Ada Cinta di Pedalaman

Beberapa orang kakak tingkat yang sudah tamat, saat ini sudah melanjutkan profesinya masing-masing. Ada yang ikut tes CPNS, praktek klinik bersama, sekolah lagi, dan juga PTT. Beberapa teman yang lulus tes PNS guru juga sudah mulai menempati posnya masing-masing. Sebagian mereka ditempatkan di daerah pedalaman, yang bahkan nama tempatnya pun baru kali ini saya dengar, hehe. Salah seorang dosenku misalnya, drg. Timbang, saat ini sedang tugas PTT di pedalaman Martapura, entah apa nama desa tepatnya, yang jelas kalau ke sana mesti naik speedboat, speedboatnya pun gak ada tiap hari. Yanti salah seorang temanku juga demikian, ia ditugaskan mengajar di daerah pedalaman, naik speedboat dengan membayar 50ribu, belum sempat nanya berapa lama perjalanan ke sana. Dan yang jelas di sana kalau siang gak ada listrik, adanya hanya malam hari. What??? siang ga ada listrik? wahh khawatir sinyal pun tak ada hehehe.

Belum pernah membayangkan mesti hidup di daerah pedalaman dalam waktu yang lama. Listrik deh yang utama hehe eh salah, air bersih maksudnya. tapi kalau bisa keduanya sudah ada. Tapi inti dari postingan saya berikut ini adalah: sanggupkah anda bila ditempatkan di tempat demikian? Meniti hidup sebagai pengabdi masyarakat susah-susah gampang. Faktor kemanusiaan dan sosialis diri membuat keinginan mengabdi itu ada, namun faktor medan yang tidak biasa membuatnya menjadi kerikil-kerikil di jalanan. Harus diakui justru tempat seperti itulah yang perlu mendapatkan perhatian. Ratusan dokter tercetak namanya setiap tahun, namun kenyataan di lapangan, terutama di daerah pedalaman, saat ini masih kekurangan tenaga medis. Demikian juga sekolah-sekolah. masih ada di Indonesia ini, satu sekolah hanya diajar oleh seorang guru. Apakah lahan pengabdian di Indonesia sudah semakin sempit?

Pertanyaan seperti ini kerap kali berdenging di telinga saya. Saya pun mempertanyakan hal serupa. Apakah saya siap ditempatkan di daerah yang membutuhkan. Saya tidak bisa menjawabnya sekarang, yang jelas saya selalu berusaha dekat dengan lingkungan saya yang dekat dengan kelas menengah ke bawah, berusaha untuk selalu menajamkan feel dan mengasah hati, supaya bila memang takdir melempar saya ke tempat demikian saya bisa happy-happy ajah pun dengan fasilitas yang minim.. hehehe

:nyembah:

Advertisements

9 thoughts on “Ada Cinta di Pedalaman

  1. berat memang. cuman kalau hanya ptt aja kan cuman sebentar. kalau aku mah emang asalnya dari kampung paling belakang yang belum ada sinyal dan listrik. cuman air bersihnya melimpah,

    salam kenal, nice 2 meet u

  2. :ngelamun:
    slm kenal juga..
    posting yang mengesankan..
    aku punya teman guru SMP ..cewek juga yang sdh 6 bulan ini hidup di pedalaman Kalteng (orang bilang disana mistiknya masih terasa)..ngumpul sama orang2 asli suku dayak..
    disana gajinya gak gede, biasa PNS..kalo malam gak ada listrik,,, hidup pake lampu minyak,,, makanan sulit dicari karena byk orang non muslim,, kalo mau balik ke BJM ya make speedboat dulu beberapa jam dll…
    celakanya dia sekarang masih jomblo..hohohoho..
    tapi aktifitasnya lumayan padat…dari ikut arisan sampe ngajar ngaji anak2 disitu..

  3. gak yakin kalau indah bisa hidup di daerah pedalaman seperti yg diceritakan itu.
    makanya nanti klo dah disumpah jadi dokter, hati-hati lho….

    klo saya sih emang rumahnya dah di kampung….. :nangis:

  4. :pray: saya berdoa agar ibu satu ini moga cepat dapet jodoh…. biar ga’ susah buat PTT-nya. N biar ga’ dapet Title Dokter Gigi Jomblo… :sikut: :ngakak:

    *maaf ya bu…:plis: :sliweran:

  5. Prinsipnya, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

    Di republik ini, listrik masih mahal. Tp lebih mahal lagi kalo gak ada listrik. Sy pun tak dpt membayangkan bila hidup tanpa listrik.

    Jd ingat masa KKN dl, di desa pinggir hutan ‘alaspurwo’. Disana pun tenaga medis, pengajar, dll sangat kurang. Shg kami pun sempat mjd pengajar dadakan. Soal listrik, alhamdulillah masih lebih baik dibandingkan lokasi KKN di madura, yg mati pd kondisi beban puncak.

    Jadi sebaiknya, solusinya gmn ya? Apakah tenaga2 ahli didatangkan ke daerah pedalaman? Ataukah, para penduduk (usia produktif) pedalaman disuruh belajar ke kota baru kemudian disuruh balik tuk membangun desanya masing2?

  6. aku berharap dokter sehebat dan sesabar jasmin akan ditempatkan di pedalaman Bangka. dengan begitu orang-orang di kampung halaman saya akan semakin bagus kesehatannya :plis:

  7. :ngakak: baca komen selanjutnya jadi “ngakak” hehehehehehee…. :ngelamun: bisa ga’ ya mimin buktikan apa yang orang-orang minta :mikir: cuman bisa ngomong semoga….. :mlorok:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s