Lampu Merah (part three, end)

Iya, saya memang tidak terlalu pintar, dari dulu juga seperti itu. IPK kelulusan saya pas-pasan, pas untuk hidup. Bahkan ketika ikut try out SPMB dulu persen nilai saya paling stabil di titik 35%, jarang mencapai angka 50% (untuk simulasi lulus minimal di kedokteran). Dari kemampuan saya yang ngepas ini, saya Cuma bisa bermain taktik di nilai, yaitu menjawab pertanyaan yang pasti bisa dijawab saja di soal-soal SPMB. Misalnya ketika di soal Matematika-IPA, sangat jarang saya bisa menjawab dengan benar soal tentang persamaan logaritma, jadi saya cukup fokus pada persamaan dasar. Yang logaritma sudah tentu tidak akan dikerjakan. Kalau begitu, sekeras apapun usaha saya, kalau memang tidak bisa ya tidak bisa. Susah payah saja! Dan mungkin hal itu masih berlaku sampai sekarang.
 


Dan akhirnya ketika Senin pagi kami coba lagi menghadap kepala poli agar diberi kebijaksanaan. Karena jika yang keluar hanya pernyataan lulus dan tidak lulus saja, alangkah malang nasib yang tidak lulus. Pertama kami sudah membayar SPP dan TPP yang besarnya dua juta Sembilan ratus empat puluh ribu rupiah, kedua kami harus menunggu rolling berikutnya selama kurang lebih enam bulan. Jika tidak ada kebijakan pada masa itu, maka bagaimana jika hal yang sama akan terulang lagi pada ujian bulan Januari? Metode ujian yang berbeda, tidak adanya pengarahan sebelum ujian, dan tidak adanya kebijakan setelah itu, menjadi permasalahan utama kami. Dan hasil tatap muka dengan kepala poli adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Masalah internal yang terjadi antara poli dan kampus juga yang (bisa jadi) menyebabkan kami sebagai “korban”, karena dikedua belah pihak, aspirasi kami hanya disalurkan tanpa ujung, tanpa ada woro-woro yang memberikan kami jalan keluar. That’s not fair!

 
Dan setelahnya kami juga menghadap kepala program, hasilnya juga sama. Bahwa proses membutuhkan waktu, bahwa kami tidak mendapat opsi apa-apa. Capek saya hari senin itu, mengendara motor melewati jalan-jalan dan membawa serta rasa kantuk di atas motor. Sempat terbesit pikiran buruk saya, tapi ah… sudahlah, semua sudah lewat. Prognosenya buruk, sepertinya akan tetap begini.
 
Sorenya untuk menghibur diri, saya pergi buka puasa bersama teman-teman saya dan beberapa kejadian setelahnya yang telah saya ceritakan di partisi pertama. Pulang dari donor darah malam itu hampir jam sepuluh malam ketika ku masuki halaman rumah, ternyata mobil sedang keluar. Rupanya ayah dan kakak sedang pergi kontrol ke dokter ayah. Pas ketika memasuki rumah, meletakkan tas dan menggantung jaket, ayah dan kakak juga pulang. Tanpa disengaja saya melihat waktu yang bagus untuk menceritakan permasalahan saya selama semingguan yang bikin stress ini. Biasanya memang, selain membuat plan A, saya juga membuat plan B, C, D dan seterusnya. Tapi tidak saya ceritakan ke orang lain, karena jika saya ceritakan berarti saya sudah tidak percaya pada plan sebelumnya. Akhirnya setelah saya paparkan semuanya, saya lalu ditanya apa rencana berikutnya. Awalnya saya jawab tidak tahu, lalu saya ceritakan saja jika disetujui maka saya akan melaksanakan plan B. Dan Alhamdulillah, ayah paham dan tidak keberatan. Mungkin (pastinya) ada raut kekecewaan dari raut mukanya. Bagaimana tidak, saya yang kuliahnya terlantar lama dan bukan dengan biaya yang sedikit, hanya bisa berakhir sebagai S.Kg, tidak bisa membanggakannya seperti putrinya yang nomor dua sampai ke jenjang Sp.KK., atau putra nomor tiganya yang MSc. Saya memang gak ada apa-apanya, gak ada yang bisa dibanggakan. Itulah, menyedihkan.
 
Di saat seperti ini, saya jadi teringat almarhumah mama yang selalu menenangkan. Jika saya gagal menjadi juara atau gagal dalam ujian, beliau hanya akan mengatakan, “ya sudah gak apa-apa, kan masih bisa diulang lagi”. Atau dulu, ketika saya menangis menjelang acara pernikahan kakak saya berbarengan dengan pengumuman hasil ujian yang saya tidak lulus di mata kuliah itu, saya menghilang dan mencari kamar sepi untuk menangis. Saya hanya memperoleh amarah kakak saya saja bahwa seharusnya saya tidak membawa masalah ke dalam rumah, apalagi dalam keadaan repot seperti itu karena mama mencari-cari saya. Juga ketika Mario Teguh mengatakan, “Jangan pernah menceritakan permasalahanmu pada ibumu, karena ibumu akan turut khawatir dan terus memikirkan permasalahanmu serta dirimu, sampai masalahmu selesai. Dan ibumu akan kepikiran terus”. Maka sejak saat itu saya juga agak sulit terbuka dengan (bahkan) keluarga saya sendiri.
 
Tapi mau tidak mau, hal ini harus saya sampaikan, seburuk apapun ketakutan saya. Dan amazingnya setelah saya paparkan dan ceritakan, tidak ada yang menyalahkan saya, bahkan mereka (ayah dan kakak-kakak) mendukung saya untuk melakukan plan B. Itu adalah berkah paling luar biasa di Ramadhan ini. 
 
Walau sampai dengan hari ini, beberapa teman masih memperjuangkan agar bisa dikeluarkan kebijakan bagi yang tidak lulus, sesungguhnya saya sudah tidak peduli, saya hanya peduli pada perasaan mereka, maka saya tetap hadir ketika mendapat sms jarkom untuk kumpul dan berdiskusi dengan beberapa dosen kampus. Pun akhirnya nanti akan keluar kebijakan, barulah saya akan menimbangkannya lagi. Sistem pendidikan, sistem kebijakan, sistem ujian, curhat-curhat teman klinik yang laporan rekam medik pasiennya sering dilempar oleh dosen pembimbing, atau dosen pembimbing yang suka mengulur-ulur waktu ujian, atau dosen yang meneriaki koas persis di depan pasiennya, biaya SPP dan TPP tiap semesternya, sampai ke biaya rawat pasien yang dibayari sendiri oleh koasnya. Saya rasa dengan pertimbangan usia dan kantong saya yang mulai menipis, serta otak saya yang (mungkin menurut mereka) di bawah standar, maka saya dengan rasional tidak akan mengharap keajaiban apapun akan diterima sebagai koas. Saya sudah tidak peduli lagi dengan urusan koas dan klinik. Dan akan segera melelang alat-alat yang sudah saya punyai, juga baju koas yang sudah saya jahit, segera setelah dosen-dosen itu mengumumkan hasil rapat mereka.
Advertisements

One thought on “Lampu Merah (part three, end)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s