Terusik bin Tergelitik

Beberapa hari lalu di hadapan saya sedang terbuka dua buah buku yang barusan dipinjam dari seorang sahabat, How to Get Married karya M. Fauzil Adhim dkk., dan Diary Pengantin karya Izzatul Jannah & Robi’ah Al Adawiyah. Selain keterusikkan saya bersama teman-teman mengumpulkan tulisan yang pengennya terbit jadi sebuah buku antologi catatan harian, saya juga jadi terusik dengan ‘perjanjian agung’ (mitsaqon ghalidza) dalam pernikahan yang dikupas-bahas di buku tersebut. Yap, pernikahan!

Beberapa orang teman sekarang sedang menjalani prosesnya, empat sahabat dekat saya sudah punya jadwal, dari September sampai Oktober sudah saya catat di buku agenda sebagai jadwal kondangan wajib hehe. “Ndah, Januari kemarin ulang tahun yang ke dua puluh empat kan? Ayolah mulai dijajaki“, kira-kira itulah penggalan chatting saya dengan Mbak Callie, sahabat kembar saya yang bermukim di Pangkalpinang. Saya cuma nyengir kuda lantas menjawab sekenanya, “ya, nantilah saya pikirkan dulu“. Tidak! Saya sudah memikirkannya sejak lama sebetulnya. Namun tentu saja, pasrah terhadap proses dan jalur harus pake jurus ekstra sabar. Kalau tidak mau, ya gampang, belok kanan-kiri aja, pasti cepet. Tapi kayaknya saya masih punya hati nurani dan keinginan untuk mendapatkan keberkahan yang dimulai dengan sesuatu yang baik.

Orang seperti saya gak bagus-bagus banget kualitasnya (huyuuuhh rendah diri), belum lagi menterengnya nama program studi saya yang biasanya membuat keder duluan karena dianggap highprofile, jauh level, ketinggian, timpang, and et cetera. Juga status saya yang masih anak kampus, masih mau ngelanjut coass, ya sudah ujung-ujungnya soal duit dan biaya hidup (katanya lho), saya gak ngasih komentar deh, *kayak gak percaya rizki Allah aja*. Beberapa pekan lalu, satu kelompok teman ngaji juga sudah dimintakan proposal berisi biodatanya, saya bergeming. Seingat saya, bahkan sayalah yang meminta pengajuan proposal duluan di bulan Februari 2010 lalu (tanpa diminta guru ngaji), tapi entah mengapa sampai saat ini, proposal itu masih tersimpan di laptop dengan rapi, belum diprint, dan sesekali masih saya edit.

Beberapa kali kumpul bareng teman, perbincangannya juga gak jauh-jauh soal married. “Ndah, kalo Indah sudah kepikiran belum mau nikah?“, tanya seorang sahabat perempuanku hati-hati sekali suatu kali di sebuah chatting tengah malam. Waduh, malem-malem gini ngomongin soal nikah, enakan narik selimut trus ngorok deh, *ditimpuk batako*. Atau percakapan lain, “Aku baru saja ditolak sama akhwat, tapi jangan bilang siapa-siapa ya“. Lha, ada yang patah hati curhatnya ke saya juga wkwkwkw *dipentung!*.


Sekarang, saya mempersiapkan diri sebelum bertemu keluarga besar saat lebaran dan sebelum memulai jadwal kondangan-kondangan itu, serta membiasakan telinga mendengar pertanyaan-pertanyaan, “kapan married”, atau “kapan kamu selanjutnya?”, mungkin juga “wah aku tunggu undangan kamu lho”. Dan saya akan menjawab dengan kepercayaan diri setinggi-tingginya sambil pasang tampang prestisius dan menjawab, “Kita lihat saja nanti

*sumringah gak jelas gitu .

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu, maka hendaknya ia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan lebih menjaga pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu maka hendaknya ia berpuasa. Karena sesungguhnya puasa adalah obat baginya.” (Muttafaq Alaih).

Advertisements

3 thoughts on “Terusik bin Tergelitik

  1. ehehe… aq lg gak ada kerjaan neh… jd disempatin mampir… ternyata kepikiran jg ya buat ‘gini-gini’an… ahaha… aq suka dg kata2 ‘Belok kanan-kiri aja, biar cepet’… mumpung lg tren tuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s