Curhat Gigi (part one)

Sudah lama gak update tulisan. Lagi gak mutu nih! Saya bagi-bagi cerita saja tentang hal-hal yang masih teringat di liang otak saya tentang beberapa moment yang melintas dan memendam di memori terdalam *sigh*

Tepat tadi siang, saya kebetulan shalat ashar di Masjid Agung dan bertemu Mbak Yeyen (temanlah). Dia tanya sebelumnya tadi siang darimana, ku jawab saja tadi dari bimbingan. Kemudian beliau melihat berkas pengesahan judul, lalu bertanya, “Eh, ekstraksi apan sih?”. “Cabut gigi mbak”, jawabku seadanya. Kemudian pertanyaan berkembang, mulai dari gimana sih gigi itu boleh dicabut? Lantas saya bercerita apa tujuan-tujuan perawatan gigi geligi itu, antara lain yang paling penting adalah mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rongga mulut. Sisa akar sekalipun bila sesuai indikasi bisa direstorasi sedemikian rupa tanpa perlu dicabut. Tentunya dalam pemeriksaan harus memperhatikan gigi dan yang empunya gigi secara menyeluruh, sampai dibuat keputusan untuk dicabut.

Saya contohkan satu kasus dari dosen saya yang kebetulan bertugas di puskesmas salah satu kecamatan yang banyak premannya (ehm… gak perlu disebut yah, nanti ada yang nimpuk saya pake sajam hehe). Ceritanya datanglah seorang preman bertato dan berbadan besar ke dokter gigi di puskesmas tersebut. Dia mengeluh sakit gigi dan tidak bisa tidur, sehingga mati-matian meminta agar giginya dicabut, tapi dokter gigi yang bertugas enggan mencabutnya karena gigi si preman sedang sakit dan bengkak, maksudnya agar diberi obat-obatan sampai nyeri dan bengkaknya reda baru kemudian dicabut. Sang preman tidak mau tahu, sang dokter gigi pun diancam!! Karena merasa diancam, akhirnya sang dokter gigi mengeluarkan kartu excel eh.. kartu AS-nya. “Begini saja, kalau bapak tetap mau dicabut, silahkan Bapak tanda tangani surat pernyataan ini, bahwa apabila Bapak meninggal setelah saya cabut giginya, maka saya tidak bertanggung jawab sama sekali atas kematian bapak”. Si preman bengong dan bergidik. “Idih, masa’ iya dok nyabut gigi bisa meninggal?”. Penjelasan di awal tadi ternyata lewat saja di kuping preman. Dokter gigi pun dengan sabar menjelaskan perihal penyebabnya. Jadi begini (pake bahasaku sendiri ya..), gigi yang sedang sakit dan dalam keadaan bengkak adalah gigi yang sedang dalam keadaan infasi besar-besaran oleh kuman, tapi kumannya terlokalisir hanya di dalam gigi, daerah syaraf, dan pembuluh darah yang ada di dalam saluran akar gigi. Apabila dilakukan pencabutan maka akan ada pembuluh darah yang pecah, dan kemungkinan infasi kuman pun turut serta bebas masuk ke dalam pembuluh darah di luar gigi, pembuluh darah tersebut bisa beredar ke mana saja, tidak luput jantung sebagai pemompanya. Dan bila kuman-kuman tersebut mencapai atau masuk ke jantung kemudian melekat ke daerah vital ruang jantung maka bisa terjadi suatu hal yang tak diinginkan, mulai dari kerusakan jaringan dan sel di jantung, sampai akhirnya jantung rusak dan tak bisa memompa darah lagi, means anfal alias koit, atau menuju alam baka, bisa juga dikatakan meninggal.

Dan akhirnya preman pun manut pada nasehat dokter gigi.. hehehe…

Pesan sponsor : Jaga kesehatan gigimu, cegah gigi berlubang dengan menyikat gigi minimal dua kali sehari, dan sebelum tidur!

Advertisements

One thought on “Curhat Gigi (part one)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s