Jendela Hati

Ada kerinduan menelusup setiapkali sampai di tanah berjarak tiga puluh dua kilometer dari pusat kota yang kududuki saat ini. Tanah yang menjadikanku ada dari ketiadaan, namun sekarang tidak menjadi payung lagi bagi “kegilaan”ku.

Seusai praktikum farmasi yang membuatku bersin-bersin karena serbuk-serbuk obat yang berhamburan di udara, saya duduk manis dalam mushalla yang ada di belakang laboratorium anatomi bersama teman-teman dari empat program lainnya (tetap dengan tisu untuk mengelap rembesan dari hidung tentunya^^). Setelah sekian lama tidak jumpa dengan mereka, kami melumatkan kerinduan dalam balutan erat jabat tangan dan pelukan. Pertemuan yang dimuwajihi oleh kak Jon Dries, ternyata di luar harapan saya. Begitu pedas susunan kalimat yang keluar dari mulutnya menyinggung seonggok jiwa hina yang telah dengan pedenya duduk di baris depan, membuatku mengayunkan kaki ke teras, tak tahan. Apalah saya tuan. Untungnya rasa bahagia berjumpa dengan teman lama mampu menutupi kegusaran yang sempat ada, hehehe

Jendela Hari, by Saujana

Aku ingin hidup secerah mentari yang menyinar di taman hatiku

Aku ingin seriang kicauan burung yang terdengar di jendela kehidupan

Aku ingin segala-galanya damai, penuh mesra membuah ceria

Aku ingin menghapus duka dan lara, melerai rindu di dalam dada

Sedamai pantai yang memutih

Sebersih titisan embunan pagi

Dan ukhuwah kini pasti berputih

menghiasi taman kasih yang harmoni

Seharum kasturi, seindah pelangi

segalanya bermula di hati

Download di sini

Advertisements

One thought on “Jendela Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s