Destinasi (part two)

Jika mendengar kata “destinasi” maka yang terbayang adalah wajah innocent Siti Nurhaliza yang menyanyikan lagu “Destinasi Cinta”. Ah tapi biar agak dramatis, mari menyetel lagu “Trouble is a friend”-nya Lenka. Maka penderitaan saya akan menjadi sempurna.
 

Sebulan lebih sejak seremoni wisuda terakhir di bulan Juni, saya dan beberapa teman mulai mengencangkan ikat pinggang dan memekai ikat kepala, persis seperti pekerja-pekerja keras yang ada di tokoh kartun Jepang. Dua kubu Maret dan Juni mulai belajar keras secara berkelompok dan rutin bertemu dua hari sekali di perpustakaan bukit. Awalnya yang kami bahas lewat soal-soal pertanyaan yang ditanyakan di pretest grup Januari lalu. Dari pertanyaan yang ada muncul juga pertanyaan-pertanyaan yang baru. Dan terus saja begitu, makin banyak, makin bertambah. Ujian yang awalnya dijanjikan pertengahan Juli tak jua kunjung hadir. Kami mulai cemas, sekaligus mulai kesal, karena belajar kami sudah di luar orientasi yang destinasinya tidak jelas kapan. 
 
Hingga akhirnya kami berada pada tanggal 5 Agustus hari Jumat kami baru mengetahui bahwa pretest akan dilaksanakan tanggal 8 pada hari senin. Sontak kami semua kaget, dan cemas. Belajar bersama kami ganti dengan belajar mandiri di rumah masing-masing. Dan akhirnya kami tiba di ruang diklat pada hari Senin pagi, menerima dua lembar soal yang di luar perkiraan kami. Soal kasus, Cuma empat bijis yang kami jawab rata-rata empat sampai lima halaman. Ternyata kaget kami belum selesai sampai jumat kemarin, tipe soal yang kami bayangkan sungguh di luar dugaan. Soal kasus adalah soal terberat dan perlu analisa panjang, belum lagi ini dijawab dengan essay. Selesai ujian pagi itu, kami diberitahukan bahwa keesokan harinya akan ada ujian labskill dan ujian lisan. Kami pun pulang, dan bersiap menghadapi besok.
 
Kami tiba pukul 7.30 teng di rumah sakit, kabarnya ujian lisan akan dilakukan di poli klinik. Dan saya serta teman-teman yang lain menunggu sampai kami enggan lagi membuka-buka catatan saking lamanya. Kira-kira pukul 10 kami baru didatangi oleh petugas dari diklat yang mengabarkan bahwa hasil ujian kami kemarin tidak ada yang memenuhi standar nilai dan oleh karena itu kami tidak bisa mengikuti ujian labskill dan lisan. Kami pun menghadap kepala poliklinik, mengkonfirmasi info dari diklat, meminta kebijaksanaan remedial ujian kemarin. Setelah diceramahi beberapa saat, kami disuruh menunggu hingga tim klinik selesai rapat. Otomatis, saya menutup buku rapat-rapat ke dalam tas, karena sudah tidak mungkin lagi siang ini ujian lisan maupun remedial. Kami pun menganggap ruang tunggu poliklinik itu seperti ruang tunggu bandara. Karena sudah agak siang, ada yang selonjoran, ada yang kepalanya sudah nemplok manis ke dinding, bahkan berbaring, nyaris semuanya tidur antara setengah sadar sampai tidak sadar. Hingga pada pukul satu siang kami baru mendapat kabar hasil rapat kalau remedial akan dilaksanakan pada tanggal sebelas. Kami yang banting tulang belajar kelompok rasanya agak sulit menerima kenyataan bahwa tidak ada yang mencapai nilai target. Dan kami pulang, serta melengangkan satu hari lagi untuk belajar. 
 
Tepat pada hari kamis, kami gelar ujian remidial. Bentuk soalnya adalah multiplechoice question enam puluh biji, kontennya campur antara teori dan kasus. Dan pengumuman hasil ujian hari Sabtu. Sejak pagi kami sudah menunggu. Berulang kali menelpon bagian diklat menanyakan apakah sudah ada pengumuman. Berulang kali sms bagian klinik apakah nilai sudah bisa dilihat. Sampai akhirnya menunggu tanpa kepastian sekitar pukul 10.30, kami memutuskan untuk pulang tapi sebelumnya mampir ke bagian diklat. Pas ketika kami masuk ke gedung diklat, satu sms masuk ke inboxku mengabarkan tentang hasil ujian remidi. Dari nama yang lulus tak tampak namaku, hanya enam orang dari lima belas orang yang ikut ujian yang lulus. Leherku menegang, dan segera ku kabari teman yang ada di sekitarku. Mey, yang menjadi konco belajarku selama setengah bulan lebih, seketika menangis sambil berdiri, menutup matanya dengan sapu tangan handuk. Dan Hana, seorang kristiani yang terkenal sabar, tiba tiba menangis sesegukan dan terduduk di depan pintu. Kepalaku berasa tidak ada di tempatnya. Tanpa buang waktu, kami segera menemui sekretaris poliklinik yang tersisa di ruangan. Dan dengan pernyataan bahwa dia tidak memiliki wewenang apapun terhadap pengumuman yang keluar, menutup jalan keluar kami. Karena hari ini sabtu dan kepala klinik sudah tidak ada di tempat, kami memutuskan untuk menenangkan diri masing-masing di rumah, dan akan bertemu lagi di hari senin.
 
Pulang? Dengan muka sembab? Tidak mungkin! Setelah lengkap memakai masker dan helm, sepanjang jalan saya mulai menangis, menangis kencang sambil menarik kencang gas di tangan. Saya galau? Pasti! Saya pergi ke masjid favorit, di sana cukup nyaman, bahkan untuk tidur siang. Setengah hari sampai jam berbuka saya di sana. Mematut diri di dinding setelah puas meratap dan sempat tertidur. Yang paling saya takutkan adalah melihat kekecewaan pada wajah ayah saya ketika akan mengabarkan ketidak lulusan pretes ini. Saya kalut.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s