Solidaritas Saya

Sebetulnya saya mengenal MER-C (Medical Emergency Rescue Committe) sejak duduk di bangku SMA, mengetahuinya secara ecek-ecek dari majalah dan buku-buku cerita/novel. Sehingga ketika kelas tiga SMA, pada pelajaran Bahasa Indonesia, kami ditanya satu persatu tentang cita-cita, dan menjelaskannya di depan kelas. Saya menjawab bahwa cita-cita saya ingin menjadi dokter agar bisa menjadi relawan medis bersama MER-C di Palestina. Sekarang kenyataannya malah nyangkut di kedokteran gigi hehehehe (selalu tersenyum dan tertawa mengingat adegan di kelas tiga itu).
Anyway, beberapa hari yang lalu saya membuat status di facebook seperti ini :

Seandainya kamu sakit, dan butuh didatangkan paramedis, lalu paramedis yang sedang menuju rumah mu dibunuh orang di tengah jalan dengan alasan paramedis itu dilarang menolong orang seperti kamu yg ‘dianggap’ teroris. Menurutmu, siapa yg biadab dan lebih tepat dikatakan teroris? padahal Hipokrates yg membuat sumpah kedokteran pun bersumpah akan menghormati kehidupan sejak awal masa #israelbiadab

Betapa Israel tidak menghargai kehidupan. Kalau tidak salah ingat, dulu saya pernah membaca tulisan salah seorang wartawan Indonesia yang diundang ke Israel. Di sana dia ditunjukkan betapa Israel itu mempunyai tempat-tempat yang indah, tumbuhannya subur dengan teknologi (karena di sana gersang), perumahan-permahan rakyat dibangun dan ditata dengan indah. Sampai akhirnya orang Israel itu bilang begini kepada orang Indonesia itu, “Kalau rakyat Palestina mau menyatukan diri dengan kami, pastilah kami juga bisa membangun tempat yang indah serupa di sana”. Dan tulisan orang Indonesia ini mengundang kontroversi yang panjang, karena ia secara terang menganggukkan kepala kepada Israel. Padahal itu nyata bukan logikanya. Rakyat di pinggiran Gaza juga belajar mengenai arsitektur dan pembangunan, mereka juga membangun rumah-rumah yang sudah hancur karena perang, membangun sekolah, dan lain-lain. Tapi coba pikir, bagaimana mereka memperindah taman mereka sementara desingan peluru dan bom serta merta menghancurkan rumah mereka. Bagaimana mereka bisa membangun rumah-rumah yang kokoh dan canggih sementara Israel memblokade segala bentuk bantuan, barang dagangan, bahkan ekspor-impor pun impossiblei dilakukan gegara blokade. Terakhir tentu kamu tahu bahwa bantuan kemanusiaanpun diblokade di tengah laut internasional. Sinting!

Mari temans, kita tunjukkan bahwa kita betul-betul melaknat perbuatan Israel tersebut, yang tentunya masih banyak lagi kebiadaban-kebiadaban yang tidak terungkap ke media, kecuali kita berada di sana dan merasakan sendiri hangatnya darah anak-anak kecil yang mengalir akibat pembantaian, merasakan sendiri perihnya terkena sepihan bom phosphor yang dengan suka cita mereka taburkan ke pemukiman sipil!!

sumber gambar didapat dari facebook

Advertisements

2 thoughts on “Solidaritas Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s