata lewat saja di kuping preman. Dokter gigi pun dengan sabar menjelaskan perihal penyebabnya. Jadi begini (pake bahasaku sendiri ya..), gigi yang sedang sakit dan dalam keadaan bengkak adalah gigi yang sedang dalam keadaan infasi besar-besaran oleh kuman, tapi kumannya terlokalisir hanya di dalam gigi, daerah syaraf, dan pembuluh darah yang ada di dalam saluran akar gigi. Apabila dilakukan pencabutan maka akan ada pembuluh darah yang pecah, dan kemungkinan infasi kuman pun turut serta bebas masuk ke dalam pembuluh darah di luar gigi, pembuluh darah tersebut bisa beredar ke mana saja, tidak luput jantung sebagai pemompanya. Dan bila kuman-kuman tersebut mencapai atau masuk ke jantung kemudian melekat ke daerah vital ruang jantung maka bisa terjadi suatu hal yang tak diinginkan, mulai dari kerusakan jaringan dan sel di jantung, sampai akhirnya jantung rusak dan tak bisa memompa darah lagi, means anfal alias koit, atau menuju alam baka, bisa juga dikatakan meninggal.

Dan akhirnya preman pun manut pada nasehat dokter gigi.. hehehe…

Pesan sponsor : Jaga kesehatan gigimu, cegah gigi berlubang dengan menyikat gigi minimal dua kali sehari, dan sebelum tidur!

Gigiku, Gigimu

Beberapa tahun silam, yang saya pelajari dalam matakuliah Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat adalah mengenai pencapaian Indonesia Sehat 2010. Seharusnya, goals yang ingin dicapai sudah terpenuhi. Namun sekarang, pandangan tujuan kita berubah fokus pula pada MDGs 2015 (Millenium Develepmont Goals), terkhusus di bidang kesehatan. Kembali dikerucutkan, maka didapat profil penyakit gigi dan mulut di Indonesia yang terbesar adalah karies. Berdasarkan penelitian seorang ahli dari Jepang yang meneliti tentang usia kemunculan streptococus mutans pada anak-anak di Jepang dimulai pada usia 2 tahun. Namun, ketika penelitian ini dikembangkan di Indonesia, bakteri streptococus mutans yang menjadi penyebab timbulnya karies, muncul di mulut mulai dari usia enam bulan, bahkan kurang.

Continue reading