Di Empat Puluh Hari

Mungkin sebagian orang beranggapan, untuk apa dikenang terus malah akan menambah kesedihan, untuk apa dikenang terus tidak ada gunanya, untuk apa dikenang-kenang ini namanya subhat, dan lain sebagainya…

Apapun..

Empat puluh hari sudah Mama telah menuju alam barzah, alam kubur, alam setelah kehidupan dunia.

Empat puluh hari berlalu, aku makin cinta!

Kita akan merasakan betapa seseorang sangat berharga ketika ia sudah tiada, kita akan merasakan betapa besar cintanya ketika cintanya sudah tidak hadir lagi di dunia ini, kita akan merasakan betapa besar jasanya ketika tugasnya sudah selesai, dan kita akan merasakan sangat kehilangan ketika kerinduan akan kehadirannya tidak dapat dikabulkan lagi.

Mama.. begitu aku menicntaimu, ketika orang lain bersabda bagaimana perjuanganmu dulu..

Mama.. begitu aku mencintaimu, begitu aku merasakan sakitmu..

Mama.. begitu aku merindukanmu saat maghrib, alam bawah sadarku selalu mendengar bunyi pintu jendela yang selalu kau tutup rapat saat itu untuk menghalangi setan masuk, kini aku yang harus menarik dan menguncinya

Mama.. aku begitu merindukan harum seduhan kopimu pukul setengah lima pagi sebelum subuh

Mama.. aku merindukan ocehanmu saat memarahiku pulang larut malam

Mama.. aku merindukanmu, motivasi hidupku..

Mama.. ku sebut selalu namamu di tiap sujud terakhirku, semoga mampu menyibak kerinduan yang begitu membuncah

i Love u..

Advertisements

One thought on “Di Empat Puluh Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s