I Love it but I don’t need it, and this is the truth

Diambil dari kata-kata di akhir paragraf tulisan seorang teman, membuat saya tergelitik menulis tentang apa yang namanya “keinginan”. Waktu SMA, saya dikenal dengan banyak maunya. Kalo jalan bareng sepupu dan lewat di depan toko roti misalnya, sering saya bilang “eh, mau banget roti itu”. Tapi entah karena alasan yang tidak begitu prinsipil, saya tidak pernah membeli roti itu. Pun pada barang-barang yang lain. Kata sepupu saya itu namanya nafsu sesaat. Namun untungnya, nafsu seperti itu hanya sebatas “omong doang”, jadi saya gak rugi materiil. Dan sekarang sudah punya banyak alasan yang lebih realistis dalam memilih, menolak, dan menerima.

Ada kalanya dalam pandangan pertama kita bisa jatuh cinta setengah mati pada sesuatu (tak terbatas pada manusia dan benda). Seperti dalam cerita di blog teman saya itu, dia sangat menyukai sepatu emas cantik yang menyita perhatian pertamanya. Namun setelah ia kembali lagi ke toko tersebut, ia justru melihat banyak sepatu-sepatu cantik lainnya yang lebih bagus. Setelah kembali mencari sepatu yang dimaksud di awal, sepatu emas cantik itu justru mempunyai kekurangan, kurang nyaman dipakai dan hak yang kecil. Pada akhirnya teman saya malah mencari-cari dan memilih sepatu yang lain yang lebih sederhana dan nyaman dipakai, ia merasa cocok. Dia bilang, “kalau saja aku melihat sepatu emas itu lagi, aku mungkin masih menyukainya, tapi tidak lagi ingin memilikinya“.

Bukan sekedar cerita, ini bisa jadi filosofi, yaitu “memilih yang benar” atas keinginan. Apa yang kita inginkan akan ada banyak opsi-opsi yang menggoda. Seperti memilih perempuan pasangan hidup, ada yang kaya, cantik, baik keturunannya, bagus jabatannya, ada juga yang baik agamanya (sholihah). Lantas dari pilihan-pilihan tersebut yang termaktub dalam hadis, Rasul tidak melarang kita memilih yang mana saja, namun beliau menegaskan dari opsi-opsi tersebut bahwa perempuan yang baik agamanya menjadi opsi yang utama yang mampu membuat seorang bahagia dunia-akhirat. Nah, ini hanya contoh saja, contoh yang dalam keseharian pemuda menjadi buah bibir dalam setiap guyonan.

Perlu adanya penegasan lain bahwa “memilih yang benar” memerlukan alasan-alasan yang rasional, realistis, bisa diserap otak, profeisonal, bertanggung jawab, serta sesuai dengan prinsip. Dari semua itu, yang menjadi kerangka dasarnya adalah prinsip. Penting sekali bertopang pada prinsip yang benar dan prinsip yang kuat.

Pilihan-pilihan itu akan terus ada dan terus menghantui setiap pilihan-pilihan anak manusia. I love it but i don’t need it. “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah:216). Munkin bukan hanya benci, namun bisa juga selera. Misalnya kita suka dengan selera pedas, namun ternyata pada kondisi ini tidak baik untuk lambung. Kita tidak suka makan sayur, namun ternyata sekarang kita sedang butuh serat.

begitulah, semoga kita bisa memilih dengan benar dan memilih yang benar.

Selamat menikmati masa-masa kampanye calon gubernur Sumatera Selatan, dan nikmaati pemilihannya pada 4 September 2008, pilihan masa depan provinsi ini ada ditangan anda.

ditulis setelah selesai menonton debat cagub sumsel, dan dalam harap-harap cemas menunggu random skripsi minggu depan, tidak bisa memilih, karena dipilihkan oleh takdir random.Semoga dipilihkan yang terbaik!

Advertisements

4 thoughts on “I Love it but I don’t need it, and this is the truth

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s