Dari Seminar Parenting

“Eh Indah, pasangannya mana?”, yang nanya sambil cengar-cengir. Yang ditanya kembali nyengir sambil garuk-garuk kepala. Itulah pertanyaan yang disambut oleh saya ketika baru turun di parkiran.

Hari ini (2/5) saya disuruh mengikuti seminar parenting, membahas masalah komunikasi dalam keluarga. Sampai di tempat seminar, kursi-kursi sudah diset sedemikian rupa untuk pasutri, saya langsung mencari kursi di belakang (hal yang tidak biasa saya lakukan). Sampai dengan acara pembukaan, barulah saya sadar, hanya saya dan beberapa orang teman yang saya kenal saja yang masih single di ruangan seminar itu, doh! Anyway kami hanya bikin gaduh saja di belakang, cengar-cengir, ketawa, sikut-sikutan. Tapi ini gak penting, sama sekali gak penting. Saya bagi sedikt oleh-oleh dari seminar hari ini.

Hadir sebagai pembicaranya adalah orang yang terkenal sejagad raya Lebayy.. beliau adalah bapak Cahyadi Takariawan, yang sedari dulu spesialisasinya adalah masalah keluarga. Salah seorang yang aktif dalam Jogja Family Center (JFC), pusat konsultasi masalah keluarga kalau gak salah denger. Memasuki kehidupan berkeluarga, pasutri hendaknya membuat ‘peta kasih suami-istri’ dan jalan menuju ‘pulau harapan‘. Apa sih, peta kasih dan pulau harapan itu? Kalau saya menerjemahkannya, ‘pulau harapan’ adalah visi, arah yang ingin dituju, atau cita-cita. Sedangkan ‘peta kasih’ adalah misi, cara, atau jalan menuku ke pulau harapan tersebut. Beberapa pasutri di sana ditanya, apa sih tujuan atau harapan bapak/ibu ketika awal menikah dulu? Jawaban mereka beragam, yang paling banyak adalah menuju surga Allah di akhirat dan memperoleh keberkahan hidup di dunia. Pasutri tersebut setuju satu sama lain, hal tersebut sudah menjadi cita-cita tertinggi mereka. Nah, dalam meraih atau menuju keharmonisan keluarga, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan :

1. Meluruskan motivasi

2. Menguatkan visi keluarga

3. Kerjasama dalam tim keluarga

4. Meningkatkan keterampilan komunikasi

Dari empat hal yang dibahas tersebut, saya sangat tertarik membahas poin ke empat, karena saya pribadi dari dulu sering (atau mungkin senang) membahas masalah teknis. Menurut saya, ‘komunikasi’ adalah masalah teknis dalam berkeluarga. Kalau visi sudah sama, sesungguhnya tidak ada masalah besar lain yang dihadapi pasutri. Semua tinggal dijalankan melalui komunikasi dan kesepakatan-kesepakatan. Pak Cah bercerita, suatu hari ada pasutri yang bertengkar hanya karena masalah masakan. Suami yang senang sekali bila setiap masakan diberi MSG, dan istri sama sekali benci dengan MSG. Masalah terpecahkan dengan jalan keluar memasak dua masakan berbeda, yaitu masakan ber-MSG dan tanpa MSG. Kebayang tentunya, alangkah repotnya dalam satu rumah harus memakan makanan yang berbeda hanya gegara MSG. Namun lama kelamaan, pada akhirnya suami-istri ini menemui titik berimbang. Suami akhirnya dapat mengurangi penggunaan MSG, dan istri tidak sebegitu benci lagi dengan MSG, walaupun proses ini berlangsung lama. Pak Cah juga menceritakan, ada seorang suami datang padanya dengan mengeluh begini, “Saya sudah menikah dengan istri saya selama lima tahun, dan kami dikaruniai dua orang putri, namun tidak ada satu pun alasan untuk saya mencintai istri saya itu”. Saya melongo mendengar cerita Pak Cah barusan. Ternyata bisa saja menikah, mencintai, dan mempunyai anak itu diletakkan pada posisi yang berbeda-beda. Teman saya berbisik, “Bagaimana mungkin memiliki anak bila suaminya tidak mencintai istrinya”. Jawabnya adalah mungkin, karena suami tadi meletakkannya pada posisi yang berbeda-beda. Setelah ditanya-tanya, ternyata ada hal yang paling tidak disukai suaminya, yaitu dandanan istrinya di rumah, dan celana training semasa SMA istrinya yang selalu dipakai. Suaminya menggerutu kalau sepan training itu sudah sangat jelek akibat di-cuci-kering-pakai, dan warnanya sudah tidak karuan. Ketika sang suami ditanya apakah sudah memberitahu istri perihal ketidaksukaan suami ini tadi, sang suami menjawab tidak pernah, karena suami beranggapan istrinya yang orang pintar itu sudah seharusnya tahu kalau celana training itu sudah tidak pantas dipakai. Nah, menurut Pak Cah di sinilah letak kesalahannya, yaitu suami tidak mengkomunikasikannya terhadap istri, padahal istri belum tentu tahu. Suami-istri satu sama lain hendaklah saling terbuka mengenai hal-hal yang disenangi dan hal-hal yang tidak disukai. Bila ada yang tidak disukai dari pasangan, jangan sekonyong-konyong dikritik, justru langsung diberi tindakan nyata. Misalnya, sang suami tidak suka melihat istri tadi memakai training, nah cobalah si istri ini tadi dibelikan training baru. Atau suami ingin istri terlihat cantik, maka langsung ajak saja istri ke salon untuk di ‘permak’ hehehe..

