Partner Hidup, Rekan, dan Rival

Memasuki sesemter ganjil kali ini dengan riang gembiranya menerima matakuliah Orthodonsi II. Sejak Orthodonsi I kami diharuskan mempunyai partner dalam mencetak rahang, ya pura-puranya jadi pasien gantian hehehe. Saya perkenalkan partner saya satu per satu.

Pas Orthodonsi I, saya dipasangkan dengan Abdillah, anak seorang dokter yang sangat ditakuti sekaligus dihormati di PDU, berperawakan tinggi kurus dan berambut keriting serta berkaca mata. Kalau bicara seperti orang bergumam. Uniknya hasil cetakan rahannya mempunyai bentuk palatum yang agak dangkal namun luas. Senang dengan komik dan menggambar.

Memasuki Ortho II, saya berpasangan dengan (lagi-lagi dengan pria!) Ario, adik seorang dokter, asal Prabumulih, anaknya lucu namun kadang tingkahnya menyebalkan, narsisnya minta ampun, dan penyakitnya akhir-akhir ini adalah ngotak-atik internet lewat hape.

Dari kedua macam orang ini saya memperoleh kemudahan dan kesulitan masing-masing. Misalnya Abdillah, mudah sekali dicetak rahannya, sangat kooperatif, namun sayangnya setelah dicetak justru susunan giginya yang rumit yang menyulitkanku untuk bisa acc klamer. Sebaliknya Ario, tidak perlu mencetak rongga mulutnya semester ini, saya langsung dikasih model jadi, namun yang agak menyulitkan, tulang alveolar sebelah servik sangat menonjol sehingga klamer labial bow agak sulit diungkit.

Yep, begitulah suasana di lab orthodonsi, menyenangkan, menyebalkan, mengasyikkan, memuakkan, semua tumpah ruah jadi satu. Satu hal yang memuatku sangat bahagia pabila kerjaanku langsung diacc dosen hehe teman-teman ini menjadi partner ketika kami perlu mencetak rahangnya, namun dalam hal menyelesaikan klamer (kawat) dikerjakan sendiri-sendiri, terkadang terasa seperti bersaing, iya bersaing antar teman dan juga bersaing dengan waktu. Terkadang ingin membantu teman yang belum selesai, namun kita juga dituntut agar cepat menyelesikan tugas. Semua pekerjaan lab ini diacc pertahap, jadi memang harus cepat. Pernah suatu kali kawat labial bowku sampai dengan minggu ke tiga tidak diacc karena kurang sedikit saja. Saya sampai nangis, kesel, penat, akhirnya coba ku tabayuni dengan kakak tingkat dan akhirnya selesai. Kadang suatu pekerjaan yang harus dikerjakan sendiri, pada kenyataannya tak mampu kita kerjakan sendirian, maka meminta bantuan ataupun sekedar wejangan sangatlah diperlukan.

Advertisements

5 thoughts on “Partner Hidup, Rekan, dan Rival

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s