Biarkan Pena Mengalun1

Ada aroma hujan,

menapak bumi basah.

Ada suara-suara di ujung sana, tak pernah berhenti berdenging di muara telinga

diam-diam mulai merembes ke hati

padahal nyala api tak sekalipun di sulut.

Ada merpati menghampiri dahan rindang siang hari,

membawa sejumput rumput untuk sangkar.

Aku mencintai langit itu,

dia tak pernah sekalipun membelai kepalaku,

namun kasihnya di siang hari, meneduhi hari yang terik.

Aku mencintai rembulan itu,

mempesona saat langit bersih, menjadi inspirasi tiada tepi.

Aku mencintai laut itu,

saat berombak membawa gemuruh, tak akan ada yang berani berkontempelasi.

Kata-kata hati menjadi sulut api itu, padahal ada riak angkuh tak terganti.

Izinkan percik api ini menjadi satu pelita pengisi,

tidak akan menjadi obor, ataupun unggun,

hanya akan begitu, begitu, dan begitu seterusnya, hingga takdir akhir sesungguhnya

24 Desember 2008

Advertisements

3 thoughts on “Biarkan Pena Mengalun1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s