Setelah Sekian Lama

Masih berada di tanggal 16 April 2015, menyedihkan sekali melihat blog ini terakhir diupdate tahun 2012, dan dalam kondisi ‘pindahan’ layanan. Tiga tahun belakangan bukannya gak ngeblog (iya sih teteup aja jarang ngeblog), tapi kira-kira tahun 2014 di bulan September saya kehilangan jejak rekanan yang mengurusi domain pribadi saya, hingga akhirnya hangus tanpa sempat tertolong sedikitpun, termasuk menyelamatkan tulisan-tulisan terdahulu. Kecewa sih… Pake banget sebetulnya. Tapi ya, karena kehilangan jejak beliau, maka saya bisanya kesel sama tembok! hehehe

Balik deh ke blog ini…

Kenapa ngeblog lagi?

Karena saya merasa ‘butuh’ untuk menyalurkan curcol-curcol saya seperti yang dulu sering saya lakukan. Curcol di blog yang membuat saya semakin pandai menyusun kata, curcol di blog yang membuat saya semakin sabar, curcol di blog yang membuat saya merasa bersih dari dosa mengghibahi orang, dan yaa berharap saya lebih luwes dan legowo. Efek lain dari ngeblog yang lainnya yaaa nuntut ajalah di belakang hehe..

Walau waktu untuk curcol gak sebanyak dulu (sebelum nikah dan punya anak), yaaa kita coba saja..

Eh, ngomong-ngomong pas baca tulisan-tulisan lama di blog ini jadi senyum-senyum sendiri (kadang ngakak), ternyata saya norak ya (atau sekarang makin dewasa) cieee…

Pindah Rumah Blog


Yak, setelah ngikutkegiatan idBlogNetwork di aula gedung Telkom 4-5 Juni kemarin, akhirnya dengan segenap keyakinan, saya pindah rumah blog. Ini semua dilakukan dalam rangka menghormati TOS-nya wordpress.com. Karena saya belum mampu lagi untuk beli domain sendiri, jadi masih pake yang gratisan dulu deh heheGak semua tulisan saya pindahkan rumah baru saya, hanya beberapa saja. Juga id lama di wordpress tidak dihapus. Karena bagaimanapun juga, wordpressadalah cinta pertama saya cieee…Mudah-mudahan di ‘rumah‘ yang baru ini, saya bisa berimprovisasai lebih lega. Mari mampir.. mampir… 🙂


Sumber gambar : gugling

Rumah Allah

at Baitullah, Makkatul Mukarramah

Alhamdulillah mendapat kesempatan bersujud di dua tanah haram (perjalanan 5-15 Mei 2011). Shalat langsung menghadap ka’bah, kiblat umat islam sedunia di Baitullah, bersujud dan menghambur doa di tanah raudhah, tanah yang turun dari surga di antara mimbar dan makam Rasul. Tidak ada kata yang pantas terucap selain syukur yang sebesar-besarnya.

Big thanks God!

Surat untuk Ayah

Hingga sampai di titik ini, saya masih tidak puas, tidak ada yang bisa dibanggakan untuk dipersembahkan. Tidak berprestasi, kuliah terlambat, apalah… Ayahanda, maafkan anakmu yang tidak serius mengabdi, tidak dapat mempersembahkan yang terbaik seperti yang engkau kehendaki, tidak bisa membuat senyum tersungging di pipi tua mu. Anakmu ini hanya pecundang zaman yang tidak tahu cara berterima kasih.

Sekian.

Jalan-Jalan

Awal Januari 2011 lalu adalah kali pertamanya saya ke Pagaralam, Sumatera Selatan, yang terletak di kaki Gunung Dempo. Letak kotanya pun sudah berada di dataran tinggi, masuk daerah perbukitan bukit barisan. Waktu itu saya ketemu mbak Cici untuk pertama kalinya, seorang blogger asal Pagaralam dan sempat merantau ke Jogja dan Jakarta. Dia juga sharing tentang jadwal pernikahannya yang akan berlangsung 26 Februari 2011 dan saya wajib datang.

Namun semua yang terjadi tak sesuai rencana. Oleh karena sesuatu hal, di tanggal yang sama kakak saya juga akan berangkat, sehingga hukumnya wajib bagi saya berada di rumah (apasyeeehh). Jadi keberangkatan saya ke Pagaralam dimajukan. Hari Senin 21 Februari 2011 saya bertolak dari rumah. Palembang-Pagaralam bisa ditempuh kira-kira 8 jam. Dari Palembang saya menggunakan jasa travel Telaga Biru, ongkosnya Rp.80.000,- saja. Dan saya pulang hari kamis pagi dari Pagaralam.

Selama empat hari PP tersebut saya manfaatkan untuk istirahat mengenal kebiasaan-kebiasaan warga setempat pada acara pernikahan. Dari logat bahasa mereka sepintas terdengar seperti logat orang Minang. Kekeluargaan dan tolong menolong di sini masih sangat kental. Saudara-saudara yang berada di dusun lain jauh-jauh hari sudah datang untuk membantu persiapan. Mulai dari membuat kue, menyiangi ikan, merebus ayam, dll. Terus terang saja, kebiasaan seperti ini saat saya masih SD juga sangat kental di keluarga Mama. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkurangnya waktu luang keluarga dan kerabat dikarenakan kesibukan kerja dsb, maka kebiasaan-kebiasaan itu mulai berkurang. Misalnya, masak makanan untuk hidangan tamu dulu dikerjakan sendiri oleh keluarga, sekarang sudah tinggal pesan saja di catering; kue yang biasa dibuat sendiri, sekarang sebagian sudah bisa dipesan dengan pembuat kue khusus. Tetapi, sejauh ini tidak mengurangi nilai-nilai kekeluargaan.

Rencana untuk hunting foto selama di Pagaralam juga tidak bisa dilakukan, karena pengantin wanita harus direm untuk berkendara hehehe. Beberapa foto saya ambil di sekitar TKP dan di perjalanan.

Travel dan tempat istirahat di Cambai, Prabumulih

Jalan di depan rumah mbak Cici

Sore senja di depan mata

Salah satu sudut kota Pagaralam

Anyway, barokallah untuk Elsi Santi aka. Cicisilent dan Iman Sulaiman atas pernikahannya, semoga barokah dan dikaruniai banyak anak dan banyak rizki… amiiin… hehehe