Lampu Kuning (part one)

Ini bukan kisah lampu kuning yang ku terabas beberapa pekan lalu. Tapi ini tentang hari ini, hari panjang yang melelahkan dan berakhir dengan kelegaan, yang ceritanya saya bagi dalam beberapa partisi.
Sore ini (Senin,15/8), saya mempunyai agenda kecil untuk ifthor jama’i (buka puasa bersama) dengan sahabat-sahabat di kepanduan akhwat. Betul-betul agenda kecil yang membuat saya cukup terhibur. Bertemu teman-teman seperjuangan, sepersusahan, sepengasingan *halaah. This is it, saat nunggu waktu berbuka, saya buka tweetdeck dari robot ijo saya yang sudah beberapa hari ini gak sama sekali mengupdate status (tandanya lagi galau tingkat dewa). Terbacalah statusnya Dora yang lebih terlihat seperti pengumuman, bahwa temannya sedang mencari donor darah A untuk keperluan operasi keponakannya. Jadilah saya meng-sms Dora bahwa saya siap jadi donor. Entah apa yang ada dipikiran saya saat memutuskan untuk mendonor. Mungkin saya hanya ingin membuang kelebihan darah (gak masuk akal kan yak?!). Lalu saya mendapat nomor kontak temannya itu, Frengky, dan menghubunginya. Saya berpesan donornya selepas magrib saja, sekitar jam 7an.

 

Saya melonyor saja ke bank darah PMI dan mengabari Frengky (temannya Dora tadi) bahwa saya sudah di tekape. Karena sms-sms-an yang geje (gak jelas maning) akhirnya saya malah diminta untuk menemui keluarga bibi dan pamannya dulu di sal bedah E. Saya merasa bahwa dia dan keluarganya bau-baunya agak kurang paham cara mengurus tetek-bengek, hal-ihwal, bunga rampai dalam hal pengurusan donor darah. Waduh, saya tahunya cuma ruang instalasi bedah, bukan ruang rawat bedah, bagimane ya? Padahal rumah sakit umum ini sudah jadi “hutan” garapan saya walau cuma sekedar melintas. Dan setelah beberapa menit akhirnya saya bertemu juga dengan  keluarga kerabatnya si Frengky ini. Ya, keponakannya tadi dirawat di sal bedah kelas tiga untuk penderita dengan askin. Ampun dah, ini kali pertamanya saya masuk sal bedah ini, prihatin banget, kayak kandang kambing. Dengan segala keprihatinan yang timbul di saraf otak saya, saya coba untuk ngobrol dengan orang tua pesakit ini, dan sepertinya mereka juga keluarga besar yang hobi bercerita. Saya tanya apa sakit anaknya, dan mereka menjawab anak mereka itu ada semacam jerawat tapi besar sekali, benjolannya di pipi dan ketiak. Dan setelah saya lihat anaknya, betul ada benjolan, tapi bukan jerawat, kalau perkiraanku ada semacam tumor jinak di kedua tempat yang disebutkan tadi atau semacam pembesaran kelenjar getah bening. Benjolannya masih bergerak dan tidak sakit. Ya mungkin mereka keluarga yang tidak pernah dirawat di rumah sakit, jadi begitu ada yang masuk RS langsung panik dan heboh. Saya maklum.
Setelah mengobrol macem-macem dan menunggu sampai jam 9 malam, barulah saya bisa diambil darahnya. Padahal menurut saya, dari ketika saya datang mestinya sudah bisa langsung diambil. Tapi ya nurut aja sama yang empunya hajat. Di ruang PMI, saya langsung mengambil blanko putih (yg merah untuk form data sukarelawan tanpa pasien penerima) dan mengisinya, memberikannya ke petugas, kemudian menunggu giliran nama saya dipanggil untuk diperiksa tekanan darah dan segera “ditusuk” jarum gede langsung ke arteri brachialis (eaaa saya masih inget namanya). Gak sampai 10 menit, 150 cc darah saya sudah keluar. Sampai di luar ruangan, saya pengennya segera pulang karena sudah lewat jam setengah sepuluh, tapi sambutan keluarga ternyata agak excited. Mungkin mereka semua takut jarum kali ya, sampai-sampai pamannya pun lebih mau kalau saya yang duluan mendonor *hodooh*. Sebelum pulang, saya dihadiahi satu cup telur ayam kampung berisi lima biji telur dan tiga kaleng susu beruang. Saya merasa agak berlebihan, tapi kata si ibu itu sebagai ucapan terima kasih dan anaknya minta didoakan agar cepat sembuh. Baru kali ini saya mendonor dengan ditunggui sekeluarga anget.
Banyak hikmah yang bisa saya ambil dari pertemuan saya dengan keluarga besar dari pinggiran Palembang itu, dan saya merasa sangat beruntung dengan segala pengalaman dan pengetahuan yang saya ketahui sampai dengan hari ini. Saya merasa beruntung mempunyai orang tua yang memperhatikan pendidikan anaknya. Dan dari rasa beruntung itu sudah seharusnya saya menunduk lebih dalam di hadapan Tuhan dengan ribuan rasa syukur, dan terus menumbuhkan rasa haus belajar. Walau di sisi lain, di sisi hati ini, masih ada luka dari hari-hari kemarin yang sangat berat. Bahwa ilmu pengetahuan yang saya kuasai sampai hari ini sama sekali tidak berharga, sama sekali belum pantas untuk segera diaplikasikan di dunia klinik, saat saya mengetahui bahwa dari hasil pretest koas saya tidak lulus. Itu lukaku, apa lukamu?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s