Jogja! (part 1)

Rabu, 30 Maret 2011

Tiket sudah dibeli sejak 2 minggu lalu, tiket promo, lumayan murah, naik delayed air, eh Lion Air dink! hehehe. Jam 8 pagi ini masih sempat ngumpulin petugas buat gajian. Jam 10 masih sempet uber-uber narasumber buat wawancara, yang pada akhirnya gagal ditemui karena beliau ngaret 1 jam sedangkan saya harus segerag berangkat jam 12.

Setelah kurang lebih dua tahun lalu saya ke Jogja, akhirnya bisa ke sini lagi. Pergi sama Abah yang belum pernah mengunjungi rumah kakak saya di sana. Pesawat Plb-Jkt yang jadwalnya 13.20, delayed kurang lebih setengah jam, masih lumayan biasa. sampai di Jkt jam tiga-an, ternyata delayed lagi 90 menit, jadi take off jam 17.30. Dan nyampe di rumah jam 8 maleeeemm… langsung mandi dan tidur! Ketemu keponakan-keponakan yang lucu dan pinter… rindu genap!!

Kamis 31 Maret 2011

Hari ini agendanya Abah pengen jalan ke Keraton. Akhirnya dianter Pak Paimin (sopirnya kakak), kami ke Keraton dan sekitarnya kira-kira sampai jam 12-an. Nah keraton ini gueedeee banget, persisnya luas kawasannya. Awalnya kami masuk ke Keraton di bagian utara, ternyata itu semacam tempat upacara, tempat menerima tamu, anjungan, hmm aku lupa apa istilah tepatnya. Sebelum masuk membeli tiket harganya kalau tidak salah Rp.3000,-/orang dan membayar izin pengambilan foto Rp.1000,-/kamera. Nah di sini ada pemandunya. Karena penasaran, jadi saya tanya, “Maaf pak, kalau pemandu turnya bayar gak??”, jawab si Bapak, “Memberi seikhlasnya saja mbak”. Nah, ini dia, saya senang, sampai saya sempat sms kakak (yg nggak ikutan), tanya berapa nih biasanya ngasih untuk guide-nya. Pasarannya 10-20ribu per guide.

Lanjut keluar dari sana menuju museum kereta. Nah di sini ada pengalaman unik. Kereta-kereta di sana umumnya dibuat oleh perusahaan Belanda, karena kelihatan di merk dan cap yang ada di badan dan roda kereta. Yang paling terkenal adalah kereta Kencana. Bagian atas kereta ini berhiaskan emas asli. Nah disampingnya ini juga ada kereta lain, tapi saya lupa nama keretanya. Konon kereta ini adalah kereta milik Nyi Roro Kidul. Kereta ini tidak lagi dikeluarkan dari museum karena selain sudah sangat rapuh dan tua usianya, juga karena keramat (katanya). Nah ketika kami minta difoto oleh guide dengan latar kereta itu, si guide yg sudah memegang kamera tiba-tiba bersimpuh dan meletakkan kamera kami di lantai. Lalu dia menangkupkan tangannya dan mengayunkan hingga kening. Hiii… tiba-tiba aku bergidik. Memberi penghormatan katanya, karena beberapa foto yang sering diambil oleh wisman sering kali gagal. Konon pada malam tertentu, terutama jumat kliwong, masyarakat sering ziarah dan melakukan ritual-ritual di depan kereta tersebut. Astaghfirullah…. Seketika aku bergidik lagi, dan kali ini benar-benar berhenti foto-foto. Bodo ah cepetaaaaannn keluaarrr….

Eh masuk ke ruangan berikutnya, ternyata ketemu kereta pengangkut jenazah sultan (hodoohh apalagi ini!). Konon, ketika Sultan Hamengkubuwono IX memerintahkan membuat kereta jenazah khusus sultan ini, tak lama kemudian beliau mangkat, tahun 1988. Asli, saya berhenti foto-foto.

Dari museum kereta, kita mampir ke toko souvenir yang menjual lukisan dan kain batik yang ditulis. Ya cuma mampir liat-liat doang, gak beli (selain gak terlalu minat).

Dari situ terus ke selatan, jalan kaki sedikit ke bagian Keraton lainnya. Sebetulnya bangunan Keraton ini menyatu, tapi dari ruangan ke ruangan hanya dipisah oleh pintu gate kayak gerbang. Nah dari ruang depan tadi pintu gerbangnya dikunci, entah mengapa. Jadi terpaksa memutar dari luar untuk masuk ke bagian tengah Keraton. Nah di sini memang lebih banyak ruangannya, ruangan kerja, ruang rapat, ruang menerima masyarakat dll. Banyak juga ruangan-ruangan yang sudah dijadikan museum, tempat menyimpan barang-barang historis, maupun pajangan foto-foto. Di sini lebih banyak abdi dalemnya. Abdi dalem Keraton ini hanya digaji Rp.2500,- per bulan. Cuma memang kerjanya gak full 1 pekan, hanya beberapa hari, dan diroling. Sempat juga melihat abdi dalem yang sedang bertapa di bawah pohon (maaf gak berani ngambil skinsyutnya). Di sini banyak terdapat pohon-pohon dan tanaman obat-obatan. Abdi dalem sendiri gak berani makan buah-buahan yang jatuh. Konon dulu ada pengunjung yang mengambil buahan kecil yang jatuh, pulang dari sana dia sakit perut dan perutnya membesar. Kemudian orang itu disuruh kembali ke keraton, disuruh minta maaf dan memberikan sajen bunga. Whewww…

Next agendanya cukup segitu.

Kereta Kencana

ini nih foto yang bikin bergidik -_-"

ini nih kereta jenazah Sultan

ini nih kereta jenazah Sultan

Ternyata Sultan HB IX suka fotografi. Perlu diketahui bahwa beliau kuliah di Belanda dan setelah lulus langsung pulang ke Indonesia dan kemudian menjadi wakil Presiden

Ketemu lukisan ini yang dipajang di atas lemari penyimpanan barang-barang antik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s