Journey to Haram Land

Kenapa sih dibilang tanah haram? apakah tanahnya gak boleh dipegang? hee.. maksudnya ‘haram’ adalah tempat di kota ini banyak terdapat larangan-larangan, diantaranya dilarang membunuh, orang yang bukan muslim dilarang masuk, dilarang menampakkan aurat di tempat umum, dll.

Rabu 4 Mei 2011

Dijadwalkan penerbangan ke Jakarta pukul 16 sore ternyata delayed sampai jam 21.30, anyeeeeesssss…. capek nunggu. Sampai di Jakarta kita menginap di Hotel Permata Bandara dikarenakan pesawat menuju Jeddah berangkat pukul 8 pagi. Karena urusan check in dan imigrasi memakan waktu maka kami harus tiba di bandara dua jam sebelum berangkat.

Kamis 5 Mei 2011

Pukul 01.00 dini hari setelah selesai mandi, semua travel bag harus dalam kondisi ready di depan kamar hotel karena akan diangkut duluan ke bandara jam 4 pagi. Tidur dengan baju yang akan dipakai besok (dan kemarin hehe). Bangun sebelum subuh, shalat, kemudian sarapan, setelah itu langsung kumpul di lobi hotel. Jam 5.30 kami sudah chao ke bandara. Ternyata cukup 15 menit saja jaraknya. Namanya juga hotel bandara. Saya membawa satu tas selempang kecil dan satu tas koper jinjing, isinya baju dan camilan. Penerbangan dengan Batavia Air take off jam 9. Penerbangan memakan waktu 9 jam 30 menit. Sesampainya di Jeddah pukul 14.30 siang, masih siang rupanya, tapi badan sudah lelah, belum lagi jet lag yang ampooon!

Kami diturunkan di bandara terminal haji. Terminal haji yang renovasinya terhitung baru, nampak cukup apik. Setelah urusan imigrasi selesai, kami berbondong-bondong menuju WC. Saya yang enggan pipis di pesawat menahan kencing 9 jam lebih hihihi. Ternyata penjaga WC bandara ini adalah orang Indonesia. Dia sambil menawarkan penjualan kartu perdana. Tawarannya satu kartu perdana 70 SR atau 200ribu rupiah. Sebetulnya aku tertarik, tapi ku pikir wuiiih mahal amit, nanti ajalah. Terus terang memakai kartu perdana lokal untuk menelpon ke PSTN di Indonesia sangat-sangat murah, tarifnya 1 SR/menit.

Lalu perjalanan di lanjutkan dengan rute Jeddah-Madinah kira-kira 5 jam. Sebelum sepenuhnya keluar Jedah, kami dipertemukan dengan muthawwif atau guide lokal orang Indonesia yang telah menetap di sana.

Alhamdulillah kami tiba di hotel kira-kira pukul 23.00 malam. Belum hilang jet lag yang disambung dengan goncangan bis, masih ketemu pula dengan lift. Goyangan-goyangan di kepala saya belum sirna… hehehe

Jumat 6 Mei 2011

Baik di Madinah maupun Mekah, azan subuh dikumandangkan 2 kali. Azan pertama adalah membangunkan orang dari tidur, yaitu tepat satu jam sebelum azan subuh sebenarnya. Dan ini adalah subuh pertama kami saat tiba di Madinah. Subhanallah… amazing! Dikarenakan hari jumat pula, maka masjid sangat ramai pengunjung. Di Saudi hari liburnya hari Jumat, maka kebanyakan mereka membawa serta keluarga untuk berlibur ke masjid Nabawi maupun Baitullah.

halaman Masjid Nabawi waktu subuh

di halaman Masjid Nabawi, siang-sore akan terbentang payung-payung yang lebar sehingga tidak kepanasan, dan malam hari akan menguncup lagi

