Di Balik Proposal Itu

Sebetulnya saya agak jenuh dengan situasi dan kondisi yang ada, dua tahun bersama bukan waktu yang sebentar, namun berasa tidak ada kemajuan, sifatnya defence saja, bertahan. Satu tahun sudah berlalu saat saya bertanya kapan boleh mengajukan proposal. Hewh, cukup berani mungkin, tapi harus dimulai. Hingga proposal itu masih rapi di harddisk saya, dan dimulailah kemarin percakapan yang agak lucu dan (sebetulnya sudah) menggelitik saya setahun belakangan ini.

“Hayo Nda, kasihlah proposalmu?”, titah kakak iparku. “Emm, emang sebetulnya proposal itu diminta atau diserahkan?”, tanyaku lurus. “Yaa tergantung sih, diserahkan sekarang pun belum tentu acc setahun. Kalau murabbinya perhatian seharusnya proposal itu diminta”, yang ngedengerin pandangannya kosong, bengong.  “Jadi apa kriteria proposal diambil?”, tanyaku lugu. “Macem-macem. Di antaranya usia, lama tarbiah, perannya selama ini dalam dakwah, atau masalah-masalah tertentu yang menuntut proposal itu harus diacc“, pikiranku mulai nerawang. Beliau melanjutkan, “Sebetulnya proposal akhwat yang masuk itu banyak lho, setumpuk, bisa dikatakan menggunung, dibanding proposal ikhwan. Jadi kalau ada proposal ikhwan yang masuk, maka proposal itu seperti gula dikerubuti semut, masing-masing murobiyah hampir semuanya mengajukan nama mad’unya”. Kepalaku kembali berdenging, jadi kira-kira percakapannya sampai di sini saja. Rasanya bisa runtuhlah harapan dan cita-cita menikah muda jika begitulah kenyataannya. Harus ada resolusi lain. Gimana enggak, kayaknya ukuran-ukuran diri yang tersebut oleh kakak ipar itu masih jauh dari pangkal. Belum lagi di depan mata, sahabat-sahabat selingkar juga banyak yang berusia 28+ yang belum juga bertemu jodohnya. Nyengir miris.

Kita percayakan semua pada murabbiyah, lama. Kita cari sendiri, dibilang gak taat jamaah. Dijodohkan orang tua, dicerca. Beberapa waktu ini sedang menghadapi problematika teman-teman dekat yang berencana menikah. Saya cuma memberikan pandangan saya dan berusaha fair, namun tetap mendukung keputusan yang diambil melalui istikharah dan musyawarah. Saya pikir, keputusan menikah bukan keputusan main-main tentunya, keyakinan yang hadir saat istikharah juga bukan tanda main-main dari sang Khalik (asal istikharahnya betul). Jadi menikahlah jika kamu siap menikah, dan ada calonnya hehe.

*ditulis bukan karena banyak sahabat yang akan menikah ditahun ini*

Sumber gambar: gugling aja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s