Tissue Untukmu

Bukan bermaksud promosi salah satu merek tissue yang beredar di pasaran Indonesia (sumber gambar), namun memang tissue ini nyaris ada di tiap tas yang ku bawa bepergian. Kenapa? karena di samping mukaku yang sering berminyak, ternyata sangat berguna bila pilek ku muncrat di tengah kerumunan hahaha

“Adek sakit?”, tanya yuk nit, “nggak yuk, udah lama sengau gak ada juntrungan gini hehe”. Begitu juga dengan mbak amel, yang udem hidung dan mata gak pernah hilang sejak pertama kali bertemu, yang sedang hilang redup aura semangatnya. Namun beda hari ini, kami akan men-charge kembali kegilaan kami hahaha. Yep, akhirnya ada kesempatan buat nonton Laskar Pelangi. Saya ngantre tiket dari jam setengah sebelas untuk nonton jam setengah tiga, nafsu banget. Weekend seperti ini nonton rada mahal, kirain bakal ga serame kalo onpeak, e ee ternyata ngantrenya boo’ sama aja. Tapi untunglah bisa tetep dapet tempat yang strategis, hahahah siapa dulu becongnya!!

Dengan membawa bekal masing-masing, ditanggung kami ga bakal kelaparan di dalem. Sembari nunggu studio 1 buka, dengan pedenya kami duduk diemperan koridor antar studio. Untungnya PIM cukup elegan dengan lantai berlapis “Red Carpet” dan membuat suasana makin mistis eh, salah, maksudnya makin terasa highclassnya. Nyaris telat karena keenakan ngobrol, ga nyadar pintu studio udah dibuka. Pas banget deh pas opening kita sudah mendarat dengan nyaman di kursi studio. And the story begins….

Saya ga mau berkomentar banyak tentang film ini, namun saya akan langsung menyarankan anda semua beserta keluarga, tetangga, karib, sahabat, teman, maupun kekasih anda untuk segera menonton film ini! Dan tentu saja, untuk membaca tetraloginya juga…

Yang gak enaknya pas nonton adegan yang lagi haru birunya… (saat perpisahan lintang dan teman-temannya di sekolah) tiba-tiba muncul layar hitam dengan tulisan begini:

AARRGGGHHH….. menyebalkan!!! padahal isakan dari orang yang duduk di sampingku sudah mulai terdengar. Kwrang ajyar!!! merusak suasana ajah… hahaa aku senyum-senyum aja sambil menyodorkan tisu paseo ku ini, daripada ia ngelap-ngelap pake jilbabnya hahahaha ga lucu kan!

NB:

Buat yuk Nitz, ternyata tissue yang ku bawa berguna juga kan buat ayuk?? hwehehehe

Buat mbak Amel, tabah dan teruslah berjuang untuk perubahan zaman, bila mbak berlari maka siapa lagi yang akan memulai perubahan. Namun bila tekanan adalah tombak yang siap meleburkan jiwa, maka sesungguhnya kita masih muda, masih terlalu banyak pilihan-pilihan yang lebih baik yang dapat kita pilih untuk langkah selanjutnya.

Luv u all..

S. Effendi

Seroja

Mari menyusun seroja
Bunga seroja ah… ah…
Hiasan sanggul remaja
Puteri remaja ah… ah…

Rupa yang elok
Di manja jangan dimanja ah… ah…
Puja lah ia sekadar
Oh sekadar saja

( korus )
Mengapa kau bermenung
Oh adik berhati binggung
Mengapa kau bermenung
Oh adik berhati binggung
Lupakan saja asmara
Pada asmara…
Lupakan saja asmara
Pada asmara…

Mari menyusun seroja
Bunga seroja ah… ah…
Hiasan sanggul remaja
Puteri remaja ah… ah…

Rupa yang elok
Di manja jangan dimanja ah… ah…
Puja lah ia sekadar
Oh sekadar saja

Lirik Bunga Seroja diambil dari sini

Advertisements

16 thoughts on “Tissue Untukmu

  1. 🙂 thx yo de u/ kemarin, huff.. “perjalanan ruhiyah”, ga mulu musti duduk ditengah majelis pengajian kan? begitu indah tarbiyah Allah, dengan duduk manis di bioskop, tergugu dengan fikiran masing2, ternyata mampu membuat kita berfikir jernih dan jauh lebih bersyukur atas nikmat Allah. subhnAllah.. jalasah ruhiyah kemarin berlanjut ke rumah amel.. AllahuAkbar!!! manfaat saudara seperjuangan begitu terasa,, sabar ya mel.. ada kami di sini.. 🙂

    love u de indah.. de amel.. muah muah..

  2. wkwkwkkkk…biso dituntut tuh operator filmnyo..itu merugikan customer..padahal scene itu scene yg paling sedih..klimaks kesedihan kan di situ…..ini dak pacak didiamkan..harus diperjuangkan!!!!!

    *lebay MODE on*

  3. haha…. trnyata titik sring ingusan jg.. samo…

    kalo soal LP, sinematografi-nyo salut..! aku angkat topi.
    tp soal skenarionyo, wah sbagai pembaca LP, aku kecewa.
    kurang narasi, trus ado benang merah yg putus..
    mano Edensor-nyo??

    emang lbh asik baco buku drpd nonton filmnyo..

    ato mungkin jg ekspektasi aq yg terlalu tinggi yeh?

    hahaha.. sok berat nian omongan tu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s