Day by Day in Bandung (part 2)

Hari kamis yang dinanti tiba juga. Yak, hari ini berencana bertemu dengan sahabatku yang kuliah di itb. Sekitar jam 9 aku dan kakakku menuju Palasari dulu, sebuah pusat penjualan buku-buku berharga super miring (diskon .red). Aku membeli beberapa buku, ngeliatin buku-buku di sana aku jadi ngiler banget, kayak ngeliat es buah di siang hari ehehehe. Di samping harganya yang murah, keberadaan beberapa buku tersebut di palembang juga belum ada atau belum banyak. Tapi apa mau dikata, karena kehilangan dompet kemarin, jadi persediaan uang otomatis menipis. Harus dibagi-bagi untuk beli keperluan lain. Mau bayar tiket pulang, mau beli beberapa alat praktikum dan sedikit oleh-oleh untuk keluarga.

Dari Palasari trus lanjut ke Gramedia, karena keponakanku merengek minta dibelikan puzzle. Nah dari Gramedia ini lah aku bilang pada kakakku kalo aku sebaiknya pergi ke Salman sendiri saja, karena naik angkotnya tinggal sekali. Jadilah aku pergi sendiri, dan sampai tanpa perlu kesasar hehe. Sampai di Masjid Salman sekitar jam11an. Koridornya rame banget, ada mahasiswa yang lagi rapat, duduk-duduk, ngaji, bikin tugas, dan lain-lain. Aku langsung duduk di koridor samping yang rame sambil ngeliat dimana tempat wudhu. Lalu aku segera wudhu walau belum masuk waktu shalat, trus naik ke lantai 2. Pertama kali masuk masjid ini, feelnya terasa luas banget, padahal dari luar terlihat kecil tanpa kubah. Dengan lantai berlapis kayu coklat, ruangan ini bikin betah, suasana yang agak redup namun lantai tidak dingin sehingga tidak perlu takut perut kembung karena kelamaan duduk di atas marmer. Selain itu juga tidak terlihat adanya sajadah, semua batas shaf sudah tergaris dari susunan kayu lantai.

Yang menariknya, masjid ini di siang hari begitu riuh redam karena suara ngaji orang-orang, dan begitu suara adzan berkumandang, otomatis suara-suara tadi tidak terdengar. Ketika akan shalat, sang imam bilang agar semua jamaah merapatkan barisan, memberikan aba-aba agar barisan depan dipenuhkan sampai ujung koridor. Dan beliau (imam siang itu) berkata, “rapatkan barisan, kalau tidak rapat, saya tidak akan mulai. Percuma saja shalat jamaah tapi kehilangan makna dan pahala karena barisan yang tidak teratur”. Dan ternyata juga ada semacam penjaga shaf, dia yg keliling merapikan dan meluruskan shaf perempuan, namanya mbak Rini. Subhanallah begitu teraturnya.

Setelah zuhur dan tilawah, barulah aku ketemu sahabatku. Aku menemuinya di sekret LMS (Lembaga Muslimah Salman). Di sini aku mendengarkan dia dan teman-temannya mempersiapkan acara School of Parenting. Setelah itu kami pun pergi ke Dental Point, tempat aku mencari alat-alat praktikum dentalku. Mayan jauh sih. Trus kami pulang lagi ke Salman buat shalat ashar. Setelah itulah aku ketemu Mimi, temanku satu lagi yang kuliah di Farmasi, yang kebetulan besoknya dia mau sidang TA. Menjelang buka puasa kami ditraktir BotRam oleh mimi, katanya sih lagi gajian hehe. BotRam ini sejenis warung yang nyediain macam-macam masakan dari ayam, mulai dari ayam karamel, ayam lada hitam, ayam bumbu bali, dll. Subhanallahnya di Salman ini banyak sekali yang ngasih makanan untuk berbuka, sampai berlebih lagi. Sembari duduk-duduk menunggu buka, di halaman masjid ku lihat ada sekelompok anak SMA yang tengah belajar fisika, ternyata mereka seperti sekelompok mentoring Rohis yang hari itu sedang belajar fisika. Jadi inget betapa aku dulu tergila-gila dengan fisika.

Malamnya aku dan sahabtku itu shalat tarawih di Salman. Agak beda dengan kebiasaan shalat di Palembang, kalo di Salman tidak ada bacaan-bacaan di tiap kali berdiri mulai shalat tarawih yang baru. Nah sebelum shalat tarawih tadi juga ada ceramah dengan tema Optimisme, yang jadi inspiring me banget!

Malem ini aku menginap di kosannya, dan kami tidak tidur. Bukan apa-apa, kami cerita terus semalaman, cerita banyak hal tentang kehidupan dan cinta, tentang masa depan dan harapan, dan perbincangan ini rasanya belum tuntas hanya semalam. Jam 3 kami berhenti ngobrol, trus shalat, lalu keluar cari makan buat sahur. Setelah subuh, kami tertidur pulas hehehe. Setelah bangun, lanjut nyari oleh-oleh sedikit, trus balik ke dental point karena ada yg kelupaan dibeli, trus ke pasar baru “window shopping” hehe. Sorenya aku baru pulang ke rumah kakakku.

Ada banyak hikmah yang bisa ku bawa pulang untuk diaplikasikan ke kota ku. Seharusnya aku bisa memberdayakan kemampuanku yang lain agar hidup ini produktif dan optimal. Saatnya mencari orang-orang yang sevisi denganku!

Advertisements

4 thoughts on “Day by Day in Bandung (part 2)

  1. @oRiDo– pernah muda juga ya? hehe
    @dhedi– lho, emg kosan situ ada apa?
    @fickry– kopdar ma siapa? ketemunya cuma sm nira n mimi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s