Agenda pagi ini adalah ziarah ke makam Rasul dan Raudhah. Raudhah adalah area antara mimbar dan kamar (sekarang) makam Rasul, rasulullah menyebutnya sebagai tanah yang turun dari surga, salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa, barang siapa berdoa di raudhah maka Allah akan mengabulkan doanya. Karena area raudhah sangat sempit (lebarnya sekitar 6 meter), sedangkan yang ingin masuk ke sana adalah semua orang, maka dari shaf wanita Raudhah hanya dibuka pada jam-jam tertentu, ba’da isya dan ba’da shubuh. Terus harus mengantri pula. Umumnya jamaah dari malaysia dan indonesia digiring oleh petugas (asykar) terakhir sekali. Sebab, jamaah yang berasal dari Turki, Iran, Bangkadesh, India, umumnya kalau berdesak-desakan dan dorong-mendorong sangat kasar, dan jamaah asia tenggara sering terhimpit. Maka sejak 2006 diberlakukan bergiliran. Sebelum pintu menuju raudhah dibuka, asykar akan berkeliling dengan membawa papan nama besar bertuliskan nama negara dengan maksud agar orang-orang negara yang dimaksud bisa berkumpul menjadi satu kelompok-satu kelompok. Tapi beberapa orang masih saja bandel, entah dari negara mana, begitu pintu dibuka langsung berhamburan. Tapi orang Melayu umumnya sabar, dan menunggu setelah diberi penjelasan oleh asykar (yang diterjemahkan oleh cleaning service orang Indonesia), bahwa lebih baik mendahulukan orang-orang Iran, India, Turki dll karena sangat berbahaya berdesakan dengan mereka. Alhamdulillah kami bisa menapakkan kaki ke raudhah dengan selamat walau tetap rebut-rebutan tempat sujud.

Sore harinya mengunjungi Baqi, yaitu pemakaman para sahabat rasul dan orang-orang lain di samping masjid Nabawi. Wanita dilarang naik ke pintu masuk Baqi. Sepulang dari Baqi, tengah malamnya jantung Abah kumat, ini kali kedua kumat setelah yang pertama di bis dari Jedah ke Madinah. Dari sana barulah saya membeli kartu perdana dari ustaz muthawif kami agar kalau Abah perlu sesuatu bisa cepat dihubungi, seharga 100rb per kartu. Nah, bener kan feeling saya kalau kartu perdana di bandara kemarin itu kemahalan..

Sabtu 7 mei 2011

Hari ini ada city tour. Pertama kami ke masjid Quba. Kalau tidak salah sejarahnya masjid ini adalah masjid yang pertama didirikan Nabi setelah sampai hijrah di Madinah. Barang siapa yang shalat dua raka’at di dalamnya maka sama dengan pahala umrah baginya. Tempat kedua yaitu Jabal Uhud. Sembari jalan, muthawwif menceritakan sejarah perang uhud ini, dan saya nyaris nangis! karena ceritanya mirip dengan kejadian yang dialami kader kebanyakan sekarang (langsung pake kaca mata item). Setelah itu lanjut ke kebun kurma. Sebetulnya bukan datang ujug-ujug ke kebunnya beneran, tapi ke toko penjualan kurma yang ada persis di samping kebun kurma. Di sana dijual beragam kurma dan panganan oleh-oleh lainnya. Yang paling penting, kami membeli kurma ajwa atau kurma rasul. Dalam hadisnya, barang siapa memakan tujuh butir kurma setiap pagi maka ia akan terbebas dari sihir dan racun. Destinasi selanjutnya adalah jabal magnit, yaitu melintasi perbukitan dan pegunungan yang terdapat energi magnetnya. Di kanan-kiri jalan terdapat bukit-bukit yang konon dulunya tanah tersebut pernah terendam air lautan sehingga sisa bukit tersebut seperti palung-palung di laut dalam. Betul sekali, ketika kami pergi, mesin bis terasa berat, namun ketika pulang sang sopir tidak menyalakan mesin, cukup giginya dinetralkan dan bis berjalan sangat ngebut. Setelah dari sana kami melanjutkan perjalanan ke percetakan Quran, ini adalah percetakan Quran terbaik di dunia, dengan kualitas kertas dan tinta terbaik. Keluar dari sana kami dihadiahi satu buah Quran, dan di sini wanita juga di larang masuk.

