Lihatlah, Mereka Menua Lalu Renta

Saya update tulisan ini dimulai pukul 1.32 am di tengah ruang tunggu ICU/VIP Jantung RSMH, gantian jaga mama bersama dua orang kakak saya. Ya, mama terpaksa dirawat di sini. Terakhir istirahat di rumah sakit itu tahun 2008. Kira-kira sudah sepuluh tahun mama mengidap diabetes mellitus atau juga dikenal dengan kencing manis. Mama sudah melalui banyak fase dalam hidupnya selama berdamai dengan DM. Penyakit DM ini cenderung mengguncang emosi, dan sudah pasti menggerogoti kesehatan perlahan-lahan. Dan mama melampauinya dengan cukup sukses menurutku. Kadar gula darah mama pernah menyentuh angka 500, dan ini angka yang sangat besar bahkan bisa membuat orang koma saat itu juga. Tapi mama mampu melampauinya tanpa pernah menginjak kamar ICU. Akhirnya DM beradaptasi secara perlahan dalam tubuh mama, kadar gula darah 200an pun tidak membuat mama lesu lunglai setelahnya karena proses adaptasi tadi. Namun, serajin, setekun apapun usaha mama dalam mengkonsumsi obat-obatan tentu akan menimbulkan banyak kompensasi bagi organ tubuh lain. Misalnya ginjal dan hati akan bekerja lebih keras saat ada konsumsi obat-obatan, beriringan pula kerja keras jantung untuk memompa darah keseluruh tubuh. Begitulah DM dianggap buah simalakama.

Jumat malam lalu (4/6) konsul ke dokter dengan keluhan sesak nafas dan nyeri dada hingga punggung. Dua hari sebelumnya juga konsul ke dokter dan semua pemeriksaan menunjukkan tanda vital yang baik pada jantung, hati, ginjal, walau di jantung ada pembesaran yang sudah terlihat di beberapa kunjungan sebelumnya. Namun kali ini berbeda, pembesaran lebih dari kadar toleransi. Lalu kami dirujuk ke RS agar dirawat, dan selama dua hari pertama dievaluasi ternyata tidak ada perbaikan, bahkan makin menurun, mulai dari catatan hasil ECG, dan kadar cairan urin yang keluar. Sabtu malam, dari kamar biasa, dokter jantung yang dirujuk menyarankan untuk dirawat di ruang intermediate khusus jantung karena di sana alat-alat untuk memonitor cukup lengkap, dan kami pun manut. Esoknya kami bertemu dengan dokter penyakit dalam yang menjadi dokter utama menerangkan segala hasil pemeriksaan dari awal sampai akhir serta progressnya. Dan yang saya tangkap, prognosenya buruk. Perlu pertimbangan yang pas untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di rongga jantung dan paru, serta di daerah gastro atau perut. Akhirnya dokter utama memutuskan setelah konsultasi ke dokter ahli jantung, ahli ginjal, dan ahli darah,agar mama dicuci darah (hemodialise) pada hari selasa dan langsung ditransfusi agar Hb darah naik. Saya dan kakak tahu betul bahwa banyak resiko yang mengiringi, khawatir jantung mama tidak mampu menerima beban tambahan transfusi dan kondisi saat hemodialise itu, namun setelah mendengar penjelasan dokter utama (karena masih teman kakak sedari SMA), maka bismillah kami manut.

Hari selasa pun tiba, jantung kami rasanya seperti berdegup kencang lebih dari biasa, doa-doa kami panjatkan tiada henti, alunan murottal al quran dari mulut kami maupun dari mp3 tidak pernah berhenti agar memberikan ketenangan fisik maupun psikis untuk mama. Rasanya saya tidak sanggup saat mama dihemodialise, kondisi sesak nafas beliau membuat tubuh tidak berhenti bergerak untuk mendapatkan posisi yang nyaman, padahal selama proses sama sekali tidak boleh bergerak, terutama di bagian tubuh yang dipasang jarum selang darah. Beberapa kali mama menggerang karena kami tahan tangan dan kakinya. Kelu banget rasanya, saya sampai kepikiran, ya Allah kami ini menyiksa mama kami… astaghfirullah.. tak terasa air mata saya meleleh. Penderitaan mama gak sampai di ruang HD. Setelah proses HD selesai dan mengeluarkan kira-kira lebih dari 1 kg cairan, kami bersiap menghadapi kemungkinan ada tanda vital yang bisa drop: heart rate, tekanan darah, saturasi oksigen, pernafasan. Dan betul, setelah kembali dipasangkan alat unt memonitor, heart rate mama cukup tinggi dari sebelum di HD, saturasi oksigen berada diambang kadar baik, tekanan darah sempat turun, glukosa darah sempat hipoglikemik (turun/kurang dari normal) dan mama mengalami rasa gelisah serta delirium (dikarenakan proses adaptasi perubahan kadar ureum darah yang menurun drastis setelah diHD) yang membuat kami cukup panik dan gelisah. Kami lewati malam kritis itu dengan mata awas. Alhamdulillah lewat tengah malam kondisi cukup stabil dan mama bisa tidur.

Kami masih perlu melewati beberapa hari lagi di ruang intensif ini, mama harus betul-betul stabil agar bisa dipindah di ruang perawatan biasa. Rencananya hari ini (10/6) mama akan dihemodialisa lagi, karena HD kemarin memang sempat dikurangi waktunya dari waktu HD umumnya dikarenakan melihat kondisi mama yang sesak nafas.

Temans, mohon doanya yang terbaik, agar semua proses ikhtiar (usaha) kami dalam upaya mencari kesembuhan mama dapat bernilai dan berarti di hadapan Allah, dan tentu kesembuhan menjadi harapan kami.

I Love u Mom..

Advertisements

8 thoughts on “Lihatlah, Mereka Menua Lalu Renta

  1. masyaAllah dek, moga mama lekas sembuh yoh, sabar yoh dek, doa terus, dak ado yg dak mungkin klo Allah sudah berkehendak, insyAlloh mama akan sembuh dan bs aktifitas kyk dulu lagi. amiiiiinnn.. ujuk jugo jago kesehatan yoh. peluk erat ayuk u/ ujuk dari jauh.

  2. semoga mama dan klg kuat ya ndah…..
    setiap peluh yg mengalir dr kalian adlh harapan baginya
    setiap air mata yg menetes dr kalian adalah doa baginya…
    cepat sembuh buat mama ndah….

  3. Pingback: Satu Memori yang Membuatku Diam Seribu Bahasa « Jurnal Indah

  4. Pingback: Satu Memori yang Membuatku Diam Seribu Bahasa « Jurnal Indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s