Apabila pasangan merasakan ada masalah komunikasi, maka definisikanlah masalahnya, “kita sedang ada masalah..“, kemudian lupakanlah masalah tersebut. Selesai. Terkadang, pasangan membuang energi banyak hanya untuk menyelesaikan masalah yang remeh temeh tanpa melibatkan komunikasi. Padahal hanya perlu ‘melupakan’ masalahnya, dan meminta maaf. Orang yang meminta maaf duluan sudah menang secara spiritual. Jadi sering-seringlah meminta maaf kepada pasangan anda, dengan begitu anda pun akan dengan mudah memaafkan kesalahan pasangan.

Menjadi istri atau suami adalah peran yang lebih kepada kesepakatan-kesepakatan, kecuali beberapa aturan yang sudah ditetapkan oleh syari’at dan tidak bisa dibolak-balik. Misalnya suami adalah qowwam (pemimpin), dan pencari nafkah. Posisi seorang pemimpin pada suami tidak dapat tergantikan, sehebat apapun istri, seberpengaruh apapun istri, suami tetap seorang pemimpin. Nah, mencari nafkah bagi suami hukumnya adalah wajib, bila tidak menafkahi istri dan anak-anak maka dosa hukumnya bagi suami. Tapi tidak berlaku sebaliknya bagi istri. Istri boleh mencari nafkah, juga boleh tidak. Tidak berdosa bila tidak mencari nafkah.

Sementara kesepakatan-kesepakatan lain bersifat dinamis, karena keluarga adalah organisme hidup. Butuh pembagian peran dalam keluarga, misalnya tugas memasak, mengepel, memasukkan motor ke dalam garasi, dan lain-lain. Dan ketika anak-anak sudah mulai besar dan bisa diberikan tanggung jawab, maka mereka pun berhak diikutkan dalam peran keluarga. Misalnya anak yang paling tua diberi tugas untuk memperhatikan adik-adiknya yang sedang bermain, atau setiap anak wajib mencuci piring masing-masing setelah makan. Dan aturan atau kesepakatan seperti ini bersifat dinamis sesuai kebutuhan dan berubahnya masa.

Kemudian, dalam hal mendidik anak, harus dibedakan keadaan orang tua yang sedang ‘marah’ dan sedang ‘mendidik’. Ustad Fauzil Adhim menerapkan lima prinsip dalam mendidik anak (konon, beliau tulis di dinding kamarnya), prinsip pertama yaitu jangan marah, kedua jangan marah, ketiga jangan marah, keempat jangan marah, dan kelima jangan marah. Hehehe.. karena bila orang tua sudah berada dalam ‘keadaan marah’, maka akan membuat bekas pada diri anak anda, dan hal tersebut akan sangat mempengaruhi perkembangan psikologisnya.

Okelah kawan, segini dulu bagi-bagi oleh-oleh dari seminar parentingnya. Sekedar informasi, akan ada bedah buku dan seminar (serupa parenting seminar) Saat Berharga untuk Anak Kita bersama Mohammad Fauzil Adhim (penulis buku best seller “Kado Pernikahan”), hari Sabtu 15 Mei 2010 di Aula Darul Jannah Al Furqon, Jl.R. Sukamto pukul 08.00-12.00. Harga tiketnya Rp 45.000,-/orang (tanpa buku), Rp 75.000,-/orang (dengan buku), dan Rp 100.000,- untuk pasutri+satu buah buku. Tiket box dapat diperoleh di Dompet Sosial Insan Mulia (DSIM) Jln. Angkatan 66 No.435C Palembang, call center 0711-814234.

*Ngiklan abeeessss.. hehehe..

Advertisements

4 thoughts on “Dari Seminar Parenting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s