Pasar Kurma

difoto dari bis, di antara jabal magnit

Sabtu malam ini saya berniat kembali lagi ngantri di Raudhah bersama teman saya Lia. Tapi malam ini ternyata agak kacau. Mungkin asykarnya ada kesalahan teknis. Seharusnya barisan melayu di urutan terakhir malah dibawa ke urutan depan, alhasil kami digencet sana-sini. Masya Allah, malam ini bener-bener perjuangan. Dan karena kegencet alhasil barisan kami pecah berhamburan. Mau gak mau ngikut arus atau kelindes. Setelah masuk di antrian bagian dalam, depan-belakang saya dan Lia dihimpit orang-orang berkulit hitam dan berbadan besar. Saya pasrah deh malem itu. Saya berdoa, ya Allah keluarkan kami dari himpitan ini dalam keadaan selamat, jika Engkau izinkan kami bersujud di tanah raudhah maka lapangkanlah jalan kami. Saya dan Lia pasrah karena sesak, kami yang kecil dan orang di depan dan belakang besar-besar. Perlahan-lahan kami maju ke antrian yang sesak. Entah bagaimana, antrian di depan langsung berhamburan dan tempat di depan kami lengang. Ku lihat orang di depan kami tadi sekarang sudah takbir dan sujud. Saya agak bingung sesaat dan kemudian memutar pandangan dari kiri hingga belakang, dan yang ku lihat adalah lengang. Allahu akbar! segera shalat dua rakaat, dan sangat bersyukur bahwa Allah mengabulkan doaku, langsung! Setelah keluar dari raudhah, saya dan Lia berpelukan dan menangis seoalah tidak percaya apa yang terjadi tadi. Malam yang luar biasa!!

Ahad, 8 Mei 2011

ini adalah hari penuh terakhir kami di Madinah. Setelah sarapan pagi dan sedikit pengarahan, saya berniat kembali lagi ke Raudhah. Alhamdulillah pagi ini lumayan teratur. Saya kembali lagi mengulang doa-doa seperti yang kemarin kami lakukan.

Ahad malam saya keluar flek, saya terlambat dua jam memakan obat anti perdarahan. Istighfar terus dan memohon-mohon supaya flek ini bisa berhenti. Dosis saya naikkan jadi dua kali, tapi tetap ada sampai keesokan harinya. Jadi agak bete’ dan stres!

Senin, 9 Mei 2011

Ba’da zuhur siang ini kami direncanakan akan segera berangkat menuju Mekah dan langsung berumrah. Saya yang dalam keadaan tidak suci ini harus tetap ikut mendampingi abah, karena di Madinah saja jantungnya hampir setiap hari sakit. Saya hanya khawatir beliau kelelahan. Kira-kira bus melaju pukul 2 siang dari hotel menuju miqat kami di masjid Bir Ali sekitar 20 menit, shalat dua rakaat di sana dan kemudian melafazkan niat, lalu menuju Makah dengan perjalanan sekitar 5 jam. Dan kami tiba pukul 8 malam kurang. Begitu sampai di hotel di Makah, kami langsung makan malam, lalu membersihkan diri (ke toilet, dll), dan tepat pukul 8.20 azan isya berkumandang. Setelah isya langsung menuju tengah baitullah untuk bertawaf, lalu sa’i di antara bukit shafa dan marwah. Pada putaran ke dua sa’i, jantung abah kumat lagi, lalu diberi obat dan saya minta kepada ustaznya agar menyewakan kursi roda sekaligus pendorongnya. Alhamdulillah umrah abah hari itu bisa selesai.

Selasa, 10 Mei 2011

Pagi ini tidak ada agenda khusus selain dhuha di masjid, dan saya masih tidak dapat melakukan ibadah. Kepada Abah saya juga menyarankan untuk istirahat dulu. Jadwal sore ini adalah ziarah ke daerah sekitar masjidil haram. Di samping masjid terdapat Jabal Qubis, dimana gunung ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga di atasnya terdapat penginapan berkelas hotel yang sangat mewah. Di sanalah tempat tinggal para imam masjid, dan tempat menginap  raja, keluarga dan tamu khusus kerajaan. Lalu kami ke tempat lahir Nabi yang sekarang tempatnya dibangun sebuah perpustakaan atau maktab. Di tempat ini tidak ada keutamaan apapun untuk melakukna ibadah apapun, sehingga orang yang berdoa di depan pintu atau meraba-raba pintu sering dimarahi oleh asykar yang lewat. Selanjutnya kami melewati tempat sa’i yang sudah diperlebar dan dibangun dua tingkat. Lalu melihat renovasi perluasan masjid yang sedang dibangun, yang pastinya akan lebih canggih.

