Yang Terlewat

Beberapa pekan terlewat, terlewat beberapa potong cerita. Banyak potongan.

Sebelas hari Nyai (nenek) dirawat di Rumah Sakit Pelabuhan (23 Januari- 3 Februari 2011). Usianya sudah 85 tahun lebih. Kondisinya menua, menurun kesehatannya walau tanpa penyakit kronik apapun. Dokter memaparkan semua hasil pemeriksaan dan hasil perawatan selama seminggu lebih tersebut. Bahwasannya, sebagai seorang dokter, beliau belum mengizinkan Nyai untuk dibawa pulang ke rumah. Tapi sebagai manusia, sebagai kerabat pasien, dokter akan mengizinkan Nyai dibawa pulang dengan syarat peralatan di rumah sudah mumpuni untuk merawat Nyai.

Kemudian, kami mulai membeli beberapa peralatan perawatan di rumah. Mulai dari tiang infus, tabung oksigen, kasur dekubitus, dan juga menyiapkan perawat yang siap datang setiap hari. Nyai pulang dengan selang oksigen, selang makanan, selang infus, dan selang kateter masih terpasang. Alhamdulillah luka dekubitus di daerah tulang ekornya cepat mengering setelah memakai kasur khusus. Makanan cair dan obat dimasukkan via selang NGT atau selang makanan yang terpasang di hidung. Saya dan ayuk sudah terbiasa menyonde makanannya sendiri, membersihkan luka, mengganti infus.

Hingga suatu malam Senin 7 Februari sekitar pukul 22.00 saya melihat nyai sesak nafas lebih dari biasanya, dadanya naik turun. Segera ku haluskan obat sesak nafasnya dan disonde. Satu jam ku pantau sepertinya sudah berkurang sesaknya. Lalu aku tidur. Pukul 01.30 dini hari terbangun lagi, entah tiba-tiba terbangun dan langsung duduk mengecek kondisi nyai, saat itu saya tidur di lantai di sebelah ranjang beliau. Kondisinya kembali payah, dan ku lihat banyak lendir di mulut yang susah keluar. Kemudian ada firasat, segera membacakan kalimat tauhid  berkali-kali di dekatnya sambil bilang, “Nyai zikir nyai, zikir…”, dan beberapa hembusan nafas saja kemudian dadanya berhenti naik turun. Sungguh aku tidak menyangka, dan sangat kaget. Segera ku ambil stetoskop dan ku raba dadanya, tidak ada detak apapun seperti semalam. Ku cari lagi jugularis di lehernya, nihil. Sempat ku lakukan RJP juga beberapa kali (resusitasi jantung dan paru). Kalut! Aku pegang kedua telingaku kuat-kuat. Astaghfirullah.. segera ku telpon kakak yang dijogja, dengan kalut dan bingung ku bilang, “Ak Neng, Nyai kok gak ada bunyi jantungnya lagi”. Kakak terdiam sebentar, dan suaranya agak sedikit bergetar, “Ya sudah, tutuplah mukanya…”. Innalillahi wainnailaihi roji’un. Kali kedua aku menyaksikan kematian ada di depan mataku..

Ya Rabb, belum genap delapan bulan Engkau memanggil Mama tercinta, kini Engkau panggil pula Nenek kami tersayang… Kuatkan dan sabarkan kami ya Allah, seperti Engkau menguatkan dan menyabarkan orang-orang shaleh sebelum kami…

02.00 dini hari Selasa 8 Februari 2011, 5 Rabiul Awwal 1432 H.

Advertisements

One thought on “Yang Terlewat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s