Tempat sa'i, sisa bukit Shafa yang dipagari pembatas kaca. Difoto dari lantai dua

tempat sa'i dari bagian luar

Kiri: Jabal Qubis, kanan: Masjidil Haram. Bersama beberapa rombongan

Tempat Nabi dilahirkan, sekarang dibangunkan perpustakaan

Rabu 11 Mei 2011

City tour hari ini dimulai pukul 14.30 siang. Setelah paginya saya berdiskusi dengan dokter dan temannya ia sms, maka flek saya dinyatakan istihadhah. Dan saya segera bersiap membersihkan diri untuk sore ini agar bisa ikut mengambil miqat untuk umrah. Perjalanan sore ini kami mulai ke Hudaibiyah, terdapat peternakan onta di sana. Tak ada bedanya dengan peternakan sapi, yang pasti di sini bau juga heee.. Setelah itu menuju masjid Hudaibiyah untuk menunaikan shalat ashar dan mengambil miqat untuk umrah berikutnya bagi yang kuat. Selanjutnya mengunjungi museum ka’bah, yang didalamnya terdapat barang-barang lama ka’bah yang direnovasi, prototipe pintu ka’bah, sumur zam-zam, foto-foto dll. Lalu kembali ke hotel sebelum magrib, magrib berjama’ah di baitullah, dan melaksanakan umrah.

Kamis 12 Mei 2011

Pagi ini berziarah lagi di sekitar Makah mengunjungi Jabal Tsur, Jabal Nur, Jabal Rahmah, Arafah, Mina, Muzdalifah, dan terakhir ke Masjid Ji’ronah untuk mengambil miqat bagi yang akan berumrah lagi. Dan hari ini saya tidak mengambil miqat lagi.

Jumat 13 Mei 2011

Hari ini tidak ada agenda khusus, jadi fokus untuk ibadah masing-masing. Pagi ini saya dan abah jalan-jalan menyusuri baitullah dari lantai 2. Siang hari setelah jumatan, abah kehilangan tas kecilnya di WC, ada pencuri! tepatnya hilang saat mengambil air wudhu karena tas diletakkan di tempat semacam dashboard di atas pipa air. Di dalamnya terdapat buku-buku doa dan wirid, sejumlah uang, dan obat sakit jantungnya kalau kumat. Yang terakhir ini buat aku agak cemas. Lalu segera ke apotik, tapi tidak ada yang bentuknya tablet untuk dihisap. Segera sms kakak agar dikonsultasikan baiknya gimana. Untungnya obat makan sehari-hari ku letakkan di tas jinjing.

Sabtu 14 Mei 2011

Ba’da subuh pagi ini kami melakukan tawaf wada’, dikarenakan pagi setelah sarapan pukul 7 akann langsung bertolak ke Jeddah. Perjalanan Makah Jedah sekitar 3 jam-an. Lalu kami singgah di Balad Cornish, semacam pasar oleh-oleh. Kebanyakan yang dibeli di sini adalah makanan, seperti kurma muda, coklat, kurma coklat, dll.

Balad Cornish

Pukul 11 siang kami menuju tepi laut merah di dekat Masjid Fatimah atau masjid terapung. Masjid ini dibangun oleh seorang janda bernama Fatimah yang sangat kaya raya, dan sekarang beliau sudah meninggal. Kami makan siang di tepi pantai itu dengan angin yang cukup kencang hehehe. Seetelah itu langsung menuju ke bandara terminal haji lagi untuk segera check in. Di Jedah, penerbangan internasional mensyaratkan untuk check in dan mengurus imigrasi 4 jam sebelum keberangkatan.

Pesawat take off pukul 4 sore, dan tiba di Jakarta pukul 5.30 pagi. Setelah selesai mengurus imigrasi dan bagasi, serta check in lagi untuk berangkat ke Palembang, kemudian kami beristirahat di ruang tunggu hingga take off lagi jam 11.25.

Alhamdulillah…. semua sampai selamat!

Advertisements

4 thoughts on “Journey to Haram Land

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s